Oleh: H. Asmu’i Syarkowi
Hakim PTA Banjarmasin
Siapa pun yang menyaksikan laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Mesir dan Argentina hampir pasti mengira pertandingan telah selesai ketika papan skor menunjukkan angka 2-0. Di hadapan mereka berdiri Argentina, sang juara bertahan, dengan Lionel Messi sebagai ikon sekaligus ruh permainan. Bahkan, Messi sempat gagal mengeksekusi penalti. Saat itu, stadion seolah percaya bahwa sebuah kejutan besar akan tercipta. Mesir tinggal menjaga keunggulan beberapa menit lagi. Sejarah terasa begitu dekat.
Namun, sepak bola mempunyai satu hukum yang tidak pernah berubah: “pertandingan baru benar-benar selesai ketika peluit panjang dibunyikan.” Yang terjadi setelah itu sungguh di luar dugaan. Dalam tiga belas menit terakhir, keadaan berubah secara dramatis. Argentina memperkecil ketertinggalan. Tidak lama berselang, gol penyeimbang lahir. Ketika pertandingan memasuki masa tambahan waktu, gol ketiga memastikan kemenangan Argentina 3-2. Dalam sekejap, euforia berganti duka. Mimpi yang hampir menjadi sejarah berubah menjadi pelajaran yang sulit dilupakan.
Saya tidak sedang ingin membahas strategi Lionel Messi atau taktik kedua pelatih atau peran Mohammed Salah sang legenda Mesir. Saya justru melihat pertandingan itu sebagai cermin kehidupan. Bukankah hidup kita sering berjalan seperti itu?
Ada orang yang merasa masa depannya telah aman karena hari ini ia berada di puncak. Jabatan telah diraih. Kekayaan telah terkumpul. Penghargaan datang silih berganti. Ia mulai percaya bahwa kemenangan sudah menjadi miliknya. Padahal, peluit akhir belum berbunyi.
Sebaliknya, ada orang yang berkali-kali gagal. Usahanya bangkrut. Kariernya tersendat. Cita-citanya tertunda. Ia merasa hidup telah selesai. Padahal, peluit akhir juga belum dibunyikan.
Di situlah Al-Qur'an mengajarkan keseimbangan yang sangat indah.
"...agar kamu tidak terlalu berduka terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan kepadamu..." (QS. Al-Hadid: 23).
Ayat ini tidak melarang kita bergembira, sebagaimana tidak melarang kita bersedih. Yang dilarang adalah kehilangan keseimbangan. Terlalu larut dalam kemenangan dapat melahirkan kesombongan. Terlalu tenggelam dalam kekalahan dapat melahirkan keputusasaan. Padahal keduanya sama-sama dapat menyesatkan langkah manusia.
Pertandingan Mesir melawan Argentina mengajarkan dua pelajaran sekaligus. Argentina mengajarkan arti harapan. Mesir mengajarkan arti kewaspadaan. Kehidupan membutuhkan keduanya. Jangan menyerah ketika tertinggal. Sebab keadaan dapat berubah selama kesempatan masih ada. Tetapi jangan pula lengah ketika sedang unggul. Sebab keunggulan bukanlah jaminan.
Dalam ruang sidang, saya sering menyaksikan perkara yang semula tampak sederhana ternyata berakhir rumit. Sebaliknya, perkara yang sejak awal diperkirakan berliku justru berakhir damai. Demikian pula kehidupan. Ada orang yang masa mudanya penuh kesulitan, tetapi menutup usia dengan kemuliaan. Ada pula yang mengawali hidup dengan gemilang, namun mengakhirinya dengan penyesalan.
Kita sering tergesa-gesa menyimpulkan kehidupan, padahal Allah masih terus menulis halaman berikutnya. Karena itu, jangan terlalu cepat bertepuk tangan atas keberhasilan kita. Masih ada babak-babak yang harus dijalani. Dan jangan pula terlalu cepat menangisi kegagalan. Boleh jadi Allah sedang menyiapkan kemenangan yang belum tampak oleh mata kita.
Sepak bola akhirnya mengajarkan satu kebijaksanaan yang sederhana, tetapi sangat dalam. Jangan merasa menang sebelum peluit akhir berbunyi. Jangan merasa kalah selama peluit akhir belum dibunyikan. Sebab, sebagaimana di lapangan hijau, kehidupan selalu menyimpan kejutan hingga detik terakhir. Dan barangkali, pelajaran terbesar dari pertandingan Argentina melawan Mesir bukanlah tentang skor 3-2. Melainkan tentang satu kenyataan bahwa kesalahan terbesar manusia adalah menyimpulkan takdir sebelum Allah selesai menuliskannya. (*
Editor : Arief