Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengajar Bahasa Inggris di Atas Rawa Paminggir HSU ! Eva Febriyanti Pilih Kampung Halaman untuk Menginspirasi

M Akbar Radar Banjarmasin • Jumat, 12 Juni 2026 | 13:08 WIB
HADIR: Kembali ke kampung, Eva Febriyanti ajarkan bahasa Inggris gratis untuk masyarakat Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir, HSU.
HADIR: Kembali ke kampung, Eva Febriyanti ajarkan bahasa Inggris gratis untuk masyarakat Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir, HSU.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMUNTAI - Pulang kampung saat libur kuliah biasanya identik dengan beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, pilihan berbeda diambil Eva Febriyanti. Mahasiswi semester 4 Program Studi Administrasi Publik STIA Amuntai itu justru memanfaatkan masa liburnya untuk berbagi ilmu kepada generasi muda di kampung halamannya.

Eva pulang ke Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dengan membawa misi sederhana namun bermakna: mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak dan remaja di desanya.

Pagi itu, ruang belajar Kelas Tampakang di SMAN 1 Paminggir yang berdiri di atas kawasan rawa tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah siswa mengikuti pelatihan bertajuk How To Speak English yang dipandu langsung oleh Eva.

Menariknya, kegiatan tersebut bukan program kampus maupun organisasi tertentu. Pelatihan itu lahir dari inisiatif pribadi Eva yang ingin membagikan ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan.

“Ilmu yang saya dapat di kampus dan di luar kampus rasanya belum lengkap kalau tidak bisa bermanfaat untuk orang-orang di tempat saya tumbuh besar. Saya ingin pemuda di Tampakang punya kesempatan yang sama untuk bisa berbicara bahasa Inggris dengan percaya diri,” ujar Eva kepada media ini, Kamis (12/6/2026).

Berbekal semangat tersebut, Eva menyiapkan seluruh kebutuhan pelatihan secara mandiri, mulai dari materi, metode pembelajaran hingga pelaksanaan kegiatan.

Dalam pelatihan itu, ia tidak hanya mengajarkan kosakata maupun tata bahasa. Eva lebih menekankan keberanian berbicara dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris sehari-hari.

Metode pembelajaran dibuat santai dan interaktif. Para peserta diajak memperkenalkan diri, menjawab pertanyaan, hingga berdialog sederhana dalam bahasa Inggris. Suasana belajar yang cair membuat peserta lebih berani mencoba tanpa takut melakukan kesalahan.

Sesekali tawa pecah di dalam kelas ketika para siswa berusaha menyusun kalimat atau menjawab pertanyaan. Namun justru dari suasana seperti itulah rasa percaya diri mereka mulai tumbuh.

Menurut Eva, tantangan terbesar dalam belajar bahasa Inggris bukan sekadar menghafal kosakata, melainkan keberanian untuk berbicara.

Karena itu, ia ingin menanamkan pemahaman bahwa kemampuan berbahasa asing dapat dipelajari siapa saja, termasuk anak-anak yang tumbuh di wilayah perdesaan seperti Tampakang.

Bagi Eva, keterbatasan geografis tidak boleh menjadi penghalang untuk bermimpi besar. Di era digital saat ini, kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu kunci untuk mengakses informasi, pendidikan, hingga peluang kerja yang lebih luas.

Desa Tampakang sendiri memiliki tempat istimewa dalam hidupnya. Di sanalah Eva lahir, tumbuh, dan mengenyam pendidikan dasar sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Karena itu, ketika memiliki kesempatan untuk berbagi, kampung halaman menjadi tempat pertama yang ingin ia beri manfaat.

Langkah sederhana yang dilakukan Eva menjadi bukti bahwa kontribusi kepada masyarakat tidak harus menunggu gelar sarjana atau jabatan tertentu. Kepedulian bisa dimulai dari hal-hal kecil sesuai kemampuan yang dimiliki.

Di usia muda, Eva telah menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pencari ilmu, tetapi juga agen perubahan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Pelatihan yang digelarnya mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun semangat yang ditanamkan kepada para peserta diharapkan dapat bertahan jauh lebih lama: keberanian untuk belajar, percaya diri menghadapi tantangan, serta keyakinan bahwa anak kampung pun mampu bersaing di tengah dunia yang semakin global.

Kisah Eva menjadi pengingat bahwa pulang kampung tidak selalu tentang melepas rindu. Terkadang, kepulangan juga bisa menjadi cara untuk menyalakan harapan dan membuka peluang bagi generasi berikutnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
#HSU #bahasa inggris #Paminggir #mengajar