BANJARMASIN - Pameran lukis bertajuk Muatan Lokal (Mulok) tengah digelar di Bengkel SR Solihin, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Jalan Hasan Basry, Banjarmasin Utara.
Enam perupa berkontribusi dalam pameran ini. Mereka adalah Hajriansyah, Syahriel M Noor, Umar Sidik, Fathur Rahmy, Aswin Noor, dan Didik Agus.
Pimpinan produksi, Alif Nur Siddiq mengatakan, pameran ini bertujuan mendalami nilai-nilai tradisi dan kekayaan budaya masyarakat Banjar dan Dayak.
"Setiap seniman menuangkan hasil interaksi mereka dengan lingkungan ke dalam lukisan yang sarat makna," katanya, Jumat (2/5).
Mereka mengolah nilai estetika yang ditangkap melalui realitas sehari-hari, simbol-simbol tradisi, hingga refleksi sosial.
Aswin Noor dan Umar Sidik, misalnya, mengusung gaya realisme yang telah mereka tekuni selama puluhan tahun.
"Karya mereka memadukan figur khas budaya lokal dengan warna-warna yang unik," ujarnya.
Salah satu karya Aswin, Tertawa dan Memperhatikan (Hal) Yang Kecil, menggambarkan anak kecil dengan ekspresi polos.
Tertawa yang dilukiskan tidak hanya menjadi pelepasan jiwa, tetapi juga mencerminkan kearifan hidup masyarakat Banjar, seperti konsep behapakan atau begegayaan.
Sementara karya Umar Sidik, seperti Bumi Menangis dan Buah Hati dan Harapan Moyangku, mengangkat tema kesinambungan tradisi di tengah ancaman perubahan zaman.
Pesan tentang kerusakan lingkungan juga terasa kuat dalam lukisan ini.
Sedangkan Didik Agus menyajikan kritik tajam terhadap kerakusan manusia dalam karyanya Financial Freedom.
Melalui kolase uang yang ditumpuk, si perupa menyindir bagaimana nilai material telah menghilangkan esensi kemanusiaan.
Hajriansyah dan Fathur Rahmy memilih pendekatan simbolik dengan ikon-ikon binatang. Melalui karya seperti Ikan Mas dan Kuda Gipang, Si Buya, dan Bergerak Bersama, perupa pengin memotret hasrat kebebasan falsafah hidup dan harmoni dalam kemajuan peradaban.
Lalu, Syahriel M. Noor membawa gaya abstraksi yang unik, menggunakan tanah sebagai medium ekspresi. Menampilkan elemen-elemen mitologis dan personal, memberikan tafsir mendalam tentang fenomena sosial di tanah kelahiran.
Dalam ruang pameran ini, para perupa ingin terjadi dialog antara seniman dan pengunjung.
Setiap karya hendaknya menawarkan interpretasi, membuka peluang bagi pengunjung untuk memahami atau bahkan menafsirkannya secara personal.
Pameran yang berlangsung sejak 6 April sampai 20 Mei 2025 ini mengajak kita merenungkan pentingnya melestarikan seni dan budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief