Oleh: Muhamad Yusuf, S.Pd
Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat semakin mudah mengenal sosok yang disebut publik figur. Mereka hadir melalui layar televisi, media sosial, kanal video, hingga berbagai pemberitaan di internet. Apa yang mereka lakukan, ucapkan, bahkan unggah dalam kehidupan sehari hari dapat disaksikan jutaan orang dalam waktu singkat. Kondisi ini menjadikan publik figur memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan cara berpikir dan perilaku masyarakat, terutama generasi muda. Oleh karena itu, ketika bangsa menghadapi krisis moral yang ditandai dengan meningkatnya perilaku tidak jujur, perundungan, ujaran kebencian, dan lunturnya etika, keteladanan publik figur menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.
Generasi muda merupakan kelompok yang paling dekat dengan dunia digital. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu untuk mengikuti berbagai akun yang dianggap menarik. Mereka mengenal penulis, dokter, dosen, ilmuwan, pendakwah, pengusaha, kreator konten edukasi, pegiat lingkungan, hingga relawan kemanusiaan. Tokoh-tokoh tersebut sering menjadi sumber inspirasi karena dianggap berhasil dalam bidangnya. Tidak sedikit remaja yang meniru cara berbicara, cara berpikir, bahkan gaya hidup orang yang mereka kagumi.
Pengaruh itu sesungguhnya merupakan peluang besar untuk membangun karakter bangsa. Ketika seorang penulis mengajak anak muda gemar membaca, semangat literasi ikut tumbuh. Ketika seorang dokter mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, banyak remaja mulai menjalani pola hidup yang lebih baik. Ketika seorang ilmuwan memperkenalkan hasil penelitiannya dengan bahasa sederhana, rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan semakin berkembang. Begitu pula ketika seorang pegiat lingkungan mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai atau mengurangi sampah plastik, kepedulian terhadap alam ikut meningkat. Keteladanan seperti inilah yang sangat dibutuhkan di tengah kehidupan masyarakat saat ini.
Sayangnya, tidak semua publik figur memanfaatkan popularitasnya untuk menyebarkan nilai nilai positif. Sebagian justru lebih mengutamakan sensasi demi memperoleh perhatian. Perdebatan yang kasar, penyebaran informasi yang belum tentu benar, gaya hidup yang berlebihan, hingga perilaku yang melanggar norma sering dipertontonkan di ruang digital. Akibatnya, sebagian generasi muda menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang biasa. Mereka lebih mengejar ketenaran daripada prestasi. Mereka lebih bangga menjadi viral daripada menjadi pribadi yang berintegritas.
Perkembangan teknologi digital sebenarnya memberikan kesempatan yang sangat luas bagi publik figur untuk menyebarkan pengaruh yang baik. Melalui unggahan singkat, siaran langsung, maupun berbagai kegiatan sosial yang didokumentasikan, mereka dapat mengajak masyarakat melakukan hal hal positif. Kampanye tentang budaya membaca, gerakan menanam pohon, kepedulian terhadap kesehatan mental, semangat berwirausaha, hingga aksi kemanusiaan dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan menit. Hal ini menunjukkan bahwa media digital bukanlah penyebab krisis moral, melainkan sarana yang dapat membawa dampak positif ataupun negatif, bergantung pada bagaimana media tersebut dimanfaatkan.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menentukan figur yang akan memperoleh perhatian. Setiap tayangan yang ditonton, setiap unggahan yang dibagikan, dan setiap komentar yang diberikan akan memengaruhi algoritma media sosial. Apabila masyarakat lebih sering memberikan dukungan kepada konten yang mendidik, inspiratif, dan bermanfaat, ruang digital akan dipenuhi oleh lebih banyak contoh positif. Sebaliknya, apabila sensasi dan kontroversi terus mendapatkan perhatian terbesar, maka semakin banyak orang yang terdorong menciptakan konten serupa demi meraih popularitas.
Oleh karena itu, membangun budaya keteladanan harus menjadi tanggung jawab bersama. Publik figur perlu menyadari besarnya pengaruh yang mereka miliki, sementara masyarakat harus lebih bijaksana dalam memilih siapa yang layak dijadikan panutan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa bangsa sedang menghadapi tantangan moral yang serius. Krisis moral tidak selalu ditandai dengan meningkatnya angka kejahatan. Krisis moral juga terlihat ketika rasa hormat kepada orang lain semakin berkurang, kejujuran mulai diabaikan, sopan santun dianggap kuno, dan kepedulian terhadap sesama semakin memudar. Dalam situasi seperti itu, publik figur memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan contoh yang baik melalui sikap maupun tindakan nyata.
Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, telah lama mengajarkan bahwa pendidikan harus dimulai dari keteladanan melalui semboyan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Makna semboyan tersebut tetap relevan hingga sekarang. Seseorang yang berada di depan harus mampu menjadi teladan bagi orang lain. Meskipun publik figur bukan guru di ruang kelas, keberadaan mereka di ruang publik menjadikan mereka sebagai figur yang diamati dan ditiru oleh jutaan orang.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Prof. Arief Rachman. Pakar pendidikan Indonesia tersebut menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui nasihat, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk keteladanan. Anak muda lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Oleh sebab itu, perilaku seorang publik figur memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar kata kata yang disampaikan.
Namun, tanggung jawab membangun karakter generasi muda tidak hanya berada di tangan publik figur. Keluarga dan sekolah tetap menjadi benteng utama. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan media sosial. Guru juga perlu membimbing peserta didik agar mampu berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang mereka terima. Generasi muda harus memahami bahwa tidak semua orang terkenal layak dijadikan panutan.
Masyarakat pun perlu mengubah cara memberikan apresiasi. Selama ini perhatian sering lebih tertuju kepada kontroversi daripada prestasi. Akibatnya, tokoh yang bekerja dengan jujur, sederhana, dan penuh dedikasi kurang mendapatkan ruang. Padahal, bangsa membutuhkan lebih banyak figur yang dikenal karena integritasnya, bukan karena sensasinya.
Pada akhirnya, krisis moral tidak dapat diatasi hanya melalui aturan atau hukuman. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak teladan yang hidup di tengah masyarakat. Publik figur memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian dari solusi tersebut. Ketika mereka menggunakan popularitasnya untuk menyebarkan kejujuran, kerja keras, kepedulian, dan tanggung jawab, mereka sedang membantu membentuk generasi muda yang berkarakter. Sebaliknya, apabila mereka terus mengutamakan sensasi tanpa memikirkan dampaknya, krisis moral akan semakin sulit diatasi. Oleh karena itu, keteladanan publik figur bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab moral demi masa depan generasi muda dan kemajuan Indonesia. (*)
Editor : Arief