Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hantavirus Mengintai, Dinkes Banjarmasin Minta Warga Waspadai Tikus

Endang Syarifuddin • Selasa, 12 Mei 2026 | 14:04 WIB
JAGA KEBERSIHAN: Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik menyikapi hantavirus. Warga juga diminta menjaga kebersihan lingkungan.(Foto: Maulana/Radar Banjarmasin)
JAGA KEBERSIHAN: Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik menyikapi hantavirus. Warga juga diminta menjaga kebersihan lingkungan.(Foto: Maulana/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Munculnya kasus hantavirus di Indonesia menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin.

Meski belum ditemukan kasus di Kalsel, masyarakat tetap diminta waspada terhadap penyebaran virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus tersebut.

Plt Kepala Dinkes Kota Banjarmasin dr. Dwi Atmi Susilastuti mengatakan, hantavirus merupakan penyakit yang perlu diwaspadai agar tidak menyebar luas. Namun, masyarakat juga diminta tidak panik berlebihan.

“Walaupun sudah ditemukan di beberapa wilayah Indonesia sejak 2024 hingga 2026, hantavirus ini belum menjadi pandemi baru. Penularannya juga masih bersifat sporadis atau jarang terjadi pada manusia,” ujarnya, Senin (12/5/2026) siang.

Menurutnya, hingga kini belum ada laporan kasus positif hantavirus di Banjarmasin maupun Kalsel. Namun kewaspadaan tetap diperketat, terlebih Kalimantan Barat (Kalbar) yang merupakan wilayah tetangga sudah menemukan kasus tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, tercatat ada 23 kasus hantavirus di sembilan provinsi di Indonesia. Di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, NTT, Kalimantan Barat hingga Sulawesi Utara.

Atmi, demikian sapaannya menjelaskan, hantavirus tergolong penyakit serius karena dapat menyebabkan gangguan ginjal hingga infeksi paru-paru berat. Tingkat kematiannya bahkan disebut mencapai 5 sampai 15 persen pada jenis infeksi tertentu.

Virus ini ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. Penularan terjadi saat manusia menghirup udara yang telah terkontaminasi urin, kotoran, atau air liur tikus yang mengering.

“Lingkungan kotor dan banyak tikus memang menjadi faktor risiko utama penyebaran hantavirus,” terangnya.

Area seperti gudang yang jarang dibersihkan, loteng, bangunan kosong hingga kawasan terdampak banjir disebut menjadi lokasi berisiko tinggi penyebaran virus tersebut.

Gejala awal mirip flu biasa. Mulai dari demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah hingga tubuh lemas. Pada kondisi berat, penderita dapat mengalami gangguan ginjal, batuk dan sesak napas.

Lalu bagaimana cara antisipasinya? Dinkes telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan hantavirus kepada fasilitas kesehatan.

Puskesmas dan rumah sakit juga diminta siaga mendeteksi pasien suspek. Selain itu, masyarakat diimbau rutin menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membersihkan kotoran tikus dalam kondisi kering.

“Basahi dulu dengan disinfektan agar debunya tidak beterbangan dan terhirup,” jelasnya.

Warga juga diminta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

“Yang penting tetap tenang, jangan panik. Fokus pada perilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin Muhammad Isnaini meminta Dinkes bergerak cepat memberikan edukasi secara masif kepada masyarakat terkait hantavirus yang mulai menjadi perhatian nasional.

“Karena ini masih informasi baru bagi masyarakat, Dinkes harus aktif menyampaikan penjelasan sedetail mungkin. Mulai dari apa itu hantavirus, cara penularannya, gejalanya, sampai langkah pencegahannya,” ujarnya.

Ia menilai sosialisasi tidak cukup hanya melalui media sosial (medsos), tetapi juga harus melibatkan puskesmas, tenaga kesehatan hingga perangkat kelurahan agar informasi benar-benar sampai ke masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat baru tahu setelah ada kasus,” katanya.

Selain itu, DPRD juga meminta Pemko memperkuat pengendalian tikus dan menjaga kebersihan lingkungan, terutama di kawasan padat penduduk maupun daerah rawan banjir.

“Ini bukan hanya urusan kesehatan, tapi juga kebersihan lingkungan kota. Kalau lingkungan bersih dan pengelolaan sampah baik, risiko penyebaran penyakit juga bisa ditekan,” pungkas Isnaini.

Editor : Sutrisno
#banjarmasin #virus