Dokter hewan yang juga menjabat sebagai Kepala UPTD Rumah Potong Hewan Banjarmasin ini menjelaskan perbedaan mendasar kedua virus tersebut. "Kalau Corona manusia itu tipe A, yang di kucing itu tipe B. Grade-nya beda, DNA-nya juga beda. Jadi, tidak bisa menular ke manusia," tegas Annang kepada Radar Banjarmasin di kliniknya, Kamis (26/6).
Virus Corona pada kucing atau Feline Coronavirus (FCoV) sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia kedokteran hewan. Virus ini menyerang saluran pencernaan kucing dan dapat memicu gejala serius seperti mata sayu, lemas, dan perut membesar karena penumpukan cairan.
Baca Juga: Semifinal Turnamen Voli Kapolres Tanah Bumbu Cup 2025 Digelar Malam Ini
Annang menegaskan penularan virus ini sangat terbatas, hanya terjadi antarkucing. "Jadi, kalau satu kucing di rumah sakit, lebih baik dipisahkan dulu agar tidak menular ke yang lain," pesannya.
Yang membedakan Corona kucing dengan penyakit zoonosis lainnya adalah ketidakmampuannya menginfeksi manusia. "Berbeda dengan flu burung, yang bisa loncat dari unggas ke manusia. Corona kucing ini tidak bisa," kata Annang.
Hingga saat ini, belum pernah ditemukan kasus Corona dari hewan peliharaan yang menular ke manusia. Namun, pemilik kucing tetap diminta waspada terhadap gejala yang muncul pada hewan peliharaannya.
Baca Juga: Revolusi Belajar Mengajar! Inovasi Guru SMPN 4 Awayan Bikin Siswa Ketagihan Belajar Seni Budaya
"Karena bisa saja gejalanya mirip, tapi penyebabnya beda. Jadi perlu cek darah dan pemeriksaan lanjutan," ujar Annang.
Jika melihat gejala mencurigakan seperti kucing tampak lemas, mata sayu, atau perut membesar, sebaiknya segera membawa ke dokter hewan. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan jenis virus yang menginfeksi.
Bagi pemilik yang memelihara banyak kucing, Annang menyarankan kehati-hatian ekstra. "Kalau satu positif, segera isolasi. Jangan sampai semua kena, repot juga nanti," pungkasnya.
Editor : M. Ramli Arisno