Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sahabat Sejati, Orang yang Arif dengan Allah

admin • Jumat, 6 Maret 2026 | 10:59 WIB

H. Muhammad Tambrin (tengah)
H. Muhammad Tambrin (tengah)

               Oleh: H. Muhammad Tambrin
               Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

"Bukanlah sahabat yang sebenarnya, kecuali orang yang bersahabat denganmu sedangkan dia mengetahui aibmu, dan tidak ada yang demikian itu melainkan Tuhan engkau Allah Swt. Sebaik-baik sahabatmu adalah orang yang selalu memperhatikan kepentinganmu, bukan karena sesuatu yang diharap daripadamu untuk dirinya."

Hikmah yang ke-132 dari Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

              ****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, sahabat yang sebenarnya adalah sahabat yang segala aib kita dia tahu, tetapi dia selalu berbuat baik kepada kita, dan bila dia memerintahkan kepada kita, maka manfaatnya bukan untuknya tetapi untuk kita. Sahabat seperti tidak ada, mana ada orang yang tahu segala aib, bersahabat dengan segala sifat yang hina pada diri kita, sombong, angkuh, khianat, dusta, munafik, menipu. Apakah ada yang mau bersahabat kepada kita? Tentu tidak.

Tidak ada sahabat yang demikian itu, kecuali Allah Swt yang Maha Mengetahui segala kelemahan, keburukan dan kejahatan yang ada pada diri kita. Dan orang-orang yang berakhlak dengan akhlak Allah, mengenal Allah yang mau bersahabat dengan orang yang penuh dengan kejahatan, kebohongan dan kemunafikan.

Allah Swt dan orang-orang arif yang berakhlak dengan akhlak Allah, itulah sebaik-baik sahabat. Apabila engkau maksiat maka ditutupinya maksiat itu, apabila engkau minta uzur, dia terima maaf dan keuzuranmu.

Dalam hikmah ini ada dua perkara yang diingatkan oleh Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah. Pertama, bersahabat beserta Allah Swt dan bersahabat dengan ahlillah, orang yang berakhlak dengan akhlak Allah Swt dari orang yang arif dengan Allah.

Bersahabat beserta Allah menuntut adab, baik zahir maupun batin, setengahnya adalah malu terhadap Allah. Sebab Allah telah bersahabat kepada kita dengan segala kekurangan kita, tetap dekat dengan kita dan berbuat baik kepada kita, tinggal kita yang menjaga adab dengan Allah. Ketika ada orang yang sangat baik, perhatian dan mengetahui semua kelemahan kita, mestinya kita malu kepadanya.

Tersebut dari hadits Rasulullah Saw beliau bersabda bagi sahabat beliau: “Wahai sahabatku! Malulah kalian daripada Allah sebenar-benar malu. Sahabat menjawab: Wahai Rasulullah! Kami ini malu dengan Allah, Alhamdulillah.

Rasulullah bersabda: bermula malu daripada Allah dengan sebenar-benar malu itu ialah bahwa kamu jaga kepala dan isinya, jangan sampai pikiran-pikiran yang tidak menguntungkan di akhirat, dan jagalah perut dan sekelilingnya jangan sampai dimasuki perkara haram dan jelas syubhat, dan engkau ingat kubur dan kehancurannya. Siapa yang sudah melakukan demikian maka berarti dia malu daripada Allah sebenar-benar malu.”

Malu kepada Allah adalah menjaga diri jangan sampai melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt.

Bersahabat dengan orang arifin yang mau menemani dan berteman dengan kita dalam keadaan sejahat-jahat kita. Sekurang-kurangnya adab dengan mereka itu, bahwa engkau jangan mengitirad (mempersoalkan, Red) terhadap apa yang mereka lakukan dan katakan, serta jangan berburuk sangka dengan mereka.

Kalau ada kelakuan dan perkataan yang tidak sesuai dengan apa yang sudah kita pelajari dan tahu, maka serahkan saja kepada mereka, jangan mengkritik kepada mereka apalagi sampai berburuk sangka. Jika memang belum mampu menenangkan hati kita, maka kita boleh bertanya kepada mereka, untuk menenangkan hati kepada mereka.

Namun yang terbaik adalah menyerahkan perkara kepada mereka. Itulah yang terbaik, bahwa ilmu mereka lebih tinggi daripada aku. Itulah cara beradab dengan orang arif billah.

Bila sudah mengetahui bahwa paling baik orang yang bersahabat itu adalah Tuhan engkau dan orang yang berakhlak Tuhan, maka jangan bersahabat kepada selain keduanya. Tetapi bukan berarti tidak menghiraukan orang lain, tidak saling sapa dengan orang lain, bukan.

Artinya, jangan mengadukan urusan-urusan engkau kepada selain Allah dan kepada arifin, karena tidak ada artinya bahkan tambah rumit masalahnya.

Kalau kita lapor masalah kita kepada Allah, maka Allah akan menutupi siapapun tidak akan tahu, begitu juga kepada orang arifin. Jadi, andaikata masalahnya tidak selesai paling tidak orang lain tidak ada yang tahu.

Maka minta tolonglah kepada Allah dan arifin maka kita akan terbantu. Kalau kita minta tolong kepada selain keduanya, walaupun kita diberi pertolongan pun, tapi akan ada cerita-cerita di belakangnya karena kita minta tolong kepada selain keduanya.

Berkata sebagian ulama: “Uji manusia itu, niscaya engkau dapati mereka itu kalajengking semuanya”. Inilah alasan kita dilarang bersahabat kecuali dengan Allah dan orang-orang arif, karena selain itu manusia kalau kita perhatikan semua seperti kalajengking kalau terinjak maka akan menyengat. Tetap yang mereka sayang diri mereka sendiri.

Sehingga bila mencari persahabatan, maka bersahabatlah dengan orang yang makrifat dengan Allah dan jangan bersahabat dengan selain mereka, karena lebih banyak daripada manfaatnya.

Bersahabat dengan arifin juga hakikatnya bersahabat dengan Allah Swt. Karena mereka berakhlak dengan akhlak Allah Swt, karena perkataan mereka menunjukan engkau kepada Allah Swt. Sehingga kesimpulan hikmah ini adalah sahabat yang sejati adalah hanya dua. Allah dan orang-orang yang berakhlak dengan akhlak Allah Swt. (*)

Editor : Arief
#Tarbiyah