Sarjana Menganggur dan Pendidikan Tinggi Bermutu

admin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:52 WIB
Prof. Dr. Mukhamad Najib
Prof. Dr. Mukhamad Najib

Oleh: Prof. Dr. Mukhamad Najib
Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek
Guru Besar IPB University

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan jumlah pengangguran sarjana yang tembus 1 juta (BPS, 2026). Meski hal ini bukan tanggung jawab tunggal perguruan tinggi (PT), namun PT tetap memiliki andil. Salah satu parameter PT bermutu adalah keterserapan lulusan di dunia kerja dengan gaji yang layak. Ketika lapangan kerja domestik semakin menyempit, maka orientasi memasuki pasar kerja di luar negeri perlu disiapkan. Pada titik inilah sarjana menganggur sedianya bisa diatasi dengan PT bermutu.

PT yang bermutu selalu membekali mahasiswanya dengan keterampilan yang relevan (Skill Alignment), kesiapan kerja (Employability), serta kemampuan inovasi dan kewirausahaan. Dengan begitu, lulusan menjadi kompetitif tidak hanya di pasar kerja dalam negeri, tapi juga luar negeri. Saat ini terdapat 4.416 PT di Indonesia dengan keragaman mutu yang tinggi. Harus diakui bahwa ada beberapa PT Indonesia yang masuk dalam parankingan top dunia. Namun Sebagian besar masih berjuang untuk meningkatkan mutu.

Dengan jumlah PT yang sangat besar dan keragaman mutu yang tinggi, mutu PT tidak bisa diserahkan semata kepada masing-masing PT secara individual. Dibutuhkan penguatan dalam sebuah ekosistem mutu yang terintegrasi. Pertanyaannya adalah bagaimana membangun ekosistem yang memungkinkan PT Indonesia selalu berorientasi pada penguatan mutu berkelanjutan?

Persoalan mutu PT semakin penting ketika Indonesia memasuki era persaingan global yang bertumpu pada pengetahuan, inovasi, dan mutu talentanya. Kecerdasan artifisial, transformasi digital, transisi energi, dan ekonomi hijau sedang mengubah cara negara membangun daya saingnya. Dalam situasi seperti itu, pendidikan tinggi tidak lagi sekadar menjadi penyelenggara pendidikan, melainkan salah satu infrastruktur strategis pembangunan nasional.

Transformasi mutu

Selama beberapa dekade, kebijakan peningkatan mutu lebih banyak diarahkan pada penguatan institusi. Akreditasi, peningkatan kualifikasi dosen, pembangunan sarana prasarana, serta berbagai indikator kinerja telah mendorong perguruan tinggi terus berkembang. Pendekatan tersebut tetap penting dan perlu dilanjutkan. Namun, kompleksitas tantangan yang dihadapi pendidikan tinggi saat ini menunjukkan bahwa penguatan institusi saja tidak lagi memadai. PT memerlukan lingkungan yang memungkinkan kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan inovasi berkembang secara berkelanjutan.

Clark (1998) dalam bukunya “Creating Entrepreneurial Universities” menunjukkan bahwa transformasi perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada perubahan internal, tetapi juga pada kemampuan membangun hubungan dengan lingkungan eksternal. Sementara Etzkowitz (2008) menjelaskan bahwa interaksi antara universitas, pemerintah, dan dunia usaha merupakan salah satu penggerak utama inovasi. Literatur mutakhir memperluas perspektif tersebut dengan melibatkan masyarakat dan lingkungan sebagai bagian dari ekosistem inovasi.

Pelajaran dari berbagai negara juga menunjukkan pola serupa. Amerika Serikat membangun kekuatan universitas melalui kolaborasi erat perguruan tinggi, industri, dan lembaga penelitian. Finlandia mengembangkan pendidikan tinggi melalui tata kelola berbasis kepercayaan, otonomi, dan mutu. Singapura memperlihatkan bagaimana konsistensi kebijakan jangka panjang mampu menyelaraskan investasi pendidikan tinggi dengan strategi pembangunan nasional.

