Kapan Banjarmasin Bebas Kabut Asap?

admin • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 19:42 WIB
Djoko Soegiyanto, M.Pd.I
Djoko Soegiyanto, M.Pd.I

Oleh: Djoko Soegiyanto, M.Pd.I
Guru pada Yayasan Ukhuwah Kalimantan Selatan,
Trainer Management Classroom

Setiap tahun, langit di atas Banjarmasin berubah warnanya. Bukan karena senja yang indah, melainkan karena kabut asap yang datang mengeluarkan aroma khas dari kebakaran hutan dan lahan. Bagi saya dan warga Kalimantan Selatan lainnya, ini bukan lagi peristiwa yang mengejutkan. Hal ini sudah seperti musim yang kita tahu pasti datangnya, meski selalu saja tidak benar-benar siap menghadapinya. Tahun ini, kabut asap kembali datang ke daerah saya dan cukup menyebabkan masalah. Salah satu tanda yang sangat jelas adalah kebijakan dari sekolah-sekolah yang memperpanjang jam masuk hingga pukul 09.00 pagi . Anak-anak yang biasanya pergi tidur pagi hari kini harus menunggu udara sedikit lebih ramah sebelum keluar rumah . Ini mungkin terdengar remeh, tapi sebenarnya itu adalah pengakuan diam-diam bahwa udara pagi hari sudah tidak bisa dihirup lagi oleh paru-paru siswa kita.

Saya sendiri tidak luput dari dampaknya. Ada beberapa hari di mana saya merasa sulit bernapas, dan udara yang masuk ke dalam tubuh terasa berat, seolah-olah saya menghirup debu yang tidak bisa dilihat dengan mata. Hal utama yang lebih mengejutkan, di keluarga saya banyak orang yang harus menghadapi Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) karena terus-menerus terpapar asap yang menggumpal. Masker yang dulu hanya dipakai sesekali, sekarang menjadi perlengkapan wajib setiap kali keluar rumah. Hal lainnya yang membuat saya semakin gelisah adalah membayangkan orang-orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, seperti penderita kanker paru-paru, TBC, dan berbagai gangguan pernapasan lainnya. Bagi mereka, kabut asap tidak hanya mengganggu sebentar, tetapi juga bisa menjadi ancaman yang sangat berbahaya bagi kesehatan mereka. Sungguh hal yang sangat membahayakan dan menyedihkan.

Kelompok yang mudah terkena dampak ini seringkali tidak diperhatikan ketika kita hanya membicarakan karhutla sebagai isu lingkungan atau angka statistik titik panas. Setiap tahun terjadi, tapi solusinya tetap sama saja? Hal utama yang paling membuat pikiran saya tertekan bukan hanya karena kabut asap itu saja, tapi karena hal ini terus terjadi setiap tahunnya. Jika suatu masalah terus muncul meskipun sudah diatasi berulang kali, tentu saja kita akan berpikir, “apakah upaya penyelesaiannya benar-benar mengatasi akar masalah, atau justru hanya mengulangi cara yang sama, reaktif, terlambat, dan hanya sementara?”. Oleh karena itu, saya merasa sudah saatnya pemerintah daerah Banjarmasin dan Kalimantan Selatan tidak hanya memperhatikan kecepatan respons dalam situasi darurat, tetapi juga membangun mekanisme pencegahan yang lebih tetap dan berkelanjutan. Sehingga akan lebih siap apabila karhutla ini terjadi kembali.

Kerja sama cepat antara pemerintah daerah dengan lembaga terkait seperti BPBD, BMKG daerah, Manggala Agni, TNI/Polri, serta instansi kesehatan tetap diperlukan agar penanganan di lapangan tidak lagi tertunda seperti yang kita alami selama ini. Namun, kecepatan tanggap sendiri tidak akan cukup jika sumber kebakaran terus muncul kembali setiap tahunnya.

Pencegahan secara struktural harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan, seperti meningkatkan pengawasan terhadap lahan gambut, memastikan aturan yang ditegakkan terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara pembakaran, serta memberikan pendidikan yang berkelanjutan kepada masyarakat di daerah rawan karhutla. Tanpa upaya pencegahan yang sungguh-sungguh, kita hanya akan terus berada dalam siklus yang sama yaitu terjadi kebakaran, asap menyebabkan kota gagal berjalan, sekolah tertutup, warga sakit, lalu ketika hujan turun semuanya kembali normal sampai tahun berikutnya kabut asap kembali datang lagi.

Salah satu upaya yang efektif menurut saya adalah dengan melakukan rekayasa cuaca yaitu menciptakan hujan buatan secara berkala. Dimana penaburan garam dalam volume tertentu sehingga mampu merekayasa awan dan mendung sehingga turunlah hujan buatan. Tentunya hal tersebut memerlukan kerjasama dan koordinasi yang matang agar proses tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Misalnya Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup setempat bekerjasama dengan BMKG daerah serta Basarnas agar proses pembuatan hujan buatan tersebut dapat dilakukan secara intensif dan berkala untuk benar-benar memadamkan titip api yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

Kesehatan masyarakat bukan hanya angka-angka. Saya menulis ini bukan untuk mencari siapa yang bersalah, tapi untuk menyampaikan apa yang saya dan keluarga saya alami secara langsung. Setiap kali kualitas udara memburuk, ada anak-anak yang batuk sepanjang malam hari, ada orang tua yang sulit bernapas, dan ada orang yang menderita penyakit paru-paru yang kondisinya semakin parah. Ini bukan angka di dalam laporan, ini adalah kehidupan sehari-hari warga Banjarmasin. Saya harap pemerintah daerah dapat menunjukkan komitmen yang seimbang, tanggap dan cepat merespons saat kabut asap sudah terjadi, sekaligus tegas dan konsisten dalam mencegah agar kejadian seperti ini tidak terus berulang setiap tahun. Karena udara yang bersih bukanlah sesuatu yang mewah, melainkan hak dasar bagi setiap warga, termasuk kami yang tinggal di Banjarmasin.

Fenomena ini dapat kita putus dengan terus bersinergi, berkoordinasi dan komitmen untuk senantiasa menjaga hutan dan lahan. Karena pulau Kalimantan merupakan paru-paru dunia. Bisa kita bayangkan apabila sering terjadi kebakaran hutan dan lahan tanpa penanganan yang tepat maka akan sangat mengganggu seluruh aktifitas masyarakat dan ketersediaan oksigen pun tentunya akan semakin berkurang dan menipis. Semoga kondisi Banjarmasin khususnya dan Kalimantan pada umumnya akan semakin membaik dan di masa yang akan datang kejadian seperti ini dapat diantasipasi lebih awal sehingga hutan Kalimantan tetap terjaga dan lestari di masa yang akan datang. (*)

Editor : Arief M
Opini Kabut Asap