BANJARMASIN - Perubahan iklim kini menjadi isu global yang krusial dan berdampak besar pada kehidupan manusia.
Dalam rangka memperingati Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia, Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Kalsel menggelar dialog, Senin (7/11/2024) di Aula Asrama Putra Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin.
Peserta dialog adalah mahasiswa UIN Antasari dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Tujuannya menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Dampak dari perubahan iklim sudah begitu terasa. Mulai dari panas ekstrem, bencana alam yang makin sering terjadi, hingga kenaikan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub.
BPPW menyebut wilayah Kalsel menjadi salah satu daerah yang rawan dengan naiknya permukaan air laut pada tahun 2050 mendatang.
“Karena posisi kita berada di dataran rendah, banjir besar seperti yang terjadi pada 2021 berpotensi lebih sering terjadi,” kata Staf Seksi Pelaksana BPPW kalsel, Ray Dhanitra Ahmad.
Ia menambahkan, ketika air laut naik, kondisi semakin parah jika Sungai Barito mencapai pasang tertingginya. "Dampaknya bisa merambah sampai wilayah pesisir hulu," ujar Ray.
"Kita bisa melihat contohnya di Kabupaten Demak, di mana kawasan tambak yang dulu memisahkan daratan dengan laut kini telah terkikis air laut," imbuhnya.
Dikatakannya, adaptasi terhadap perubahan iklim sangat diperlukan, terutama melalui pembangunan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan. "Perlu ada solusi pembangunan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga tahan terhadap perubahan iklim," kata Ray.
Salah satu solusi yang ditawarkan Kementerian PUPR adalah penerapan konsep green building atau gedung hijau, yang sudah mulai diimplementasikan di beberapa bangunan di Kalsel. "Green building adalah bangunan yang dirancang untuk meminimalisir emisi gas rumah kaca sejak perencanaan, pembangunan, hingga operasionalnya," jelasnya.
Di samping itu, ia menekankan pentingnya aksi kolektif dari seluruh elemen masyarakat untuk mengurangi dampak perubahan iklim. "Setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan," katanya.
Ray juga menyebutkan langkah-langkah konkret yang bisa diambil oleh generasi muda untuk berkontribusi dalam aksi iklim. Salah satu langkah utama adalah mengurangi polusi sampah di lingkungan sekitar. "Pemuda bisa mulai dari hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal," ujarnya.
Ray turut mengajak para pemuda untuk mulai beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. "Dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, kita dapat mengurangi emisi karbon. Pemerintah telah menyediakan fasilitas transportasi umum yang bisa kita manfaatkan untuk mendukung mobilitas ramah lingkungan," harapnya.
Akademisi Fakultas Teknik ULM, Irwan Yudha Hadinata menyatakan dari segi postur demografi Indonesia, generasi muda merupakan aktor utama dalam pembangunan. Namun, mereka juga berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan di sektor masing-masing.
Maka dari itu, kata dia, kesadaran generasi muda terhadap isu-isu lingkungan harus ditingkatkan. "Selain perlu untuk melakukan aksi iklim, generasi muda juga diharapkan menggunakan platform media sosialnya untuk mengkampanyekan sesuatu positif yang berkaitan dengan menjaga lingkungan," katanya.
Satu sisi, kata dia, pemerintah juga perlu memperkuat payung hukum yang berhubungan dengan aksi mitigasi iklim. "Terlebih dalam konteks kota metropolitan, Banjar Bakula (Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut). Sangat penting untuk memperkuat regulasi lingkungan. Karena jika tidak, pasti akan berpotensi menimbulkan masalah besar," paparnya.
Mena Ayu dari komunitas Putik Bersih, yang rutin mengadakan kegiatan bersih-bersih sampah, menambahkan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan oleh anak muda dapat memberikan dampak besar dalam melawan perubahan iklim. "Aksi kecil yang konsisten bisa menghasilkan perubahan yang berarti," ujarnya.
Aksi Menanam Pohon
Selain berdialog, kegiatan hari itu diselingi dengan kegiatan penanaman pohon di area infrastruktur PUPR, yakni Asrama Putra dan Putri UIN Antasari Banjarmasin.
Jenis pohon yang ditanam adalah pohon penghijauan seperti Tabebuya dan Mahoni. Wakil Rektor II UIN Antasari, Akhmad Sagir mengatakan dengan adanya penanaman pohon ini diharapkan warga UIN Antasari lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih sadar terhadap perubahan iklim. “Penanamannya dilakukan di fasilitas yang dibangun oleh PUPR,” bebernya.
PPK Perencanaan BPPW Kalsel, Noor Dewi Sari menyebut ada 100 pohon yang ditanam tersebar di beberapa tempat.
Namun, yang terfokus di Asrama Putra dan Putri UIN Antasari. "Hari Habitat dan Kota Dunia ini diprakarasi oleh PBB. Kami diminta untuk menggelar dan dipusatkan di sarana yang dibangun oleh PUPR. Makanya di asrama ini,” katanya.
Ia berharap dengan kegiatan ini mahasiswa akan lebih peduli lagi terhadap lingkungan.
Editor : Fauzan Ridhani