Meskipun setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda, terdapat satu pelajaran yang sama: PT berkembang lebih cepat ketika menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguatkan. Oleh karenanya, salah satu agenda transformasi mutu PT yang tengah dilakukan pemerintah adalah bagaimana menggeser pandangan yang bersifat individualistik menjadi pandangan yang bersifat kolektif dalam satu ekosistem mutu. Pembentukan konsorsium antar PT dengan pemerintah daerah dalam penyelesaian masalah kewilayahan yang saat ini tengah digencarkan merupakan salah satu contoh upaya dalam membangun eksositem mutu yang bersifat kolektif tersebut.

Ekosistem Mutu

Yang dimaksud dengan ekosistem dalam konteks ini adalah sistem yang menghubungkan PT, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, lembaga riset, dan jejaring internasional. Selanjutnya seluruh pelaku dalam sistem berkolaborasi menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan mutu, relevansi, inovasi, dan dampak pendidikan tinggi secara berkelanjutan.

Melalui perspektif ini, mutu dipahami sebagai hasil interaksi berbagai komponen yang saling memengaruhi. Mutu dosen dipengaruhi oleh sistem pengembangan akademik dan jejaring ilmiah. Mutu riset dipengaruhi oleh pendanaan, kolaborasi, dan infrastruktur penelitian. Relevansi lulusan dipengaruhi oleh hubungan dengan dunia kerja serta dinamika kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, peningkatan mutu memerlukan penguatan hubungan antarpelaku, bukan hanya peningkatan kapasitas masing-masing institusi.

Pendekatan ekosistem juga memberikan keuntungan dari sisi tata kelola. Dalam sistem pendidikan tinggi yang sangat besar, kolaborasi memungkinkan pemanfaatan bersama berbagai sumber daya, mulai dari laboratorium, pusat riset, teknologi pembelajaran, hingga jejaring internasional. Sebagai contoh, laboratorium di ITB misalnya, terbuka untuk dimanfaatkan oleh kampus lain di Indonesia. Begitu juga laboratorium spesifik di kampus lain dimana tidak tersedia di ITB, maka ITB dapat memanfaatkannya.

Pendekatan ini membuka peluang agar sumber daya dapat dimanfaatkan secara efektif dan menghasilkan manfaat yang lebih luas. Dengan kata lain, peningkatan mutu tidak selalu membutuhkan investasi baru dalam jumlah besar, tetapi sering kali memerlukan cara yang lebih baik dalam menghubungkan potensi yang telah dimiliki.

Perubahan cara pandang ini memiliki implikasi penting bagi kebijakan pendidikan tinggi. PT tidak hanya bersaing, tetapi juga membangun kemitraan untuk memperkuat kapasitas bersama. Dunia usaha tidak diposisikan sebagai pengguna lulusan semata, melainkan sebagai mitra strategis dalam pengembangan talenta, riset, dan inovasi. Pemerintah daerah, organisasi profesi, masyarakat sipil, dan komunitas internasional juga menjadi bagian dari ekosistem yang memperkuat kontribusi pendidikan tinggi terhadap pembangunan.

Menghubungkan Potensi

Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi bermutu. Jumlah PT yang besar, keragaman keilmuan, bonus demografi, serta meningkatnya perhatian pemerintah terhadap transformasi pendidikan tinggi merupakan modal yang sangat berharga. Tantangan Indonesia bukanlah kekurangan potensi, melainkan bagaimana menghubungkan potensi-potensi tersebut menjadi kekuatan nasional yang saling memperkuat.

Transformasi pendidikan tinggi Indonesia tidak cukup dilakukan dengan memperkuat masing-masing PT secara terpisah. Yang lebih mendasar adalah membangun lingkungan yang memungkinkan seluruh institusi saling belajar, berkolaborasi, dan berkembang bersama. Karena itu, membangun Ekosistem Pendidikan Tinggi Bermutu bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan prasyarat bagi terwujudnya pendidikan tinggi yang berdaya saing dan relevan. Dengan begitu kita bisa berharap angka sarjana menganggur dapat ditekan.  Semoga! (*)

Editor : Arief
Opini Kampus