Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sifat Kekanak-kanakan, Nikmat Tipu Daya

admin • Jumat, 15 Mei 2026 | 02:49 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Apabila engkau ketika diberi merasa gembira karena pemberian, dan bila dicegah merasa sempit engkau karena pencegahan, maka ketahuilah yang demikian itu bukti masih adanya sifat kekanak-kanakan padamu, dan belum bersungguh-sungguh engkau dalam sifat kehambaanmu.”

Hikmah yang ke-144 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah

       ***

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, pemberian oleh Allah berupa nikmat duniawi, seperti kekayaan, kepangkatan, kemuliaan, kesehatan, puji-pujian dan lainnya, apabila lapang hati dan gembira, dan apabila diambil nikmat-nikmat tersebut dan diganti dengan kehinaan, sakit, celaan dan menjadi sempit hati kita dan berduka cita, maka itu adalah bukti bahwa masih ada sifat kekanak-kanakan.

Karena anak-anak itu akalnya tertahan pada pandangannya, jika dia melihat sesuatu yang dia cintai dia lapang dan gembira, dan jika dia melihat yang dia tidak suka dia sempit hatinya, sedih dan menangis.

Kalau kita yang dewasa ini masih seperti itu sifatnya, maka sifat kita masih kekanak-kanakan, dan itu bukti bahwa kita belum benar dalam kehambaan kita kepada Allah Swt, dan memang inilah yang berlaku pada kita umumnya.

Anak-anak memegang pisau dan dia suka, tapi saat kita rebut karena berbahaya baginya maka dia menangis. Kenapa? Karena dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika bermain dengan pisau, bisa melukai dirinya dan orang lain.

Allah berfirman yang artinya: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui" (QS. Al-Baqarah: 216).

Diberi kekayaan, padahal kekayaan sering kali menyesatkan seseorang yang tidak memiliki fondasi iman yang kuat. Boleh jadi kita mendapati seorang yang dulunya baik, lemah lembut begitu dia menjadi kaya maka berubah karena lupa diri. Kita suka kekayaan akan tetapi malah itu yang bisa membawa kita ke neraka.

Sehingga ketika kita mengaku hamba Allah, maka sifat kehambaan itu menuntut samanya hati dan tetapnya hati pada setiap apa yang datang dari Allah Yang Maha Tahu, Penyayang dan Bijaksana.

Orang yang benar kehambaannya, apapun yang datang dari Allah tidak mengubah hatinya, baik itu nikmat ataupun cobaan. Jika diberi kenikmatan dia bersyukur dan waspada barangkali ini adalah cobaan dari Allah. Sehingga dia tetap ingat kepada-Nya dan menggunakan nikmat itu di jalan Allah.

Semisal seorang yang dahulunya suka beribadah dan takwa, kemudian mendapat nikmat, justru turun ketakwaannya dan lalai, berarti nikmat itu adalah tipu daya dan ujian. Dulu suka salat berjamaah, menuntut ilmu, begitu dapat kedudukan berubah karena kesibukan, maka ini menunjukan kedudukan itu adalah tipu daya. Setiap nikmat yang membuat kita lalai dan hambar beribadah, maka nikmat itu adalah makrullah (tipu daya). Itu yang ditakutkan oleh para ulama, bahkan Nabi dan para sahabat.

Di zaman Sayyidina Umar merebut Persia, maka sangat banyak harta benda yang menjadi rampasan perang. Disampaikan kepada Umar tentang keberhasilan ini maka harta ini akan dibagi (nikmat Allah). Melihat itu apa perkataan Sayyidina Umar?,

 “Ya Allah.. Engkau mencegah ini dari Rasul dan Nabi-Mu, padahal dia lebih Engkau cintai daripada aku, padahal dia lebih mulia daripadaku, tapi tidak Engkau beri harta Persia ini. Dan tidak Engkau berikan kepada Abu Bakar (masa khalifah beliau) Engkau cegah itu Persia akan Abu Bakar, padahal Abu Bakar lebih Engkau cintai daripada aku, lebih mulia kedudukannya di sisi Engkau daripada aku. Aku berlindung dengan Engkau ya Allah.. bahwa itu Engkau berikan kepadaku untuk Engkau perdaya denganku. Kemudian Umar menangis.”

Beliau takut, karena Nabi dan Abu Bakar yang lebih dicintai Allah dan mulia di sisi Allah tidak dapat menaklukan Persia. Sehingga takut, jangan-jangan ini adalah tipu daya dan umpan yang membinasakan yang akan menghancurkan umat Islam.

Orang sekelas Sayyidina Umar saja takut, padahal Nabi bersabda: “Kalau seandainya ada nabi setelah ku maka Umar ibnu Khattab patut menjadi nabi.” (HR Imam Ahmad dan At Thirmidzi).

Ini menunjukan kedudukan Sayyidina Umar di sisi Allah sangat mulia dan beginilah seharusnya sikap orang yang berakal dan benar-benar hamba Allah, apabila menerima satu anugerah dari Allah maka dia bersyukur dan berhati-hati.

Maka ketika kita dicegah dari nikmat-nikmat dunia, tidak kaya, tidak punya kedudukan, maka hendaklah sabar dan ridha, serta yakin bahwa di belakang itu terdapat kebaikan yang banyak. Allahu a’lam. (*)

Editor : Arief
#Tarbiyah