Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dies Natalis ke 43 FKIP ULM Kupas Kemiskinan dan Pendidikan Dalam Bedah Buku

Zulvan Rahmatan • Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB
BEDAH BUKU: membahas pengaruh kemiskinan terhadap akses pendidikan berlangsung saat Dies Natalis FKIP ULM ke-43 di Aula Hasan Bondan ULM Banjarmasin. Rabu (26/11/2025). (Zulvan Rahmatan/Radar Banjarma
BEDAH BUKU: membahas pengaruh kemiskinan terhadap akses pendidikan berlangsung saat Dies Natalis FKIP ULM ke-43 di Aula Hasan Bondan ULM Banjarmasin. Rabu (26/11/2025). (Zulvan Rahmatan/Radar Banjarma

BANJARMASIN - Di ruang pendidikan, kendala bukan hanya terdapat tedapat pada sistem ataupun sumber daya manusia (SDM) pengajar, melainkan berasal dari kemampuan ekonomi masyarakat itu sendiri.

Kesejahteraan melalui upah atau pendapatan yang rendah kian rentan mempersulit akses pendidikan tinggi yang semakin jauh untuk dijangkau.

Hal ini mencuat setelah buku “Membangun Karakter Bangsa Menuju Indonesia Maju” karya Wahyu, Guru Besar Pendidikan Kewarganegaraan yang telah purna tugas dibedah saat Dies Natalis Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ke-43. Rabu (26/11/2025) pagi.

Sala satu pembicara dalam bedah buku tersebut, Deasy Arisanty memaparkan Kalsel mengalami peningkatan pendidikan, meskipun diiringi setumpuk yang masih di bawah standar.

Parahnya lagi, berpendidikan tinggi masih belum menjamin kesejahteraan masa depan, sebab tantangan ekonomi sekarang mesti lengkap dengan keterampilan memadai.

“Jika dilihat dari badan pusat statistik (BPS) tentu kemiskinan terus turun, tapi jika mengacu Bank Dunia tentu berbeda, masih banyak penduduk miskin dan inlah standar yang saya sorot,” tegas Deasy.

Dalam pembahasannya lagi, Guru Besar FKIP ULM ini membandingkan rasio pendapatan masyarakat yang terlampau jauh, alias tidak merata.

“Di negara kita penduduk kaya banyak, tapi yang miskin lebih banyak juga. Rasio ini yang saya bahas,” jelas Deasy.

“Solusinya cobalah sektor berwirausaha untuk generasi muda, jangan terpaku pada sektor formal, ini salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan,” beber Wakil Dekan I FKIP ULM ini.

Baru-baru ini, Deasy ia juga menanggapi kunjungan drg Ellyana Trisya Hasnuryadi ke Kelurahan Pasar lama.

Dalam agenda itu Istri Gubernur Kalsel Hasnuryadi Sulaiman ini menemukan anak yang mengalami stunting hingga putus sekolah karena keterbatasan biaya.

Ellyana mendorong anak tersebut dapat kembali ke bangku pelajaran di bawah jaminan pemerintah.

“Salah satu penyebab kemiskinan karena kurangnya akses pendidikan. Maka lebih bagus apabila ada dorongan untuk mengubah hidup,” ucap Deasy.

Senada, Wakil Rektor I ULM Iwan Alfanie yang juga menjadi narasumber dalam bedah buku menyoroti pentingnya peran negara untuk mempermudah masyarakat mengakses pendidikan.

“Tidak semua masyarakat Indonesia mampu membiayai pendidikannya sendiri, negara harus hadir agar anak-anak bangsa dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik,” tuturnya.

Selain itu, tak lepas pula soal cara menciptakan bangsa yang berkarakter dan berkemajuan, sesuai panduan yang telah diulas 21 akademisi dalam buku yang dibedah tadinya.

“Kemiskinan pasti berpengaruh pada pendidikan dan dapat kita rasakan,” jelas Iwan.

Pria yang juga berperan sebagai Dokter Forensik ini berharap buku ini dapat disebar dan dibaca masyarakat termasuk oleh pemangku yang menentukan arah kebijakan.

Editor : Arif Subekti
#banjarmasin #Kalsel #kemiskinan #Pendidikan