BATULICIN – Wakil Ketua Komisi III DPRD Tanah Bumbu, I Wayan Sudarma, menegaskan perlunya penguatan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana akibat cuaca ekstrem. Penegasan tersebut didorong oleh tingginya tingkat kerawanan bencana di Tanah Bumbu.
Letak geografis yang berbatasan langsung dengan laut serta keberadaan kawasan perbukitan membuat wilayah ini rawan banjir rob, angin puting beliung, dan tanah longsor.
Politisi PDI Perjuangan itu menekankan pentingnya sinkronisasi data dan penguatan kapasitas penanganan bencana lintas pemerintahan. Koordinasi dinilai krusial untuk mempercepat respons saat bencana terjadi.
Menurut I Wayan, mitigasi harus dilakukan secara terencana dan berbasis peta risiko. Data titik rawan bencana perlu diperbarui secara berkala agar kebijakan penanggulangan tepat sasaran.
“Fokus utama adalah mitigasi bencana untuk menghadapi cuaca ekstrem yang kerap melanda wilayah pesisir seperti Tanah Bumbu,” ujarnya.
Berdasarkan pembahasan Komisi III DPRD Tanah Bumbu dengan BPBD Kalimantan Selatan, kata dia, setidaknya terdapat tiga pokok pembahasan utama dalam penanganan bencana di Tanah Bumbu.
Pertama, sinergi strategis dan pemetaan risiko bencana melalui penyelarasan data antara pemerintah kabupaten dan provinsi. Pembahasan mencakup titik rawan banjir rob dan pasang surut, ancaman angin puting beliung pada masa peralihan musim, serta potensi longsor di kawasan perbukitan dan jalur transportasi utama.
Kedua, penguatan kapasitas logistik dan peralatan penanggulangan bencana. Komisi III menyoroti kesiapan sarana dan prasarana, termasuk optimalisasi fungsi Early Warning System (EWS).
Sistem peringatan dini tersebut diharapkan terintegrasi dengan sistem milik provinsi, baik untuk deteksi banjir maupun potensi tsunami. Selain itu, dibahas kesiapan stok logistik di gudang daerah serta dukungan anggaran melalui bantuan keuangan atau hibah provinsi untuk penanganan darurat.
Ketiga, penguatan Program Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai langkah jangka panjang. Melalui pendampingan BPBD Provinsi, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan evakuasi mandiri, memahami jalur evakuasi dan titik kumpul, serta mengenali tanda-tanda awal bencana.
Editor : Arif Subekti