RADAR BANJARMASIN.JAWAPOS.COM - Nama Dadan Hindayana kembali menjadi perbincangan setelah Presiden Prabowo Subianto resmi menggantinya dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 Juni 2026.
Pergantian tersebut dilakukan setelah pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan lebih dari satu tahun.
Selama menjabat, Dadan beberapa kali menyampaikan pernyataan yang memicu diskusi dan kontroversi di tengah masyarakat. Mulai dari pandangannya mengenai konsumsi susu hingga usulan pemanfaatan serangga sebagai sumber protein dalam program MBG.
Berikut lima pernyataan Dadan yang paling banyak mendapat perhatian publik:
1. Pengalaman Memberikan Dua Liter Susu per Hari
Pada Mei 2025, Dadan menceritakan pengalaman pribadinya saat membesarkan anak. Ia mengungkapkan bahwa kedua putranya terbiasa mengonsumsi hingga dua liter susu setiap hari sebagai bagian dari pemenuhan gizi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa jumlah tersebut bukan rekomendasi resmi pemerintah. Menurutnya, kisah tersebut hanya menjadi contoh mengenai pentingnya asupan nutrisi yang memadai untuk mendukung pertumbuhan anak.
2. Serangga Sebagai Alternatif Sumber Protein
Pernyataan lain yang memicu perdebatan muncul ketika Dadan membuka kemungkinan penggunaan serangga sebagai sumber protein dalam program MBG di daerah tertentu.
Menurutnya, beberapa wilayah di Indonesia memiliki kebiasaan mengonsumsi belalang, ulat sagu, atau jenis serangga lainnya. Karena itu, BGN lebih menekankan pemenuhan kandungan gizi dibanding menetapkan menu yang seragam secara nasional.
3. Pengadaan Motor Listrik untuk Operasional
BGN juga sempat menjadi sorotan setelah beredarnya informasi mengenai pengadaan motor listrik berlogo lembaga tersebut.
Menanggapi hal itu, Dadan menjelaskan bahwa kendaraan tersebut telah masuk dalam perencanaan anggaran sebelumnya dan ditujukan untuk mendukung aktivitas operasional petugas di lapangan yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG.
4. Pemanfaatan Jasa Event Organizer
Keputusan BGN menggunakan jasa event organizer (EO) juga sempat menuai pertanyaan dari masyarakat. Dadan beralasan bahwa lembaganya masih membutuhkan dukungan tenaga profesional untuk memastikan berbagai kegiatan berjalan sesuai standar.
Ia menilai pihak EO memiliki pengalaman dalam pengelolaan acara, koordinasi teknis, hingga manajemen risiko yang belum sepenuhnya dimiliki oleh organisasi yang masih relatif baru tersebut.
5. Wacana Perluasan Program ke Arab Saudi
Kontroversi lainnya muncul ketika Dadan mengungkapkan kemungkinan menjajaki implementasi program MBG bagi warga negara Indonesia yang berada di Jeddah, Arab Saudi.
Gagasan tersebut menuai beragam tanggapan karena sebagian pihak menilai fokus utama program seharusnya tetap diarahkan pada pemerataan layanan gizi bagi masyarakat di berbagai daerah Indonesia yang masih membutuhkan perhatian.
Dengan berakhirnya masa jabatan Dadan di BGN, berbagai kebijakan dan pernyataannya selama memimpin lembaga tersebut kembali menjadi bahan evaluasi dan perbincangan publik.
Versi ini sudah ditulis ulang dengan struktur, kalimat, dan narasi yang berbeda sehingga tidak sekadar copy-paste dari sumber asli.
Editor : Tia Lalita Novitri