Satu Jam yang Hilang Setiap Malam

admin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 13:34 WIB
ERIN NAILA
ERIN NAILA

Oleh: ERIN NAILA
Mahasiswa D4 Manajemen Perkantoran Digital, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga

COBA ingat kapan terakhir kali kamu tidur tepat waktu? Tanpa membuka HP sebelum tidur untuk “melihat sebentar”. Niatnya hanya lima menit, mengecek notifikasi, lalu tidur. Tapi entah bagaimana, jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan jarimu masih bergerak ke atas. Tidak ada yang dicari. Tidak ada yang benar-benar ingin dibaca. Tapi tetap digulir, seolah ada sesuatu di bawah sana yang sedang menunggumu.

Kebiasaan ini bisa kita sebut Doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti, sering kali sambil mengonsumsi berbagai konten yang dapat membuat kita cemas, resah, atau sekadar tidak memberikan manfaat berarti. Praktiknya sederhana, rebahan sambil bermain HP.

Bagi mahasiswa, kebiasaan ini sering muncul sebagai hiburan sekaligus pelarian dari tugas yang begitu banyak dan menumpuk. Kepala penat, deadline semakin dekat, dan membuka media sosial menjadi semacam napas pendek di tengah rasa kewalahan. Masalahnya, napas pendek itu hampir tidak pernah berhenti tepat waktu. Dan itu tidak sepenuhnya salah kita. Banyak aplikasi memang dirancang untuk mempertahankan perhatian penggunanya selama mungkin.

Dampaknya datang secara perlahan. Waktu belajar yang semula ditargetkan dua jam berubah menjadi empat jam karena separuhnya bocor ke aplikasi lain. Materi yang dibaca tidak masuk-masuk ke otak, sehingga harus diulang. Lalu muncul rasa bersalah dan mulai timbul stres. Anehnya, pelarian dari rasa stres itu justru kembali ke tempat yang sama: media sosial.

Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya soal waktu yang terbuang sia-sia, tetapi juga soal bagaimana kebiasaan tersebut dapat memengaruhi cara kita memberikan perhatian. Kita bisa menjadi semakin terbiasa dengan sesuatu yang instan, sehingga aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, seperti membaca jurnal sampai selesai, terasa semakin berat. Ketika terbiasa berpindah dari satu konten ke konten lain hanya dalam hitungan detik, duduk diam dan fokus pada satu hal terasa seperti pekerjaan yang jauh lebih sulit.

Hampir semua mahasiswa tahu tentang hal ini. Itu bagian paling ironisnya. Kita sadar terlalu banyak bermain HP, mengeluh soal itu kepada teman, lalu lima menit kemudian membuka aplikasi yang sama. Bukan karena tidak punya niat untuk mengurangi, tetapi karena membuka HP sudah menjadi refleks, seperti tangan yang otomatis meraba saku meskipun tidak ada notifikasi yang masuk.

Lalu muncul komentar dari luar bahwa Generasi Z sekarang kurang disiplin, tidak fokus, atau terlalu bergantung pada gawai. Rasanya terlalu mudah untuk menyalahkan orang lain. Kita tumbuh di lingkungan yang setiap detiknya menawarkan distraksi. Menyuruh seseorang “lebih disiplin” di tengah kondisi seperti itu mirip seperti menyuruh orang tidak haus saat berdiri di tengah gurun.

Bukan berarti kita tidak punya andil. Justru karena lingkungannya begitu, kesadaran pribadi menjadi semakin penting. Namun, bentuknya tidak harus ekstrem. Tidak perlu menghapus semua aplikasi atau melakukan puasa media sosial selama sebulan, karena cara seperti itu belum tentu bertahan lama. Hal-hal kecil justru lebih masuk akal, seperti menaruh HP di ruangan lain saat mengerjakan tugas, menetapkan waktu tertentu untuk membuka media sosial, atau sesederhana menyadari bahwa kita sedang menggulir tanpa alasan lalu berhenti di situ. Terdengar remeh, tetapi jika dilakukan secara konsisten, kita tidak perlu memaksakan diri melakukan perubahan yang terlalu sulit.

Tidak ada yang salah dengan menikmati media sosial. Yang perlu ditanyakan hanya satu, apakah kita yang sedang memakainya, atau kita yang sedang dipakai?

Barangkali itu pertanyaan yang lebih layak dipikirkan sebelum tidur nanti, daripada satu jam lagi yang hilang tanpa sempat kita sadari ke mana perginya.

Editor : Arief M
Opini