Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Hari Anak Nasional 2026 hadir dengan tema yang menggugah: "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Namun, bagaimana mungkin kita berbicara tentang melindungi dan membangun masa depan anak, ketika fondasi utama peradaban mereka yaitu buku dan budaya membaca, justru kita biarkan terlunta? Di era di mana layar gawai lebih akrab di genggaman daripada lembaran buku, kita sedang melakukan pengkhianatan sistematis terhadap generasi penerus bangsa.
Data berbicara keras. Hasil Asesmen Nasional terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 40% siswa di tingkat pendidikan dasar belum mencapai standar literasi minimum. Fakta ini bukan sekadar angka statistik, ini adalah alarm kemanusiaan. Kemampuan literasi yang rendah secara langsung mengancam kemampuan anak-anak kita untuk berpikir kritis, memahami isu kompleks, dan pada akhirnya, menentukan masa depan mereka sendiri. Seperti yang diungkapkan Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, data terakhir PISA (Program for International Student Assessment) 2022 pun menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih tertinggal di bawah negara-negara ASEAN dan jauh di bawah rata-rata OECD. Ini adalah rapor merah yang tidak bisa lagi kita abaikan.
Buku yang Terlupakan di Tengah Derasnya Arus Digital
Mengapa buku dilupakan? Jawabannya sederhana namun menyakitkan: kita sedang kalah dalam perang atensi dengan algoritma. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dengan gamblang menyebut bahwa kebiasaan menggulir media sosial tanpa tujuan atau “mindless scrolling” menjadi tantangan terbesar bagi para pustakawan dan pegiat literasi. Dunia digital, yang seharusnya menjadi alat, justru berubah menjadi kompetitor berat yang menguras waktu dan konsentrasi anak-anak. Data BPS menunjukkan bahwa screen time masyarakat Indonesia mencapai lebih dari tujuh jam per hari, dan yang lebih memilukan, gawai sudah mulai dinikmati oleh anak-anak di bawah usia dua tahun karena para pengasuh menggunakan "babysitter digital" untuk menenangkan anak.
Fenomena ini bukan tanpa konsekuensi. Laporan TKA 2025 mengungkapkan bahwa hanya sekitar 30% siswa sekolah dasar yang mampu melakukan inferensi sederhana dari teks naratif panjang. Anak-anak kita menjadi generasi penghafal yang kehilangan arah saat dihadapkan pada soal penalaran tingkat tinggi. Kemampuan membaca mendalam (deep reading), yang merupakan syarat mutlak untuk memahami ilmu pengetahuan, tergerus oleh kebiasaan mengonsumsi informasi instan dan terpotong-potong. Seorang guru di Bandar Lampung bahkan mengeluhkan bahwa siswa kini cenderung kesulitan menyusun kalimat atau menulis dengan struktur yang benar, sebagai kemampuan dasar yang semestinya diasah melalui kebiasaan membaca buku.
Pengkhianatan Melalui Pengabaian
Ketika buku dilupakan, anak-anak dikhianati. Pengkhianatan ini datang dari berbagai pihak: dari orang tua yang lebih mudah memberikan gawai daripada membacakan dongeng, dari sekolah yang lebih sibuk mengejar target kurikulum daripada menumbuhkan cinta baca, dan dari negara yang masih menganggap literasi sebagai program seremonial, bukan fondasi pembangunan manusia.
Kepala Perpustakaan Nasional mencatat bahwa rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca sekitar 129 jam per tahun atau setara 5,91 buku. Bandingkan dengan tuntutan zaman yang membutuhkan kemampuan analisis dan sintesis tingkat tinggi. Pemerintah menargetkan peningkatan kualitas literasi membaca peserta didik dari 64% pada tahun 2025 menjadi 80% pada tahun 2029. Namun, tanpa perubahan paradigma yang radikal, target ini hanya akan menjadi angka di atas kertas.
Menuju Hari Anak yang Tidak Mengkhianati
Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah meluncurkan Gerakan Nasional RANA yang fokus membangun empat ruang aman: keluarga, sekolah, ruang publik, dan digital. Ini langkah positif, namun perlu dipertegas dengan komitmen nyata terhadap literasi sebagai benteng perlindungan anak.
Perpustakaan harus dihidupkan kembali bukan sekadar sebagai gudang buku, tetapi sebagai ruang interaktif yang menarik minat anak. Duta Pustaka Cilik Jawa Barat 2026 mengingatkan bahwa buku dan gawai sebenarnya tidak harus dipertentangkan; teknologi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan minat baca melalui aplikasi perpustakaan digital dan rekomendasi bacaan berbasis AI atau Artificial Intelligence-Kecerdasan Buatan. Kuncinya adalah pendampingan dan pengawasan yang bijak, bukan pelarangan atau pembiaran.
Lebih dari itu, kita perlu menumbuhkan kembali budaya membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban. Seperti dikatakan Kepala Perpusnas, inspirasi harus kita ambil dari Bung Hatta, sebagai seorang pemikir cerdas dan penulis produktif yang mewakili tingkat literasi tertinggi; bukan sekadar membaca dan berpikir, tapi juga mengkreasi sesuatu.
Di tengah gempuran dunia digital yang tak terbendung, buku adalah benteng terakhir yang melindungi anak-anak dari kebodohan struktural. Ketika buku dilupakan, kita kehilangan kesempatan untuk membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan berempati. Hari Anak Nasional 2026 bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk berhenti mengkhianati anak-anak kita melalui pengabaian terhadap literasi.
Kembalikan buku ke tangan anak-anak. Karena di situlah masa depan bangsa dipertaruhkan. (*)
Editor : Arief