Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Atasi Krisis Sampah di Banjarmasin, Yamin Kunjungi Yogya untuk Pelajari Teknologi Insinerator

Riyad Dafhi Rizki • Jumat, 21 Maret 2025 | 13:49 WIB
BELAJAR: Pemko Banjarmasin mengunjungi Pusat Teknologi Lingkungan dan Limbah (Pusteklim) Yogyakarta pada Rabu (19/3).
BELAJAR: Pemko Banjarmasin mengunjungi Pusat Teknologi Lingkungan dan Limbah (Pusteklim) Yogyakarta pada Rabu (19/3).

BANJARMASIN – Mencari solusi atas krisis sampah di kota ini, Pemko Banjarmasin mengunjungi Pusat Teknologi Lingkungan dan Limbah (Pusteklim) Yogyakarta, Rabu (19/3).

Mereka mempelajari insinerator, teknologi pembakaran bersuhu tinggi (850-1000°C) yang diklaim ramah lingkungan.

Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin mengungkapkan ketertarikannya terhadap teknologi ini.
Menurutnya, insinerator menawarkan cara yang efisien dan efektif untuk menangani sampah.

Selain itu, limbah hasil pembakaran insinerator juga dapat dimanfaatkan kembali, menambah nilai tambah dari teknologi ini.

Tapi teknologi ini membutuhkan sampah yang telah melewati proses pemilahan dan pencacahan agar dapat diolah secara optimal.

"Saya rasa metode ini cukup efektif dan efisien. Namun, kami perlu melakukan kajian lebih mendalam sebelum benar-benar mengadopsinya di Banjarmasin," ujar Yamin, Kamis (20/3).

Dilanjutkannya, penerapan teknologi ini harus disesuaikan dengan kondisi Banjarmasin, dan pemko tetap mempertimbangkan opsi lain dalam penanganan sampah.

Jika teknologi ini terbukti cocok, Yamin optimistis Banjarmasin bisa menjadi contoh sukses pengelolaan sampah modern di Indonesia.

Saat ini, pemko telah mengambil langkah awal dengan membangun rumah pilah di setiap kecamatan sebagai upaya mengurangi volume sampah yang harus diolah.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Banjarmasin, Ananda menjelaskan insinerator yang dipelajari di Jogja merupakan teknologi yang sudah terbukti aman.

Dikatakannya, teknologi ini pertama kali dikembangkan di Jepang sejak tahun 1970-an dan kini diadopsi serta dikembangkan masyarakat Jogja.

"Dalam kunjungan tadi, kami bertemu langsung dengan penemu teknologi ini dari Jepang. Teknologi ini diklaim paling aman dan telah digunakan selama puluhan tahun. Kami juga mendapat penjelasan lengkap tentang prosesnya, dari hulu hingga hilir,” terang Ananda.

Namun, Ananda menekankan insinerator ini dirancang khusus untuk mengolah sampah residu—jenis sampah yang tidak dapat didaur ulang.

"Setelah kembali ke Banjarmasin, kami akan merapatkan hasil kunjungan ini dan mempertimbangkan apakah alat ini layak untuk diadopsi," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Alive Yoesfah mengingatkan bahwa insinerator hanya mampu mengolah sampah residu.

"Teknologi ini membutuhkan alat tambahan, seperti pemilah dan pencacah sampah untuk bekerja optimal. Oleh karena itu, perlu kajian lebih lanjut agar tidak salah langkah,” kata Alive.

Alive juga menjelaskan, kapasitas mesin insinerator bervariasi, mulai dari 100 kilogram hingga 800 kilogram per jam.

"Kami perlu menentukan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan Banjarmasin," tambahnya.

Alive berharap, dengan pemilahan sampah di kelurahan, volume sampah residu yang terbuang dapat ditekan hingga tersisa 30 persen saja.

"Setiap kelurahan memiliki karakteristik berbeda, sehingga penanganannya juga harus disesuaikan," tutup Alive.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#banjarmasin #insinerator #Sampah