Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jangan Keliru, Simak 3 Langkah Pencegahan Kebakaran di Kawasan Padat Penduduk

Zulvan Rahmatan • Selasa, 11 November 2025 | 11:59 WIB
TRAGEDI: Puing dan arang sisa peristiwa kebakaran di Kampung Gedang, Banjarmasin Tengah, pada Jumat (7/11). Dalam insiden ini, satu keluarga meninggal.
TRAGEDI: Puing dan arang sisa peristiwa kebakaran di Kampung Gedang, Banjarmasin Tengah, pada Jumat (7/11). Dalam insiden ini, satu keluarga meninggal.

BANJARMASIN - Lagi dan lagi, kebakaran merenggut korban jiwa. Teranyar pada Jumat (7/11/2025) lalu di Gang Binjai, Kampung Gedang, Banjarmasin Tengah, kebakaran menewaskan satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak.

Pengamat tata kota, Nanda Febryan Pratamajaya mengatakan mitigasi kebakaran di permukiman padat penduduk bukan tidak mungkin dilakukan, walaupun memang sulit.

Menurutnya, terdapat perbedaan pola pencegahan kebakaran yang mengacu karakter kawasan di sebuah wilayah.

"Saya khawatir yang diadopsi pemerintah adalah mitigasi permukiman komersil. Sedangkan cara penanganan di permukiman tradisional berbeda. Pemerintah harus membedakan caranya," ujarnya. Minggu (9/11/2025).

Menurut Ketua Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalimantan Selatan ini, mitigasi kebakaran di permukiman padat penduduk memerlukan pendekatan komprehensif, melibatkan aspek pencegahan individu, kesiapan komunitas dan dukungan infrastruktur dari pemerintah.

Berikut adalah tiga langkah-langkah utama mitigasi kebakaran versi pakar tata kota dan ruang:

1. Pencegahan di Tingkat Individu dan Rumah Tangga

Langkah paling krusial dimulai dari kesadaran setiap warga untuk mengurangi potensi sumber api di rumah masing-masing. 

Penggunaan Listrik yang Aman: Hindari penggunaan alat listrik yang berlebihan pada satu stopkontak (overload).

Kemudian periksa instalasi listrik secara berkala oleh ahli dan pastikan kabel tidak ada yang terkelupas atau rusak.

Pengawasan Penggunaan Kompor: Pastikan kompor (baik gas maupun minyak) diawasi saat digunakan dan matikan setelah selesai. Simpan tabung gas di tempat yang aman dan berventilasi baik.

Penyimpanan Bahan Mudah Terbakar: Jauhkan bahan-bahan yang mudah terbakar (seperti korek api, pemantik, tiner, atau bensin) dari jangkauan anak-anak dan sumber panas.

Perilaku Merokok: Berhati-hati saat merokok dan pastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang pada tempatnya.

Peralatan Proteksi Dini: Sediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di setiap rumah dan pasang alat pendeteksi asap (smoke detector). 

2. Kesiapan di Tingkat Komunitas dan Lingkungan

Kondisi permukiman padat penduduk, seperti jarak antar bangunan yang rapat dan akses jalan yang sempit, membuat api mudah menyebar. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan kolektif. 

Pembentukan Tim Relawan Kebakaran (Balakar): Bentuk dan latih tim tanggap darurat atau Barisan Relawan Kebakaran (Balakar) di tingkat RT/RW setempat, yang dapat bertindak cepat pada menit-menit awal kejadian.

Edukasi dan Simulasi Rutin: Lakukan sosialisasi dan pelatihan mitigasi kebakaran serta latihan evakuasi secara berkala untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Penyediaan Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul: Tentukan jalur evakuasi yang jelas dan titik kumpul yang aman, serta pastikan jalur tersebut tidak terhalang oleh barang-barang.

Pengelolaan Lingkungan: Jaga kebersihan lingkungan dari tumpukan sampah atau barang bekas yang mudah terbakar, serta tata ulang kabel listrik dan jaringan utilitas lain agar lebih rapi dan aman. 

3. Peran Pemerintah dan Infrastruktur

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menyediakan infrastruktur pendukung dan regulasi.

Penyediaan Akses Pemadam Kebakaran: Pemerintah perlu memastikan adanya akses jalan yang memadai (minimal 4 meter) agar mobil pemadam kebakaran dapat masuk dengan cepat ke lokasi kejadian.

Penyediaan Hidran: Pastikan ketersediaan hidran umum atau sumber air lainnya (seperti tendon air besar) di lokasi-lokasi strategis yang mudah dijangkau saat darurat.

Monitoring dan Penegakan Aturan: Lakukan monitoring berkala terhadap instalasi listrik di rumah-rumah kontrakan/kos, serta terapkan aturan terkait standar bahan bangunan yang lebih tahan api.

Program Bantuan: Sediakan program bantuan seperti bedah rumah atau penyediaan hunian sementara (rusun) bagi warga terdampak kebakaran. 

Kombinasi dari ketiga aspek ini sangat penting untuk mengurangi risiko dan dampak bencana kebakaran di permukiman padat penduduk.

Editor : Fauzan Ridhani
#pengamat tata kota #Pendekatan Komprehensif #kawasan padat penduduk #banjarmasin #pencegahan kebakaran