Guru Diminta Kuat Tetapi Jarang Dikuatkan

admin • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 16:30 WIB
Muhamad Yusuf, S.Pd
Muhamad Yusuf, S.Pd

Oleh: Muhamad Yusuf, S.Pd
Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin

Di ruang kelas yang penuh suara murid, seorang guru sering terlihat tegar. Ia berdiri di depan papan tulis dengan senyum yang tampak meyakinkan. Ia mengajar, menasihati, mendamaikan pertengkaran, bahkan menjadi tempat curhat peserta didik. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang jarang diperhatikan banyak orang, yaitu kesejahteraan batin guru. Selama ini pembicaraan tentang kesejahteraan guru lebih banyak berkisar pada gaji, tunjangan, sertifikasi, atau kenaikan pangkat. Padahal ada sisi lain yang jauh lebih sunyi dan sering terlupakan, yakni kondisi mental dan emosional guru dalam menjalankan profesinya.

Guru pada zaman sekarang menghadapi tekanan yang jauh berbeda dibanding masa lalu. Mereka tidak hanya mengajar. Guru juga dituntut menyelesaikan administrasi, menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum, menghadapi tuntutan orang tua, memenuhi target sekolah, hingga aktif di berbagai kegiatan tambahan. Semua itu harus dilakukan sambil tetap menjaga citra sebagai sosok yang sabar dan sempurna di depan murid.

Ironisnya, ketika guru mengalami kelelahan batin, sedikit sekali ruang yang tersedia untuk mendengarkan mereka. Pemerintah sering berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan, tetapi lupa bahwa kualitas pendidikan sangat dipengaruhi kondisi psikologis guru. Dinas pendidikan sibuk mengejar laporan dan angka keberhasilan program, sementara kepala sekolah terkadang lebih fokus pada pencapaian citra sekolah daripada kenyamanan batin tenaga pendidiknya.

Banyak guru akhirnya memendam tekanan sendirian. Mereka tetap datang ke sekolah meskipun hati sedang lelah. Mereka tetap tersenyum walau sedang menghadapi masalah keluarga atau tekanan pekerjaan. Bahkan tidak sedikit guru yang takut mengeluhkan keadaan karena khawatir dianggap tidak profesional. Dalam budaya kerja pendidikan kita, guru sering dituntut menjadi sosok kuat, tetapi jarang ada yang benar benar menguatkan mereka.

Pakar pendidikan Indonesia, Dedi Mulyasana, pernah menyampaikan bahwa pendidikan yang baik harus dibangun melalui suasana yang manusiawi dan menghargai martabat pendidik. Pernyataan ini menunjukkan bahwa guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, melainkan manusia yang membutuhkan penghargaan emosional. Ketika guru terus menerus ditekan tanpa dukungan psikologis yang memadai, maka proses pendidikan akan kehilangan nilai kemanusiaannya.

Pendapat lain datang dari Munif Chatib yang menekankan bahwa guru yang bahagia akan lebih mudah menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan. Pemikiran ini sangat relevan dengan kondisi sekolah saat ini. Sulit berharap guru mampu menciptakan suasana belajar yang hangat apabila mereka sendiri bekerja dalam tekanan dan kecemasan. Kebahagiaan guru bukan hal kecil, sebab suasana hati guru sangat memengaruhi energi pembelajaran di kelas.

Kesejahteraan batin guru sering dianggap persoalan sepele karena tidak terlihat secara fisik. Padahal dampaknya sangat nyata. Guru yang mengalami tekanan mental berkepanjangan akan lebih mudah kehilangan motivasi. Mereka menjadi cepat marah, sulit fokus, dan kehilangan kreativitas dalam mengajar. Akibatnya hubungan dengan murid pun ikut terpengaruh. Pendidikan yang seharusnya hangat dan menyenangkan berubah menjadi dingin dan penuh tekanan.

Sayangnya, banyak pihak masih menganggap guru harus selalu kuat dalam situasi apa pun. Ketika seorang guru mengeluh lelah, respons yang muncul sering kali berupa nasihat untuk lebih sabar dan ikhlas. Padahal guru tidak selalu membutuhkan ceramah motivasi. Terkadang mereka hanya ingin didengar dan dipahami. Kalimat sederhana seperti “Apa yang bisa kami bantu?” justru jauh lebih berarti daripada tuntutan untuk terus kuat.

Kepala sekolah memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan batin guru. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga harus menjadi ruang yang aman secara emosional. Kepala sekolah seharusnya tidak hanya hadir sebagai atasan administratif, melainkan juga sebagai pemimpin yang mampu memahami kondisi bawahannya. Guru yang merasa dihargai akan bekerja dengan hati yang lebih tenang.

Pemerintah dan dinas pendidikan juga perlu mengevaluasi kebijakan yang terlalu membebani guru secara administratif. Tidak sedikit guru yang menghabiskan lebih banyak waktu mengurus laporan dibanding mempersiapkan pembelajaran. Akibatnya energi mental mereka terkuras sebelum masuk kelas. Jika pemerintah benar benar ingin meningkatkan mutu pendidikan, maka perhatian terhadap kesehatan mental guru harus menjadi bagian penting dalam kebijakan pendidikan nasional.

Selain itu, masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Selama ini guru sering dijadikan sasaran kritik tanpa melihat tekanan yang mereka hadapi. Ketika terjadi masalah di sekolah, guru kerap menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal banyak persoalan pendidikan muncul karena sistem yang tidak sehat. Menyalahkan guru tanpa memahami keadaan mereka hanya akan memperparah luka batin yang sudah ada.

Guru sejatinya adalah manusia yang bekerja dengan hati. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menjaga harapan generasi muda. Tugas sebesar itu tentu membutuhkan kondisi mental yang sehat. Sulit membayangkan lahirnya pendidikan berkualitas jika para guru menjalani pekerjaannya dalam tekanan batin yang terus menerus.

Sudah saatnya kesejahteraan guru dipahami secara lebih utuh. Kesejahteraan bukan hanya tentang angka dalam slip gaji, tetapi juga tentang rasa dihargai, didengar, dan diperlakukan sebagai manusia. Guru memang diminta kuat, tetapi mereka juga membutuhkan dukungan untuk tetap kuat. Jangan sampai kita terus menuntut pengabdian besar dari guru tanpa pernah peduli pada luka yang mereka simpan diam diam.

Apabila kesejahteraan batin guru terus diabaikan, maka yang lahir bukan hanya kelelahan individu, tetapi juga krisis kemanusiaan dalam dunia pendidikan. Pendidikan akan kehilangan sentuhan hati karena para pendidiknya sendiri merasa tidak lagi memiliki ruang untuk bernapas dengan tenang. Oleh sebab itu, memperhatikan kesehatan mental dan kesejahteraan batin guru bukanlah bentuk kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih manusiawi. (*)

Editor : Arief M
Opini Guru