RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Kebakaran lahan mulai bermunculan di sejumlah titik di Kota Banjarmasin. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin meningkatkan kewaspadaan dengan memetakan wilayah rawan, serta menyiapkan langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.
Sekretaris BPBD Kota Banjarmasin, Budi Fitriadi mengatakan berdasarkan hasil pemantauan, kebakaran lahan sejauh ini terjadi di dua kecamatan, yakni Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Utara. Salah satunya di Jalan Pangeran Hidayatullah. "Berdasarkan beberapa kebakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Utara, pengawasan di kawasan yang memiliki vegetasi kering terus kami perketat. Dugaan sementara penyebabnya akibat puntung rokok," ujarnya, Selasa (21/7).
Menghadapi puncak musim kemarau, BPBD menargetkan penetapan status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada awal Agustus mendatang. Sebelum status tersebut ditetapkan, BPBD akan menggelar rapat koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, dan organisasi perangkat daerah terkait.
Setelah status siaga diberlakukan, Posko Siaga Karhutla akan diaktifkan. Personel gabungan dari BPBD, TNI, dan Polri akan disiagakan untuk mempercepat penanganan jika terjadi kebakaran maupun kabut asap.
Di tingkat provinsi, BPBD Kalimantan Selatan telah menetapkan status siaga darurat karhutla, dan mengaktifkan posko gabungan di Rumah Singgah Dinas Sosial, kawasan Lingkar Selatan. BPBD Kota Banjarmasin tinggal menunggu instruksi untuk bergabung dalam pelaksanaan tugas di posko tersebut.
Selain memperkuat kesiapsiagaan di lapangan, BPBD juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui media sosial. Informasi mengenai kondisi kualitas udara diperbarui setiap hari sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan sekaligus mencegah kebakaran lahan akibat kelalaian manusia. "Kami intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk melalui media sosial," sebut Budi.
Kualitas Udara Masih Aman
Meski kebakaran lahan dan kabut asap mulai terjadi di Banjarbaru serta sejumlah daerah lain, BPBD memastikan kualitas udara di Kota Banjarmasin masih berada dalam kondisi aman. Pemantauan dilakukan melalui Stasiun Pemantau Kualitas Udara milik Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Hingga kini, hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara masih berada pada kategori baik. "Dampak asap dari kabupaten/kota tetangga sampai sekarang belum ada. Hasil pemantauan kualitas udara juga masih baik," jelas Budi.
Tak hanya itu, BPBD juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin untuk menyiapkan berbagai skenario apabila kualitas udara memburuk. Langkah antisipasi tersebut antara lain pembatasan jam belajar di sekolah, hingga kewajiban menggunakan masker bagi masyarakat. "Masker yang kami miliki masih mencukupi. Jika nantinya masyarakat terdampak asap, tentu akan kami bagikan," katanya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin juga memastikan alat Air Quality Monitoring System (AQMS) mampu mendeteksi penurunan kualitas udara akibat kabut asap kiriman dari karhutla di luar daerah. Namun, untuk sementara hasil pemantauan belum dapat dipublikasikan, karena alat masih menjalani proses kalibrasi. AQMS saat ini terpasang di halaman Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin, Jalan Kayu Tangi II, Kelurahan Pangeran, Banjarmasin Utara.
Sekretaris DLH Kota Banjarmasin, Wahyu Hardi Cahyono menjelaskan AQMS memantau berbagai parameter pencemar udara, seperti partikulat halus PM2.5, PM10, sulfur dioksida (SO?), karbon monoksida (CO), hingga parameter pencemar lainnya. "Kalau memang ada asap kiriman masuk ke Banjarmasin, tentu akan terdeteksi. Misalnya konsentrasi PM2.5, PM10, atau CO meningkat. Karena di Banjarmasin tidak ada hutan yang terbakar, maka jika terjadi peningkatan itu bisa menjadi indikasi adanya kabut asap kiriman," ujarnya, Selasa (21/7).
Meski demikian, Wahyu mengatakan data dari AQMS belum bisa dijadikan acuan resmi karena perangkat tersebut masih dalam tahap kalibrasi usai penggantian sejumlah komponen pada April lalu. Menurutnya, hasil pembacaan sementara menunjukkan angka yang belum normal. Kondisi itu telah dilaporkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai pihak yang memasang sekaligus menangani sistem tersebut. "Sudah kami konfirmasi ke kementerian. Mereka meminta hasilnya sementara jangan dipublikasikan dulu karena pembacaannya masih error. Nilainya terlalu rendah, dan belum menggambarkan kondisi sebenarnya," jelasnya.
Di luar kendala tersebut, Wahyu memastikan kualitas udara di Kota Banjarmasin secara umum masih berada dalam kategori baik. Hal itu tercermin dari nilai Indeks Kualitas Udara (IKU) yang selama ini berada di kisaran 78 hingga 80, lebih tinggi dibanding rata-rata sejumlah daerah lain di Kalimantan Selatan.
Ia menambahkan, data AQMS menjadi salah satu acuan penting pemerintah dalam menentukan langkah mitigasi pencemaran udara karena mampu mendeteksi partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 yang tidak terlihat oleh mata. "Debu ukuran PM2.5 atau PM10 itu tidak selalu terlihat secara kasat mata, tetapi bisa terbaca oleh alat. Dari situ kami bisa mengetahui apakah kualitas udara masih aman atau sudah perlu diwaspadai," pungkasnya
Editor : Arief