BANJARMASIN – Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, wafat di kediamannya, Domus Sanctae Marthae, Vatikan, Senin (21/4).
Agamawan yang memiliki nama lahir Jorge Mario Bergoglio itu meninggal pada usia 88 tahun akibat stroke dan komplikasi, termasuk pneumonia ganda yang sempat diidapnya.
Kabar berpulangnya Paus Fransiskus mengguncang dunia, termasuk Banjarmasin.
Mendoakan kepergiannya, Gereja Keluarga Kudus Katedral menggelar Misa Requiem, Rabu (23/4).
Suasana kesedihan begitu terasa menyelimuti gereja nomor dua tertua di Kota Banjarmasin itu.
Lantunan kidung penghiburan dari paduan suara gereja menggema di seluruh ruangan, mengiringi rasa duka yang mendalam.
Di altar, foto besar Paus Fransiskus diletakkan dengan dihiasi pita putih, simbol penghormatan kepadanya.
"Kepergian Paus adalah kehilangan besar, bukan hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi dunia. Beliau adalah tokoh yang selalu memperjuangkan perdamaian," ucap Vikaris Jenderal Keuskupan Banjarmasin, Pastor Albertus Jamlean.
Ia mengajak umat untuk meneladani nilai-nilai hidup yang diwariskan Paus Fransiskus, seperti perdamaian, persaudaraan universal, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pastor Albertus juga mengenang kendati dalam kondisi sakit, Paus tetap menyerukan perdamaian, terutama untuk menghentikan konflik di Gaza dan menentang relokasi paksa warga Palestina.
Semasa hidupnya, Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin yang penuh kasih dan rendah hati.
Dalam ensikliknya, Fratelli Tutti, ia menyerukan persaudaraan universal tanpa diskriminasi.
Sementara dalam Laudato Si', ia menekankan pentingnya "tobat ekologis" untuk menyelamatkan bumi sebagai rumah bersama.
Pesan ini relevan dengan kondisi di Indonesia, terutama di Kalimantan, yang menghadapi kerusakan lingkungan. "Kami di Gereja Katolik sering membuat gerakan menanam pohon untuk merawat lingkungan. Ini sejalan dengan ajaran Paus Fransiskus. Selain itu, mari kita lebih peduli dengan kebersihan, dengan tidak membuang sampah sembarangan, sebagaimana ini menjadi salah satu permasalahan di Banjarmasin," tambah Pastor Albertus.
Paus juga dikenal sebagai figur yang selalu berpihak pada orang miskin. Kesederhanaannya tercermin dalam gaya hidupnya yang jauh dari kemewahan.
Bahkan, sebelum menjabat sebagai Paus, ia dikenal menggunakan transportasi umum dan tinggal di apartemen kecil di Buenos Aires.
Duka mendalam juga dirasakan jemaat Gereja Keluarga Kudus. Oscar, salah satu jemaat, mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Paus. "Beliau adalah bapak perdamaian dunia. Sampai menjelang ajalnya, beliau masih menyerukan genjatan senjata di Gaza. Itu sangat luar biasa," ujarnya.
Elizabeth, jemaat lainnya, menyampaikan harapannya untuk pemimpin Gereja Katolik selanjutnya. "Kepemimpinan Paus Fransiskus telah menetapkan standar tinggi. Semoga penerusnya bisa mewujudkan kasih dan persaudaraan seperti yang beliau lakukan."
Lalu, Albertus Bambang Utoyo menambahkan, "Beliau adalah tokoh pluralisme dan kemanusiaan. Senyum dan sapaan hangatnya akan selalu dikenang."
Kepergian Paus Fransiskus membawa duka yang mendalam, namun warisannya sebagai tokoh perdamaian, pelindung lingkungan, dan pembela kaum miskin akan terus hidup dalam hati umat Katolik dan masyarakat dunia.
Bulan Mei mendatang, Gereja Katolik akan menggelar konklaf untuk memilih penerus Paus Fransiskus. Harapan besar tertuju pada sosok pengganti yang dapat melanjutkan semangat kasih dan persaudaraan universal di tengah situasi dunia yang penuh tantangan.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief