RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Pengamat pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Reza Fahlevi, menyoroti masih kuatnya anggapan bahwa kampus negeri lebih murah dibandingkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Tak hanya anggapan biaya, kualitas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) membuat PTS menghadapi tantangan berat dalam menarik mahasiswa baru. "Padahal banyak PTS yang kualitasnya tidak kalah. Hanya saja, persepsi masyarakat belum banyak berubah," katanya.
Ia menilai program studi yang tersedia di PTN maupun PTS di Kalsel sudah relatif sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Karena itu, persoalan utama saat ini bukan lagi ketersediaan program studi, melainkan bagaimana membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.
Ia mengingatkan, rendahnya angka lulusan yang melanjutkan kuliah dapat berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia daerah. Salah satu indikatornya adalah menurunnya rata-rata lama sekolah yang menjadi komponen penting dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
"Semakin banyak masyarakat yang melanjutkan kuliah, semakin tinggi rata-rata lama sekolah dan semakin baik kualitas SDM kita," kata dosen FKIP ULM itu.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperluas program beasiswa, baik di PTN maupun PTS. Menurutnya, bantuan pendidikan yang berkelanjutan hingga mahasiswa lulus akan menjadi solusi paling efektif meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi.
"Kalau ditanya faktor terbesar orang tidak kuliah, jawabannya tetap biaya. Beasiswa harus diperbanyak agar anak-anak yang memiliki kemampuan akademik tetap bisa melanjutkan pendidikan meski berasal dari keluarga kurang mampu," tutupnya.
Baca Juga: Berebut Sisa Jatah PTN, Persaingan Masuk Kuliah di Kalsel Kian Ketat
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief