Oleh: Muhammad Itsbatun Najih
Alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; berdomisili di Kudus
Selain haji, umrah adalah temali yang tidak dapat dipisahkan. Meski demikian, semarak orang berangkat umrah terbilang baru tampak belakangan ini. Apa sebab? Pertama, antrean pergi haji hingga belasan-puluhan tahun. Sedangkan para pendaftar haji rata-rata berusia tak lagi muda. Kedua, setidak-tidaknya, bila tidak bisa sampai berhaji, jalan terbaik adalah berumrah. Ketiga, daftar umrah langsung berangkat tanpa mengantre.
“Pengganti” Haji
Di lingkungan penulis, pernah didapati anggapan tabu ketika seseorang berumrah tetapi belum berhaji. Bagi sebagian kalangan, umrah berhukum sunah. Berkebalikan berhaji yang berhukum wajib. Umrah lantas seperti “kelas kedua” di bawah haji. Namun, fenomena di tempat penulis --dan di banyak tempat yang kurang lebih sama, anggapan tersebut perlahan memudar. Umrah mulai menjadi primadona “pengganti” haji; setidaknya dalam lima tahun terakhir.
Ketika ulama kondang, KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha ditanya seseorang yang hendak pergi umrah tapi belum berhaji, Gus Baha lalu memberikan perspektif melampaui hukum fikih. Gus Baha dawuh: Kalau kamu rindu/kangen pada Baginda Nabi Muhammad Saw, berangkat (umrah) saja dulu; bahwasanya kerinduan tidaklah mempunyai status hukum.
Penulis sendiri menunaikan ibadah umrah pada 2014 bersama rombongan besar karyawan perusahaan. Penulis sempat penasaran mengapa perusahaan mengumrahkan karyawannya. Seorang karyawan lalu bercerita bahwa apresiasi semacam itu mempunyai tujuan pada upaya pemerolehan soft benefit perusahaan itu sendiri. Sekembalinya karyawan berumrah, bakalan meningkatkan jiwa spiritualitas dan kesegaran pikiran; sehingga mampu menelorkan ide cemerlang dan bekerja lebih produktif untuk kemajuan perusahaan.
Iklan Umrah
Melihat animo masyarakat yang besar itu, membuat jumlah biro travel umrah bermunculan bak jamur di musim penghujan dengan pelbagai strategi marketing. Banyak hal dilakukan demi mendapatkan jemaah sebanyak-banyaknya. Mulai menggandeng pemuka agama hingga menggaet artis-influencer. Bahkan, sejumlah biro travel menawarkan berangkat umrah lebih dulu lalu membayarnya ketika sudah pulang alias skema utang.
Tak hanya itu, mereka juga berperang tarif. Jor-joran banting harga agar masyarakat berbondong-bondong masuk ke biro travel-nya. Tak ayal, paket umrah murah meriah pada sepuluh tahun silam tersebut sempat menjadi primadona. Usut punya usut, biro travel menggunakan skema ponzi yang di kemudian hari menimbulkan preseden jemaah gagal berangkat.
Karena boleh jadi tujuan umrah ke Arab Saudi terkata lazim, iklan umrah kekinian lantas dibuat atraktif -variatif. Banyak biro travel menawarkan paket umrah plus Turki, plus Dubai, plus Eropa. Pergeseran ini dalam perspektif spiritualitas kiranya menjadi tereduksi oleh tempelan sekunder profanitas.
Selain paket umrah tersebar di jagat media sosial, promosi umrah juga memasuki ruang fisik pelosok kampung. Di lingkungan penulis --dan kiranya di banyak tempat, banner maupun spanduk promosi paket umrah tertempel di tiang listrik, pepohonan, dan pagar rumah warga. Bahkan, tertempel di kaca belakang mobil angkutan desa.
