Merek Ekonomi dan Pasar Atensi

admin • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:22 WIB
Erwan Setyanoor
Erwan Setyanoor

 

Oleh: Erwan Setyanoor
Akademisi IAI Darul Ulum Kandangan, Prodi Ekonomi Syariah

Tersingkirnya tim nasional Portugal dari Piala Dunia 2026 di babak 16 besar tidak hanya meninggalkan kisah emosional di lapangan hijau Stadion AT&T, Texas. Di luar arena, runtuhnya asa untuk melaju lebih jauh mendadak memicu fenomena ekonomi yang tak kalah dramatis di pasar sekunder global. Harga tiket babak perempat final langsung anjlok secara radikal hingga lebih dari 50 persen hanya dalam hitungan jam. Laga yang semula bernilai puluhan juta rupiah di pasar gelap atau platform resale, mendadak mengalami koreksi harga yang masif. Fenomena ini menjadi konfirmasi nyata tentang bagaimana kekuatan "merek ekonomi" personal mampu menggerakkan lanskap bisnis global secara instan, sekaligus membuktikan betapa cairnya nilai ekonomi yang bersandar pada ketokohan seseorang.

Dalam kajian ekonomi modern, dinamika ini merupakan cerminan paling sempurna dari konsep Attention Economy (Ekonomi Perhatian) dan Celebrity Economics (Ekonomi Selebritas). Di era digital saat ini, atensi atau perhatian publik bukan lagi sekadar respons sosial, melainkan komoditas bernilai tinggi yang setara dengan mata uang. Sosok ikonik di lapangan hijau tidak lagi tepat jika hanya didefinisikan sebagai atlet profesional biasa. Mereka telah menjelma menjadi sebuah korporasi satu orang (one-man conglomerate) yang memiliki eksternalitas ekonomi sangat luas. Mereka bertindak sebagai magnet kapital raksasa yang mampu menggeser kurva permintaan global dalam sekejap mata. Ketika magnet tersebut secara tak terduga ditarik dari peredaran sebuah turnamen akibat kekalahan sportivitas, nilai utilitas subjektif dari sisa pertandingan langsung mengalami penyesuaian pasar yang drastis. Nilai premium yang semula bersedia dibayarkan oleh konsumen mendadak luruh, menyisakan nilai riil dari pertandingan itu sendiri tanpa bumbu pesona sang megabintang.

Menariknya, jauh sebelum istilah ekonomi perhatian atau komodifikasi olahraga dirumuskan oleh para akademisi Barat, sosiolog terkemuka abad pertengahan Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya, Kitab Muqaddimah, telah menguraikan dasar fenomena ini melalui konsep Al-Jah. Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa status sosial, reputasi, pengaruh, dan nama besar seseorang merupakan instrumen kuat yang mampu melahirkan kemakmuran ekonomi yang luar biasa tanpa perlu bersandar pada modal fisik tradisional. Dalam konteks ekonomi kontemporer, wujud Al-Jah ini termanifestasi ke dalam hak tak berwujud yang dikenal sebagai Mal Ma’nawi atau intangible asset yang diakui memiliki nilai komersial (qimah maliyyah). Pasar tiket, hak siar, hingga merchandise beroperasi penuh atas dasar kerelaan konsumen (willingness to pay) yang sangat tinggi demi mengejar kepuasan emosional yang diasosiasikan dengan sang idola. Kepercayaan publik terhadap standar keahlian dan prestasi sang bintang melahirkan diferensiasi produk di pasar persaingan monopolistik, yang memungkinkan terjadinya premium pricing pada setiap instrumen bisnis yang berkaitan dengannya.

Meskipun demikian, volatilitas harga tiket pasca-gugurnya tim-tim besar di turnamen internasional juga menyisipkan sebuah pelajaran teoretis yang sangat berharga mengenai risiko investasi di pasar yang digerakkan oleh atensi. Karakteristik utama dari ekonomi berbasis perhatian adalah sifatnya yang sangat rapuh, cair, dan rentan terhadap kejutan makro (economic shock). Ketika para spekulan dan pelaku pasar sekunder melakukan aksi borong tiket dengan asumsi "skenario ideal"—yaitu memproyeksikan bahwa sang bintang global pasti akan melenggang hingga babak final—mereka sebenarnya sedang menumpuk risiko spekulasi tingkat tinggi. Dalam kacamata fikih muamalah, praktik transaksi yang didorong oleh motif spekulasi murni demi keuntungan jangka pendek ini kerap bersinggungan dengan unsur ketidakpastian yang berlebih (gharar) dan perilaku spekulatif yang menyerupai maysir. Olahraga pada hakikatnya adalah sebuah entitas yang memegang teguh sportivitas dan hukum probabilitas yang tidak dapat diprediksi secara matematis. Lapangan hijau selalu menolak untuk tunduk pada kalkulasi bisnis di atas kertas; ia selalu menyisakan ruang bagi kejutan, kekalahan, dan air mata. Ketika realitas di lapangan tidak sejalan dengan ekspektasi pasar, gelembung harga ekonomi perhatian tersebut akan pecah seketika.

Kendati demikian, guncangan pasar berupa anjloknya harga tiket ini tidak perlu buru-buru dipandang sebagai sebuah tragedi atau kegagalan sistem pasar. Sebaliknya, dalam teori ekonomi makro, fenomena ini justru mencerminkan bekerjanya mekanisme penyembuhan alami pasar (market self-correcting mechanism). Ketika harga tiket di pasar sekunder jatuh bebas karena kehilangan daya tarik dari sang ikon global, pasar sebenarnya sedang kembali menuju titik keseimbangan barunya (new equilibrium). Penurunan harga ini secara tidak langsung melahirkan dampak sosial yang positif, yaitu pemulihan aksesibilitas bagi para pencinta sepak bola sejati. Konsumen yang sebelumnya terasing dan tidak mampu menjangkau harga tiket akibat melambungnya nilai ekonomi yang digerakkan calo, kini mendapatkan kesempatan untuk menikmati pertandingan perempat final dengan harga yang jauh lebih masuk akal. Efek demokratisasi akses ini mengembalikan fungsi dasar stadion sebagai ruang perayaan olahraga, bukan sekadar komoditas eksklusif kaum elite.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di panggung Piala Dunia 2026 memberikan sebuah konklusi berharga bagi para pengamat ekonomi, pelaku industri kreatif, dan masyarakat luas. Komodifikasi olahraga, ekonomi selebritas, dan gurita ekonomi perhatian adalah realitas struktural yang tidak lagi bisa dihindari dalam ekosistem bisnis modern. Kekuatan sebuah nama besar terbukti mampu menggerakkan perputaran uang miliaran dolar, memengaruhi tingkat okupansi hotel, hingga menentukan denyut nadi ekonomi hospitalitas di kota-kota penyelenggara turnamen. Namun, pasar harus senantiasa diingatkan bahwa fondasi ekonomi yang dibangun di atas popularitas manusia memiliki batas-batas alamiahnya sendiri. Sehebat apa pun strategi pemasaran yang diterapkan, dan sekuat apa pun daya tawar ekonomi yang dimiliki oleh sebuah merek personal, sportivitas dan ketidakpastian di dalam lapangan hijau tetap memegang kedaulatan tertinggi. Angka-angka di papan skor tidak akan pernah bisa didikte oleh angka-angka di lembar portofolio saham keuangan. (*)

Editor : Arief
Opini Ekonomi Bisnis