RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Gangguan jaringan internet yang memengaruhi sistem barcode MyPertamina di SPBU Loktabat, Banjarbaru, Senin (15/6) malam, memicu antrean truk pengangkut barang hingga sekitar satu kilometer.
Dampaknya tidak hanya menghambat pengisian solar subsidi, tetapi juga mengganggu distribusi logistik dan menyebabkan penyempitan arus lalu lintas di Jalan Ahmad Yani Km 33-34.
Pantauan di lapangan hingga pukul 21.30 WITA menunjukkan puluhan truk tronton dan dump truck masih memenuhi bahu jalan hingga satu lajur lambat.
Antrean kendaraan membentang dari area SPBU Loktabat hingga mendekati pertigaan Jalan RO Ulin.
Salah seorang sopir truk asal Karang Intan, Masrani, mengaku telah mengantre sejak pukul 09.00 WITA. Namun hingga malam hari, kendaraannya belum juga mendapat giliran mengisi solar subsidi.
“Katanya ada gangguan internet. Karena sekarang pakai sistem barcode, jadi meski solar sudah ada di SPBU, antrean tidak bisa jalan,” ujarnya.
Lamanya antrean berdampak langsung terhadap aktivitas distribusi barang. Sejumlah sopir mengaku jadwal pengiriman menjadi molor karena sebagian besar waktu kerja habis untuk menunggu giliran pengisian BBM.
Tiang Kabel Roboh Ganggu Sistem
Petugas SPBU Loktabat, Aulia, membenarkan gangguan layanan terjadi akibat terputusnya koneksi internet yang digunakan untuk mengoperasikan sistem barcode MyPertamina.
Menurutnya, gangguan dipicu robohnya salah satu tiang kabel jaringan internet yang melayani kawasan tersebut.
“Informasinya ada tiang kabel internet yang roboh. Dampaknya langsung berimbas ke sistem pelayanan kami di sini,” katanya.
Pihak SPBU telah berkoordinasi dengan penyedia layanan internet agar proses perbaikan dapat segera dilakukan sehingga pelayanan kembali normal.
Ritase Berkurang, Pendapatan Sopir Menurun
Selain menghambat distribusi logistik, antrean panjang juga berdampak pada pendapatan sopir angkutan barang.
Fahri, sopir truk asal Karang Intan, mengaku jumlah perjalanan yang mampu diselesaikannya dalam sepekan terus menurun akibat waktu tunggu yang semakin panjang di SPBU.
“Biasanya dalam seminggu bisa tiga sampai empat rit. Sekarang dapat dua rit saja sudah syukur. Banyak waktu habis untuk mengantre di SPBU,” ungkapnya.
Hingga menjelang tengah malam, antrean kendaraan berat masih terlihat padat di sepanjang Jalan Ahmad Yani di sekitar SPBU Loktabat. Kemacetan sesekali terjadi ketika truk yang baru datang berusaha masuk ke barisan antrean.
Para sopir berharap tersedia mekanisme layanan cadangan ketika sistem barcode MyPertamina mengalami gangguan sehingga distribusi solar subsidi tetap berjalan dan tidak menghambat aktivitas logistik maupun pendapatan pengemudi.
“Kalau sistem sedang bermasalah, semoga ada solusi darurat agar kami tidak harus menunggu sampai belasan jam seperti ini,” harap Masrani. (*)
Editor : M. Ramli Arisno