Sosiologi Umrah
Kini, berumrah seperti halnya berangkat haji. Seminggu jelang berangkat, tetangga dan sanak saudara menjenguk alias tilik umrah. Mereka memberikan salam tempel sebagai tambahan perbekalan. Tuan rumah lalu menyiapkan balasan berupa bingkisan berisi makanan. Saat hari pemberangkatan, mereka juga menggelar walimatussafar seperti halnya pemberangkatan haji. Bedanya, menurut amatan penulis: orang kita berumrah tercipta nuansa ceria semringah. Berbeda dengan pamitan haji yang bernuansa mengharu biru-sendu.
Meski bujet umrah jauh di bawah haji, sememangnya biaya “murah” umrah hari ini pada kisaran 30 juta, misalnya, tetaplah bukan biaya terjangkau. Karena itu, umrah senantiasa menjadi hal prestis setelah impian berhaji sulit terwujud. Religiositas yang kian meningkat, membuat “ceruk” ini lantas dimanfaatkan maksimal oleh banyak perusahaan. Mereka lantas membuat undian berhadiah umrah ketimbang mobil. Dengan hanya bermodal mengirim sepuluh bungkus kopi saset, kita bisa berkesempatan menjejak Tanah Suci.
Semarak berumrah setidaknya pada lima tahun belakangan, menyembulkan simpulan sederhana perihal seturut dengan kesadaran religiositas masyarakat. Sebagaimana kala penulis berumrah, mereka yang sudah berumrah sememangnya akan mendapati pembelajaran hikmah umrah seperti halnya berhaji. Dengan kata lain, kita bertemu dengan banyak orang dari seluruh dunia. Kita menjumpa pula praktik fikih salat yang berbeda. Momentum seperti ini menibakan pada laku toleransi dan penghormatan sebagai sesama Tamu Tuhan.
Sebagai yang terlabeli “haji kecil”, umrah menjadi dambaan dan jembatan bagi mereka yang secara finansial dan usia terlampau sukar berhaji. Pun, ketika melibatkan lakon kaum papa yang viral, umrah menjadi hadiah istimewa. Kisah penjaja es teh di Magelang atau yang terbaru seorang nenek yang antusias melambaikan tangan pada iring-iringan bus jemaah haji di Padang, pun sontak diumrahkan.
Umrah ke depan
Zaman dulu jemaah umrah berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta, tetapi sekarang telah banyak bandara daerah yang melayani penerbangan langsung ke Jeddah dan Madinah. Sisi lain, semarak umrah dengan konsisten jumlah jemaah tembus sejuta lebih pada tiga tahun belakangan, menuntut adanya pengawasan ketat. Jangan sampai jemaah yang notabene dari desa dan ekonomi bawah ini --lantaran untuk umrah harus menabung lama atau menjual sawah, menjadi korban pihak yang mengatasnamakan agama tapi bersikap culas.
Di bawah kementerian baru bernama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), kita berharap babakan umrah mendapat perhatian yang sama seperti haji. Lantaran berumrah pada tataran praktiknya lebih banyak melibatkan tangan-tangan swasta dan waktu pelaksanaannya yang jauh lebih panjang. Karena itu, tantangan besar Kemenhaj adalah selain menitikberatkan aspek perlindung dan peningkatan layanan jemaah, juga menjadikan umrah mempunyai basis ekosistem tepat guna; mulai penguatan sisi ekonomi hingga diplomasi bersama Arab Saudi.
Masa depan umrah adalah menjadikan kesetaraan jemaah umrah sebagai sesama Tamu Allah sebagaimana jemaah haji. Jangan sampai jemaah umrah distigmakan sebagai jemaah “kelas kedua” ketimbang jemaah haji. Kini, rata-rata per tahunnya terdapat sejuta lebih jemaah umrah pada tiga tahun belakangan. Setibanya di Tanah Air setelah menapaki aneka ritus dan menyemai momen-momen sakralitas di Tanah Suci, kita berharap banyak pada mereka untuk menjadi pribadi yang senantiasa menebarkan spirit seta laku kesalehan di lingkup keseharian masing-masing; dan bermuara pada terwujudnya kemaslahatan kehidupan berbangsa-bernegara. Wallahu a’lam.
Editor : Arief