RADAR BANJARMASIN.JAWAPOS.COM – Kontroversi lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang dinyanyikan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, masih terus bergulir. Kali ini, penyanyi Rossa ikut memberikan tanggapan yang membuat perhatian publik kembali tertuju pada polemik tersebut.
Pelantun Pudar itu menyampaikan komentarnya melalui kolom unggahan Atalia Praratya di media sosial. Dengan kalimat singkat bernada satire, Rossa menyindir sosok penyanyi lagu yang tengah menuai kecaman tersebut.
"Judulna Lalaki Langit. Penyanyi: Lalaki Gering kitu ieu teh? (Judulnya Lalaki Langit. Penyanyinya laki-laki sakit, ya?)," tulis Rossa.
Komentar tersebut langsung ramai diperbincangkan warganet dan menambah panjang daftar kritik terhadap lagu yang diperkenalkan dalam acara Hajat Bumi di Linggamukti, Purwakarta.
Lagu itu awalnya dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur. Namun, isi liriknya justru menuai penolakan karena dinilai mengandung unsur yang merendahkan perempuan.
Salah satu penggalan lirik yang paling banyak dipersoalkan berbunyi, "Nuhun Gusti, Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki. Cacak mun jadi awewe, ES-Em-Pe kelas tilu, tos karuron tujuh kali."
Selain itu, terdapat lirik lain yang menyinggung penggunaan bra sehingga dianggap menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan candaan.
Sebelum komentar Rossa viral, Atalia Praratya sudah lebih dulu mengungkapkan keberatannya. Menurutnya, lagu tersebut sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Sunda yang menjunjung penghormatan terhadap perempuan.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia.
Ia menilai masih banyak pilihan kata dalam bahasa Sunda yang lebih indah dan bermakna untuk dijadikan karya, tanpa harus mengangkat isu biologis perempuan sebagai bahan candaan.
Atalia juga menyinggung perjuangan melawan budaya patriarki yang dinilai bertolak belakang dengan isi lagu tersebut.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" ungkapnya.
Di tengah derasnya kritik, Om Zein akhirnya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia menegaskan tidak pernah bermaksud merendahkan perempuan melalui lagu tersebut.
Om Zein menjelaskan, puisi yang kemudian dijadikan lagu itu telah ia tulis sejak 2020 sebagai refleksi atas pengalaman hidupnya. Meski demikian, polemik yang muncul membuat karya tersebut terus menjadi perbincangan di ruang publik.
Editor : Tia Lalita Novitri