Mobil terpaksa diparkir di luar kompleks karena akses utama terputus proyek drainase dan jalur alternatif tidak memungkinkan kendaraan roda empat melintas.
Kepala Bidang Drainase Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (PUPR) Kota Banjarmasin Harwita Oktania memastikan kondisi tersebut bukan karena penyempitan jalan, melainkan konsekuensi fase pekerjaan yang sedang berjalan.
Baca Juga: Pencairan Bonus Atlet Porprov XII Banjarmasin Belum Terealisasi
"Jalur alternatif sebenarnya sudah ada, hanya memang kecil. Mobil tidak bisa lewat karena harus dilebarkan dulu saat pemasangan bekisting," ujar Harwita, Jumat (12/12/2025).
Ia menjelaskan tahapan awal pekerjaan sudah selesai. Namun, progres berikutnya tersendat karena pasang air tinggi yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Kondisi ini membuat aliran drainase tidak stabil.
"Sebagian material sempat tergerus air. Itu yang membuat penyebaran dan pemasangan gorong-gorong di beberapa titik ikut terhambat," tambahnya.
Harwita memastikan gangguan akses yang terjadi hanya dampak teknis normal dari pekerjaan konstruksi.
"Di lapangan kami sudah optimal. Penyedia dan konsultan pengawas juga standby. Kebetulan pas pembuatan bekisting, memang titik itu terganggu. Ditambah pasang rob Senin–Selasa adalah yang tertinggi, jadi faktor alam turut memengaruhi," jelasnya.
Meski sempat tersendat, ia menegaskan pekerjaan kini kembali normal. "Hari ini sudah dibenahi, jembatan penghubung juga sudah dipasang.
Baca Juga: Duel Maut di Pemalongan Tala 1 Tewas! Polisi Periksa 11 Saksi
Tinggal dua kali pengecoran lagi. Penyedia menjanjikan seminggu ini selesai," ungkapnya.
Ke depan, PUPR berjanji lebih selektif memilih penyedia jasa, terutama ketika pekerjaan dilakukan pada musim hujan.
"Kami sudah wanti-wanti agar pekerjaan dioptimalkan. Ke depan, penyedia yang kurang perhatian akan dievaluasi," tegasnya.
Pihaknya juga menyiapkan lelang dini agar proyek tahun depan bisa dimulai lebih cepat dan tidak menumpuk di akhir tahun.
"Pemilihan penyedia rencananya kami lakukan awal tahun, mungkin Februari," ujarnya.
Anggota DPRD Soroti Pola Galian
Baca Juga: Stunting di Tanah Bumbu Turun! Tapi Satui Masih Jadi Sorotan Utama
Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin Muhammad Ridho Akbar menyoroti persoalan terhambatnya akses warga Kompleks Sungai Jarak akibat pekerjaan drainase yang digali serentak di banyak titik.
"Kami sangat menyayangkan pola kerja seperti itu. Galian dilakukan sekaligus di banyak bagian, padahal tidak harus begitu," ujarnya.
Menurut Ridho, metode penggalian semestinya bertahap agar tidak mengganggu mobilitas warga.
"Idealnya gali 10 sampai 20 meter, langsung dikerjakan, ditutup dan dicor. Setelah selesai baru lanjut ke titik berikutnya," terangnya.
Ia menilai pola seperti itu dapat meminimalkan potensi konflik antara warga dan pihak pelaksana di lapangan. "Kalau digali semua, pasti menimbulkan keresahan. Ini yang harus jadi perhatian serius," tegasnya.
Ridho berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi penting untuk proyek-proyek PUPR ke depan.
"Kami minta Dinas PUPR lebih ketat dalam mengawasi pola galian. Jangan sampai masyarakat yang terdampak justru jadi korban ketidakteraturan pelaksanaan di lapangan," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penyelesaian tepat waktu. "Mudah-mudahan pekerjaan ini bisa selesai sesuai jadwal, sehingga aktivitas warga kembali normal," tutupnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno