Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rasakan Jarujut Karya Lukisan di Rumah Anno 1925

Muhammad Helmi • Senin, 7 November 2022 | 16:45 WIB
BERAGAM: Sejumlah lukisan karya pelukis Kalsel dipamerkan di Rumah Anno 1925 dalam gelaran pameran seni bertema Jarujut. Pameran ini termasuk rangkaian dari gelaran Banjarmasin Art Week 2022. (Insert, sejumlah foto tunggal lukisan yang dipamerkan) FOTO:WA
BERAGAM: Sejumlah lukisan karya pelukis Kalsel dipamerkan di Rumah Anno 1925 dalam gelaran pameran seni bertema Jarujut. Pameran ini termasuk rangkaian dari gelaran Banjarmasin Art Week 2022. (Insert, sejumlah foto tunggal lukisan yang dipamerkan) FOTO:WA
Ada 26 pelukis dengan puluhan karyanya yang terpampang. Bersatu dalam sebuah gelaran yang disebut 'Jarujut'

Tematik dan selektif. Itulah puluhan karya lukis dengan tema 'Jarujut' yang ditampilkan di Rumah Anno 1925. Berlokasi di Jalan Pierre Tendean, Kecamatan Banjarmasin Tengah.

Kegiatan ini digagas oleh Dewan Kesenian Banjarmasin. Dikemas dalam gelaran bertajuk Jukung Barenteng Banjarmasin Art Week 2022.

Tak tanggung-tanggung, rangkaiannya kegiatannya digelar sepekan penuh. Sejak tanggal 4 hingga 10 November mendatang. Berpusat di kawasan Siring Pierre Tendean. Ada diskusi, penampilan seni, hingga pameran lukisan.

Banjarmasin sebenarnya baru diguyur hujan deras kemarin (6/11) petang. Tapi, suasana pameran lukisan di rumah Anno 1925 itu tetap hangat. Pengunjung dimanjakan dengan ragam lukisan berbagai aliran. Lukisan yang ditampilkan rata-rata berukuran besar.

Mayoritas lukisan yang dipajang dari pelukis Kalsel. Bertema sejarah dan budaya masyarakat, sosial politik negara, hingga alam dan lingkungan ditampilkan sedemikian rupa.

Kenapa tema yang diangkat itu jarujut? Mengutip catatan sang kurator Badri Hurmansyah, ini merefleksikan pemikiran pelukis terhadap tema. Ia bilang sejauh yang dirasakan, kemajuan seni daerah hanya berfokus pada upaya penciptaan karya seni saja.

Kurang adanya keterbukaan terhadap arus pemikiran seni yang begitu pesat. Baik dalam perbedaan, persaingan, dialog, pasar, manajemen, dan sikap estetik kesenian maupun politis-sosialnya.

Kendati demikian, di tengah ragam persoalan hingga banyaknya hambatan, seni lukis di Kalsel dan Banjarmasin khususnya justru tetap hidup dan melahirkan seniman-seniman hebat.

"Pameran kali ini juga menghadirkan karya pelukis lain yang menggugah," jelasnya. "Entah masyarakat akan tergoda, atau seniman yang terpancing mengerahkan daya kreatif atas karyanya, jarujut (getaran, red) menyambungkan perasaan keduanya," tulisnya. "Inilah getaran yang coba dihadirkan pada ragam rupa karya dalam tali tematik pada pameran ini," tegasnya.

Ketua Dewan Kesenian Kalsel, Hajariansyah mencontohkan saat melihat karya Akhmad Noor berjudul 'Self Portrait'. Lukisan itu membawa suasana muram dari situasi pandemi. Isi pemberitaan semua media menjadi teror psikososial.

Suasana panik menguasai hampir seluruh bagian dunia. "Kepanikan itu dilukis melalui ketegangan mimik wajah potret diri pelukisnya," ucap Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin yang menemani Radar Banjarmasin melihat-lihat lukisan itu, kemarin (6/11).

"Lengkap dengan masker yang menutup muara saluran pernapasannya, plus gesture tangan yang tak terarah dalam kontrol diri umumnya," jelasnya.

Detail bidang-bidang lukisan diisi dengan potongan koran, dengan tajuk yang menguasai headline koran-koran Indonesia dan dunia. "Ia kutip bagian-bagian yang berkaitan langsung dengan pengalaman dan kenangannya," tambahnya.

Di luar dari itu, tentu ada karya lain. Misalnya karya yang memperlihatkan kemajuan dan potensi yang menarik. Contoh, pada karya Nanang M Yus yang berjudul Duniaku. Tampak portrait seorang perempuan muda berambut hitam panjang.

Di samping wajah perempuan itu tampak seekor kupu-kupu terbang. Menurut Hajriansyah, karya itu menampilkan kecenderungan baru. Termasuk pula pada karya Syam Indra Pratama, berjudul 'Memanen Harapan'.

"Karya-karya ini bagi saya sendiri bernilai, karena telah mencoba untuk keluar dari kejumudan pasar yang sebenarnya tak banyak berkembang dalam sekian dasawarsa terakhir di dunia seni lukis Kalsel," ujarnya.

Kendati demikian, Hajriansyah meyakini pilihan itu tentu suatu hal yang lazim dalam upaya tumbuh kembang dalam hal berkesenian. "Karya yang ditampilkan mencerminkan pandangannya tentang fenomena yang ditangkap. Direfleksikan dan ekspresikan dari kehidupannya," ucapnya. "Kepekaan intuisi pelukis diolah menjadi karya yang mempunyai greget," tambahnya.

"Atau semacam rasa pada bilah joran yang menghubungkan sambaran ikan di dalam air dengan tangannya. Inilah yang disebut jarujut," jelasnya.

Lantas, bagaimana tentang pasar seni lukis? Hajriansyah bilang pameran yang hanya dibuat satu atau dua kali dalam setahun tentu masih kurang.

Kalau menumbuhkan pangsa pasar hendaknya pameran digelar lebih rutin. Tentu dengan konsep yang beragam pula. "Saat ini kawan-kawan sedang konsen membuat jaringan kolektor pencinta seni. Jadi, pelukis juga perlu support dari kolektor," jelasnya.

Hajriansyah mengatakan bahwa kolektor seni lukis di Kalsel memang ada. Namun, jumlahnya belum banyak.

Kendati demikian, beberapa waktu terakhir, paling tidak sejumlah kolektor nasional kini juga datang dan melirik sejumlah pameran seni lukis yang digelar di Kalsel. Di luar dari itu, Hajriansyah pribadi menilai bahwa para seniman telah bersungguh-sungguh dalam membuat karya. Ia pun berharap makin subur pula para apresiatornya.

Hajriansyah menekankan bahwa rangkaian kegiatan ini hanyalah awal dari kegiatan lainnya. "Tentu tidak hanya seni lukis. Tapi, juga event kesenian lainnya," tutupnya.(war/az/dye)
Editor : Muhammad Helmi
#Ragam Info Event