Banjarbaru kini menempati urutan kedua kasus HIV tertinggi di Kalsel dengan 688 kasus kumulatif, 99 di antaranya meninggal dunia.
"Ini bukan lagi angka. Ini alarm keras untuk Kota Banjarbaru," ujar Ketua KOPRI Banjarbaru, Wahyuni, dalam keterangan pers yang diterima pada Selasa (18/11/2025).
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi 3 Kali, Awan Panas Meluncur 5 Kilometer dari Puncak
Ia menegaskan, meningkatnya kasus bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi mencerminkan kerentanan sosial yang tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.
Temuan tersebut disampaikan KOPRI dalam audiensi dengan Pemerintah Kota Banjarbaru.
Selain HIV/AIDS, KOPRI juga menyuarakan keresahan atas maraknya pelecehan dan kekerasan seksual, terutama yang menyasar perempuan dan anak.
Baca Juga: Ayah Cabuli Anak Kandung, Terancam Kebiri Kimia dan Penjara Seumur Hidup
KOPRI menilai isu ini saling berkaitan dengan lingkungan sosial yang makin kompleks dan membutuhkan penanganan serius.
"Ini membutuhkan penanganan serius," tekannya.
Wahyuni berharap audiensi tersebut menjadi langkah awal kolaborasi strategis antara KOPRI PMII dan Pemko Banjarbaru untuk merumuskan kebijakan serta program preventif yang lebih konkret.
Baca Juga: SPBU Tabalong Kehabisan Pertamax 4 Hari, Pasokan Depo Pertamina Berkurang Drastis
Menanggapi hal itu, perwakilan Dinas Kesehatan Banjarbaru, Bintang, mengakui tingginya angka temuan juga dipengaruhi keberhasilan deteksi dini.
"Sebagian pasien memang berasal dari luar Banjarbaru. Tapi pengobatan tetap ditangani di sini, dan seluruhnya gratis," ujarnya.
Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Rizana Mirza, menyebut problem kekerasan seksual sebagai masalah yang paling sunyi tapi paling dekat.
Baca Juga: Closing TJSL PLN UPDL Banjarbaru Hadirkan Dampak Nyata bagi Petani
Pelaku sering justru berasal dari lingkaran terdekat korban, bahkan keluarga sendiri.
"Pelakunya sering justru berasal dari lingkaran terdekat korban. Keluarga sendiri. Itu yang paling memprihatinkan," ucapnya.
Menurut Mirza, banyak korban anak memilih diam karena takut dan malu untuk membuka peristiwa yang dialaminya. Bahkan, banyak yang tidak tahu harus melapor ke mana.
Baca Juga: Wakapolri Akui Masyarakat Lebih Percaya Damkar karena Respons Polisi Lambat
Melihat kondisi itu, KOPRI menilai pendekatan preventif tak boleh lagi bersifat normatif.
Mereka pun mulai menyiapkan program intervensi langsung, salah satunya pelatihan bela diri dasar untuk anak-anak di panti asuhan.
"Kalau bukan diri mereka yang melindungi, siapa lagi?" tegas Wahyuni. (*)
Editor : M. Ramli Arisno