BANJARMASIN – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin dihadapkan pada dua tantangan besar: target Wali Kota Muhammad Yamin untuk merombak total sekolah-sekolah rusak, dan kebijakan efisiensi anggaran yang mulai berlaku pada 2026.
Kepala Disdik Banjarmasin, Ryan Utama, mengakui kondisi pendidikan dasar di kota ini cukup memprihatinkan.
“Kondisi bangunan sekolah di Banjarmasin hampir 50 persen rusak parah,” ungkapnya, Jumat (7/11/2025).
Kerusakan yang terjadi bukan sekadar atap bocor atau dinding retak, tapi sudah mengancam keselamatan siswa.
Karena itu, wali kota menargetkan rehab total sepuluh sekolah per tahun. Lima SD dan lima SMP, tersebar di lima kecamatan.
Perombakan bukan sekadar tambal sulam, melainkan desain baru dengan fasilitas digital learning sebagai bagian dari transformasi pendidikan.
Namun, tantangan muncul dari sisi pembiayaan.
Tahun depan, Pemko Banjarmasin akan menerapkan efisiensi anggaran, yang dikhawatirkan akan memangkas ruang gerak Disdik.
“Kekhawatiran itu pasti ada, tapi pendidikan adalah layanan dasar. Seharusnya tidak terlalu terimbas. Ini akan kami perjuangkan,” tegas Ryan.
Di sisi lain, anggota Banggar DPRD Kota Banjarmasin, Hendra, menegaskan bahwa pendidikan tak boleh jadi korban efisiensi.
“Sekolah rusak tidak bisa ditunda perbaikannya. Ini soal keselamatan anak-anak,” ujarnya.
Hendra menekankan agar efisiensi dilakukan dengan batas yang jelas, tanpa mengurangi pos anggaran yang berdampak langsung pada mutu pendidikan.
“Jangan hanya memperbaiki bangunannya, tapi juga tingkatkan kualitas layanannya,” imbuhnya.
Ia meminta Disdik menyerahkan daftar prioritas sekolah rusak disertai data teknis dan estimasi biaya, agar proses penganggaran bisa transparan dan akuntabel.
“Kalau datanya lengkap, kami di Banggar bisa kawal dan pertanggungjawabkan ke publik,” ujarnya.
Hendra menegaskan, DPRD akan terus mengawal agar standar anggaran pendidikan tetap terpenuhi, dan target rehab sepuluh sekolah per tahun benar-benar terealisasi.
“Ini demi keselamatan dan masa depan anak-anak Kota Banjarmasin,” pungkasnya.
Editor : Eddy Hardiyanto