Meski Marak Karhutla dan Kabut Asap Mulai Muncul, Kasus ISPA di Banjarbaru Diklaim Menurun

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 12:40 WIB
Siswa sekolah di Banjarbaru menggunakan masker menghindari paparan dampak Karhutla. (sheilla/radar banjarmasin) 
Siswa sekolah di Banjarbaru menggunakan masker menghindari paparan asap dampak Karhutla. (sheilla/radar banjarmasin) 

 
‎RADAR BANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) marak terjadi di sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru. Seperti di Kecamatan Liang Anggang, Landasan Ulin, hingga Banjarbaru Utara. 

‎Imbasnya, kabut asap sempat memicu keluhan warga hingga mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Syamsudin Noor. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru mencatat belum ada lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

‎Berdasarkan data pemantauan surveillance hingga pekan ke-26 tahun 2026, grafik kasus ISPA di Kota Idaman justru menunjukkan tren penurunan dibanding awal tahun.

‎Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, dr. Ani Rusmila, mengungkapkan bahwa angka kasus ISPA pada Juni 2026 tercatat sebanyak 2.530 kasus. 

‎Angka ini merosot signifikan jika dibandingkan dengan Januari 2026 yang menembus 4.405 kasus.

‎“Kalau dari hasil analisa, sampai pekan  ke dua puluh enam memang belum ada kenaikan yang signifikan. Dibandingkan dengan kasus ISPA di Januari 2026 sebanyak 4.405 kasusnya. Di bulan Juni masih 2.530,” beber Ani.

‎Ia menambahkan bahwa hingga pertengahan Juli pun angkanya belum melebihi bulan sebelumnya, di mana penurunan tersebut dinilai wajar karena Banjarbaru baru memasuki awal musim kemarau. 

‎Namun, ia meminta masyarakat tidak lengah mengingat tim pemantau mencatat ada 52 titik karhutla yang tersebar di Banjarbaru.

‎“Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada September mendatang, meskipun mengalami penurunan dibanding awal tahun kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat melalui puskesmas di Banjarbaru,” ucapnya.

‎Guna mengantisipasi lonjakan kasus saat puncak kekeringan, Dinkes Banjarbaru gencar melakukan upaya promotif dan preventif melalui puskesmas-puskesmas setempat.

‎ Masyarakat diimbau bijak dalam beraktivitas saat kualitas udara memburuk akibat asap.

‎“Prinsipnya kita melakukan pencegahan dengan mengupayakan yang pertama mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau memang ternyata di luar berasap tentunya kita menahan diri dulu untuk tidak keluar rumah,” katanya.

‎Ia juga meminta masyarakat agar selalu memakai masker jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela ketika asap cukup tebal, memperbanyak minum air putih, mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, menjaga daya tahan tubuh, serta tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah yang dapat memperburuk kualitas udara.

‎Selain itu, pihak Dinkes mewanti-wanti perlindungan ekstra bagi kelompok rentan yang paling berisiko terdampak paparan asap, seperti balita, anak usia sekolah, lansia di atas 60 tahun, ibu hamil, penderita asma, penderita penyakit jantung atau paru lainnya, serta masyarakat yang bekerja di lapangan.

‎“Jika muncul gejala seperti batuk, sesak napas, demam, atau nyeri dada yang tidak membaik, warga diminta segera ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit,” tegasnya.

‎Hingga saat ini pun, Dinkes belum menerima laporan adanya peningkatan kasus ISPA secara khusus di satu wilayah puskesmas tertentu karena laporan dari seluruh puskesmas rutin dianalisa setiap minggu.

‎“Kita berharap kabut asapnya jangan tambah tebal ya. Jadi berharapnya seperti itu dan kita masih bertahan dalam posisi sekarang,” pungkasnya.

Editor : M Oscar Fraby
Kabut Asap ispa banjarbaru