Dalam tulisannya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (15/8/2025), Gewsima menyebut desa-desa sekitar tambang masih menghadapi masalah mendasar meski dikelilingi aktivitas alat berat. Air bersih, fasilitas pendidikan, dan pelayanan kesehatan layak masih menjadi barang langka.
"Kotabaru adalah satu dari sedikit daerah yang begitu kaya dengan sumber daya alam, tapi kemiskinan tetap bercokol," tegasnya.
Baca Juga: Masyarakat Adat Kalsel Demo di Gubernuran, Tolak Pegunungan Meratus Jadi Taman Nasional
Gewsima menunjuk data Badan Pusat Statistik yang memperkuat argumennya, menunjukkan tingkat kemiskinan Kotabaru masih tergolong tinggi dibandingkan daerah lain di Kalimantan Selatan. Ketimpangan sosial begitu kentara, memisahkan kemewahan pusat kota dengan kesulitan warga di pinggiran tambang.
Kontribusi batubara terhadap Pendapatan Asli Daerah dinilai tidak sebanding dengan volume eksploitasi yang terjadi. Dana Bagi Hasil dari pemerintah pusat dinilai masih kecil, membuat pemda terbatas mengentaskan kemiskinan atau membangun infrastruktur sosial mendesak.
Gewsima juga menyoroti dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. Kerusakan lahan pertanian, pencemaran sungai, polusi udara, serta jalan hancur menjadi potret nyata penderitaan masyarakat.
Baca Juga: Mpok Alpa Awali Karir Sebagai Penyanyi di Panggung Hajatan, Viral di Medsos Hingga Menembus Acara TV
"Petani kehilangan sawah, nelayan kehilangan pantai dan ikan, anak-anak kehilangan ruang aman," ungkapnya.
Sebagai wakil rakyat, Gewsima mengajak melakukan perubahan dengan keberanian politik dan strategi transformatif memastikan kekayaan alam menjadi alat kesejahteraan rakyat.
"Ini bukan bentuk kemarahan, ini bentuk cinta," pungkas Gewsima.
Baca Juga: Dua Pengedar Sabu Ditangkap Polres Tala, Beli Narkoba Rp1,6 Juta dari Bandar DPO
Ia yakin Kotabaru memiliki potensi bangkit menjadi teladan daerah lain jika semua pihak berani mengubah pola pikir dan berpihak pada rakyat.
Editor : M. Ramli Arisno