RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Kabut asap sisa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menyelimuti Kabupaten Balangan memaksa sejumlah satuan pendidikan memulangkan siswa lebih awal.
Kebijakan tersebut diambil setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balangan memberikan lampu hijau kepada sekolah untuk menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi di lapangan.
Pekatnya asap dinilai mulai mengganggu kesehatan peserta didik sekaligus membuat proses pembelajaran tidak lagi efektif.
Salah satunya terjadi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Balangan. Asap bahkan disebut telah masuk ke dalam ruang kelas.
Asap Masuk Kelas, Siswa Mengeluh Sesak
Pamong Belajar SKB Balangan, Rofiqoh, mengatakan kondisi kabut asap pada Kamis (17/9/2026) sudah berada di luar batas toleransi.
“Sangat berkabut, asapnya masuk ke ruangan kelas dan mengganggu proses belajar mengajar. Siswa ada yang mengeluh sesak, sehingga fokus dan konsentrasi dalam menyerap pelajaran juga terpengaruh. Karena itu, kami memilih meliburkan siswa,” ungkap Rofiqoh.
Keputusan tersebut juga mempertimbangkan keselamatan siswa saat perjalanan pulang. Jarak pandang yang menurun akibat kepungan asap dikhawatirkan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan raya.
Meski siswa dipulangkan, kegiatan belajar tidak serta-merta dihentikan.
SKB Balangan mengalihkan pembelajaran ke sistem daring agar hak siswa untuk tetap mendapatkan materi pelajaran tetap berjalan.
“Metode pembelajaran kami beragam. Semisal ada materi di YouTube, kami akan share ke anak-anak dan menugaskan mereka untuk merangkum. Mereka mengirim tugas dan berdiskusi melalui japri (jalur pribadi) ke guru masing-masing. Jadi kami pastikan siswa tetap belajar efektif,” paparnya.
Kepala Sekolah Bisa Ambil Keputusan Situasional
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Balangan, Musa Darkasi, membenarkan bahwa kebijakan pemulangan siswa sudah diterapkan oleh sejumlah sekolah terdampak.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil kepala sekolah dengan mempertimbangkan kondisi aktual di masing-masing wilayah.
“Ada (yang sudah memulangkan), melalui kebijakan kepala sekolah dengan melihat kondisi situasional di lapangan,” kata Musa.
Untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ), Musa menyebut para guru relatif tidak mengalami kesulitan berarti.
Pengalaman menjalankan PJJ selama pandemi Covid-19 menjadi bekal bagi tenaga pendidik untuk kembali beradaptasi ketika kondisi tidak memungkinkan pembelajaran tatap muka.
“Alhamdulillah hampir tidak ada kendala, karena PJJ seperti ini sudah pernah dilaksanakan kawan-kawan guru saat masa Covid-19 dulu,” sebutnya.
Guru Tetap ke Sekolah, Kesehatan Jadi Perhatian
Meski siswa dipulangkan, aturan Disdikbud tetap mewajibkan guru datang ke sekolah untuk menyelesaikan administrasi.
Musa pun mengingatkan para guru agar tetap menjaga kondisi tubuh selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Balangan.
“Guru harus tetap semangat, tetapi menjaga kesehatan itu lebih utama. Selalu pakai masker, kurangi kegiatan di luar, dan banyak minum air putih,” pesannya.
Ia berharap kondisi kabut asap akibat karhutla segera berlalu sehingga kegiatan pendidikan dapat kembali berjalan normal.
Musa juga mengajak seluruh elemen masyarakat meningkatkan pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak terus berulang.
“Semoga kabut asap ini cepat berlalu. Ke depannya, mari semua elemen masyarakat sama-sama melakukan pencegahan karhutla,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto