Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Penanganan Banjir Banjarmasin Dipetakan, Ini Hasilnya...

Zulvan Rahmatan • Rabu, 14 Januari 2026 | 11:43 WIB

 

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin memaparkan peta rencana penanganan banjir skala kawasan yang disusun berdasarkan Wilayah Pengendalian Genangan (WPG).
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin memaparkan peta rencana penanganan banjir skala kawasan yang disusun berdasarkan Wilayah Pengendalian Genangan (WPG).

BANJARMASIN — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin memaparkan peta rencana penanganan banjir skala kawasan yang disusun berdasarkan Wilayah Pengendalian Genangan (WPG). Paparan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi Pemerintah Kota Banjarmasin bersama Kantor Staf Presiden (KSP) di Aula Kayuh Baimbai, Selasa (12/1) petang.

Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah menyebut terdapat empat WPG yang menjadi prioritas utama penanganan berbasis National Urban Flood Resilience Project (NUFReP). WPG pertama berada di kawasan Sungai Guring, Jalan Ahmad Yani–Jalan Bumi Mas. Sungai ini dinilai tidak lagi berfungsi sebagai pengendali banjir. “Sungai ini benar-benar tidur, tidak pengaruh terhadap pasang surut. Sungai Guring rencananya bermuara ke Sungai Pekapuran,” ujarnya.

WPG kedua berada di wilayah Sungai Pemurus, Jalan Pemurus–Jalan Beruntung. Kawasan ini ditargetkan dapat terkoneksi dengan Sungai Guring, Sungai Pekapuran, hingga Sungai Kelayan. “Itu anak Sungai Pemurus dan sekitarnya sampai ke sejumlah sungai. Nah ini juga kawasan-kawasan di genangan banjir,” terang Suri.

WPG ketiga berada di Sungai Zafry Zamzam, Jalan Mulawarman–Zafry Zamzam, yang selama ini menjadi kawasan langganan genangan. “Ini jadi perhatian saat ini, semua tergenang. Karena kalau Kabupaten Banjar banjir, yang tergenang pasti juga ke Banjarmasin,” ungkapnya.

Sementara WPG keempat adalah kawasan Sungai Veteran. Penanganannya akan diselaraskan dengan program Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III.

Untuk tiga WPG awal, jenis penanganan meliputi rekonstruksi dan rehabilitasi jalan, pembangunan dan peningkatan drainase, rehabilitasi jembatan, penguatan tebing atau siring, normalisasi dan pengerukan sungai, serta penyediaan pompa portabel.

512 Sungai dan Drainase Kota

Berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota tahun 2025, Banjarmasin memiliki 512 sungai beserta anak sungai yang berfungsi sebagai drainase tersier, sekunder, dan primer, dengan total panjang jaringan sekitar 409.522 meter. “Sungai besar di Banjarmasin berfungsi ganda sebagai aliran sungai dan drainase utama kota,” jelas Suri.

Bangunan Hambat Normalisasi

Suri mengakui salah satu kendala utama normalisasi sungai adalah maraknya bangunan di bantaran hingga badan sungai. Pemerintah pun berencana melakukan penertiban melalui surat edaran dan surat peringatan bertahap. “Kami diminta inventalisir bangunan-bangunan yang ada di badan sungai. Diberikan surat peringatan 1, 2 dan 3 untuk pemilik melakukan penataan kembali,” tegasnya.

Ia berharap masyarakat terdampak banjir dapat bersikap kooperatif. “Kami harap masyarakat juga merasa dampak banjir, sehingga bisa sukarela mau membuka rumah yang tidak ada alasan berada di badan sungai,” tegas Suri.

Rumah Pompa dan Kolam Retensi

Saat ini, Pemko Banjarmasin baru memiliki satu rumah pompa di Sungai Belasung dan Sungai Tatas. Fasilitas ini dinilai cukup menekan banjir di kawasan inti kota. “Sudah bisa menutup banjir. Kawasan-kawasan utama Banjarmasin itu sudah tidak tergenang lagi,” ucapnya.

Ke depan, PUPR mengusulkan penambahan rumah pompa dan pintu air di Sungai Kelayan, serta pembangunan kolam retensi di Banjarmasin Utara, Selatan, dan Barat. “Ini semua kebutuhan untuk kolam retensi. Termasuk beberapa pintu air dan rumah pompa yang memang bisa dilaksanakan skala-skala kawasan seperti ini,” jelas Suri.

Ia menilai kolam retensi menjadi solusi penyeimbang karena biaya operasional rumah pompa cukup besar.

Akar Masalah Banjir

PUPR mencatat, banjir di Banjarmasin dipicu pasang surut, limpasan air hujan, serta kiriman air dari daerah hulu. Kondisi diperparah oleh sekitar 60 persen bangunan yang mempersempit kawasan resapan air. “Baik itu jalanan ataupun juga bangunan-bangunan. Sehingga, tampungan airnya itu menjadi berkurang. Di sisi lain, kami menangani sungai yang bersifat lintas kabupaten,” paparnya.

Staf Khusus KSP, Timothy Ivan menegaskan kunjungan tersebut bertujuan menjembatani persoalan daerah ke tingkat pusat. “Kami ingin menjembatani persoalan yang dialami ke tingkat pusat. Insya Allah ini disampaikan ke kementerian terkait di Jakarta agar dapat solusi terbaik berkaitan dengan sungai dan sampah yang menyebabkan banjir,” pungkasnya.

Rencana Penanganan Banjir Skala Kawasan

1. Kawasan Jalan Ahmad Yani - Jalan Bumi Mas (Sungai Guring).
2. Kawasan Jalan Pemurus - Jalan Beruntung (Sungai Pemurus).
3. Kawasan Jalan Zafry Zamzam - Jalan Mulawarman (Sungai Zafry Zamzam).
4. Kawasan Sungai Veteran (untuk mendukung Program NUFRep).

Jenis Penanganan 3 Kawasan

- Rekonstruksi/rehabilitasi jalan.
- Pembangunan/peningkatan drainase.
- Rehabilitasi jembatan.
- Normalisasi/pengerukan sungai.
- Penyediaan pompa portable.

Jenis Penanganan Khusus Kawasan Veteran

- Normalisasi/pengerukan Sungai Bilu, Sungai Kuripan, Sungai Manggis, Sungai Gatot, Sungai Lubah, Sungai Keramat.
- Pembangunan tanggul Sungai Bilu.
- Peningkatan/pembangunan drainase Jalan Gatot Subroto dan Jalan Pramuka.

Rencana Penanganan Sungai & Drainase Tahun 2026

- Sungai Guring.
- Sungai Pemurus.
- Anak Sungai Pemurus.
- Sungai Kelayan.
- Sungai Gatot.
- Sungai Sutoyo S.
- Sungai Cendrawasih.
- Sungai Saka Permai.
- Samping Sungai Sipai.
- Drainase Sungai Pacinan.
- Drainase Sungai Pekapuran.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Banjir #NUFReP #banjarmasin #Sungai #pupr