Yang mengejutkan, mayoritas pelaku bertindak spontan karena dorongan sesaat seperti tersinggung, cemburu, atau dalam pengaruh alkohol, bukan pembunuhan berencana.
"Bukan pembunuhan berencana. Tetapi terjadi spontan. Karena pelaku terbiasa membawa senjata tajam," ungkap Direktur Reskrimum Polda Kalsel Kombes Pol Frido Situmorang dalam konferensi pers, Kamis (25/7/2025).
Polisi menetapkan 27 tersangka dengan rincian 26 laki-laki dan satu perempuan. Kasus tersebar di sembilan daerah dengan Banjarmasin dan Tabalong masing-masing 4 kasus, Kabupaten Banjar 3 kasus, Barito Kuala dan Tanah Bumbu masing-masing 2 kasus, serta Tanah Laut, Tapin, Balangan, dan Hulu Sungai Selatan masing-masing 1 kasus.
"Masalahnya sepele, tapi karena emosi dan alat sudah di tangan, maka pembunuhan bisa terjadi dalam sekejap," tegasnya.
Frido menyebut dua kasus masih dalam penyelidikan, yakni di Hulu Sungai Tengah dengan pelaku ayah dan anak yang buron ke hutan, dan satu lagi di Tanah Bumbu.
Salah satu kasus menyedihkan terjadi di Banjarmasin melibatkan tiga pelajar SMA yang saling berteman. "Korban dan pelaku saling kenal, berteman, tapi akhirnya satu nyawa melayang," ungkap Frido.
Kasus paling sadis terjadi di Paramasan Atas dengan tersangka berinisial FT (30) yang memenggal kepala korban. Tersangka kini diamankan bersama 25 tersangka lainnya.
Frido menyebut meningkatnya kekerasan berkaitan dengan minimnya kontrol emosi dan budaya membawa senjata tajam yang masih melekat di masyarakat.
Baca Juga: Gila! Ibu-Anak Pesta Sabu Bareng Tetangga di Tabalong, Polisi Bongkar Jaringan Narkoba Keluarga
Polda Kalsel mengimbau masyarakat tidak membiasakan membawa senjata tajam tanpa alasan jelas, menghindari minuman keras, dan orang tua lebih mengawasi pergaulan anak.
Editor : M. Ramli Arisno