Bukan Sekadar Angka

Toto Fachrudin • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 21:56 WIB
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin

Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin

Laut menjadi saksi bahwa batas antara hidup dan mati hanyalah setipis helai rambut. Hanya keajaiban dan takdir yang akan menentukan nyawa seorang manusia saat berada di tengah lautan.

Meski menanti kabar yang tak pasti, keluarga korban KM Virgo Transport 8 yang belum ditemukan masih memiliki harapan atas kuasa Tuhan, untuk setidaknya bisa menemukan jasad keluarga yang saat ini masih terjebak di dalam kapal.

Angka 126 bukan sekadar data korban penumpang yang belum ditemukan. Mereka adalah ayah, ibu, suami, istri, anak, dan saudara yang dinanti kepulangan atau kedatangannya oleh keluarga tersayang. Sayangnya, angka itu sepertinya hanya menjadi data yang terkenang sebagai tragedi kecelakaan laut memilukan.

Investigasi penyebab tenggelamnya Virgo Transport 8 memang belum terungkap. Basarnas masih fokus melakukan upaya pencarian dan penyelamatan.

Tapi kecelakaan tragis ini menjadi fakta tak terbantahkan, bahwa sistem transportasi laut Indonesia masih lemah dalam menjamin keamanan dan keselamatan penumpang.

Regulasi, aturan dan izin pelayaran, serta manajemen standar keselamatan yang baku, semuanya adalah kebijakan formal yang tertuang dalam lembaran kertas. Semua itu tak berarti ketika kapal telah berada di tengah lautan. Laut hanya mengenal kapal yang benar-benar siap menghadapi keadaan darurat.

Bila melihat asal usul Virgo Transport 8, dulunya merupakan kapal yang dibangun di Jepang pada tahun 1987, dan telah berusia sekitar 39 tahun ketika mengalami kecelakaan. Usia kapal seharusnya membuat pengawasan semakin serius, bukan sebaliknya.

Semakin tua sebuah kapal, semakin penting memastikan bahwa pemeliharaan, struktur, mesin, stabilitas, sistem keselamatan dan perlengkapan evakuasinya benar-benar memenuhi standar.

Apalagi Virgo Transport 8 merupakan kapal Ro-Ro yang membawa penumpang sekaligus kendaraan. Dalam situasi kapal mengalami kemiringan atau terbalik, persoalan evakuasi menjadi sangat kompleks.

Perubahan dan modifikasi kapal yang tak lagi sesuai dengan peruntukan awalnya, tentu saja sangat berisiko terhadap keselamatan penumpang.

Karena itu, tragedi ini mengungkap fakta seluruh rantai keselamatan transportasi laut yang masih lemah.

Sebagai negara maritim, Indonesia semestinya lebih paham bahwa laut hanya mengenal kapal yang benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan kejadian tak terduga.

Bukan sekadar kapal yang bisa berlayar, tapi tak mampu menahan gempuran ombak. Bukan kapal yang terkesan mewah, tapi ringkih menghadapi gelombang tinggi. Atau kapal yang mampu menampung banyak penumpang, tapi tak siap melakukan evakuasi saat menghadapi cuaca buruk.

Virgo Transport 8 memberi banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Berapa banyak prosedur yang harus diperiksa kembali. Berapa banyak standar keselamatan yang harus diuji ulang. Berapa banyak kapal yang harus diperiksa dengan pertanyaan yang lebih serius.

Kepada keluarga yang masih menunggu, barangkali tidak banyak kata yang mampu mengurangi sesak di dada. Semoga mereka yang masih memiliki kesempatan untuk ditemukan segera mendapatkan pertolongan.

Dan bagi mereka yang telah menjadi korban, semoga segera ditemukan dan dapat dipulangkan kepada keluarga.

Untuk pemerintah, pengelola kapal dan seluruh pemangku kepentingan pelayaran, Virgo Transport 8 jangan hanya menjadi berita selama beberapa hari. Jadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi dan mengubah kebijakan.

Jadikan pengingat bahwa sertifikat keselamatan bukan sekadar dokumen yang harus ada, melainkan janji bahwa manusia di dalam kapal memang layak dilindungi.(*)

Editor : Arief M
ruang jeda