Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Selalu setia, Semper Fi, semboyan yang melambangkan kesetiaan abadi di dalam jiwa para Marinir.
Jelang akhir tahun 2001, pertama kali semboyan itu saya lihat di belakang layar tabung komputer di meja kantor biro Radar Banjarmasin, di Jalan Hasan Basri, Kayu Tangi 2, Banjarmasin Utara.
Orang pertama yang saya tanya tentang makna Semper Fi adalah pemilik meja itu, Syarifuddin Ardasa.
Rasa penasaran mendorong saya untuk mengajak Udin, panggilan akrabnya, berdiskusi tentang arti dan makna filosofis Semper Fi. Kesetiaan. Itulah arti kata Semper Fi, ucap Udin. Satu arti kata, tapi lanjut Udin, makna dan terjemahannya bisa sangat luas.
Kenangan 25 tahun lalu itu begitu membekas dalam ingatan saya. Diskusi kami sangat cair. Udin, pria yang terlihat pendiam, adalah pendengar yang baik. Ia tidak memposisikan diri sebagai redaktur atau senior. Tidak juga menggurui. Bicara dengannya seperti bicara dengan seorang filsuf.
Kini ia telah berpulang. Semoga Allah merahmatinya. Tapi diskusi bersamanya tentang Semper Fi masih terus melekat seperti baru terjadi kemarin.
Dalam konteks jurnalisme, Udin menjelaskan bahwa Semper Fi adalah kesetiaan dan kesediaan memegang teguh prinsip jurnalisme yang berkhidmat untuk kepentingan publik.
Dalam kondisi kekinian, makna kesetiaan ini terasa relevan untuk kembali dipertanyakan. Bukan hanya dalam konteks jurnalisme, tapi dalam semua dimensi kehidupan kita.
Kesetiaan sepertinya hanya menjadi slogan yang tak lagi memiliki makna dan nilai filosofis. Moral, norma, dan etika tak lagi dipegang dengan penuh kesetiaan.
Itulah yang kini dipertontonkan oleh pejabat negara, elit parpol, dan aparat penegak hukum bangsa ini. Janji dan sumpah jabatan sebagai pernyataan kesanggupan menjaga moral, hukum, dan spiritual untuk menjalankan tugas dengan penuh integritas, jujur, dan bertanggung jawab, semua hanya omong kosong.
Pada akhirnya, siapa pun kita, apa pun jabatan dan profesi kita, seberapa besar pengaruh dan kekuasaan yang kita miliki, akan diuji oleh waktu seberapa setia kita bisa menjaga integritas dan moral.
Kesetiaan tak lagi memiliki arti dan makna sebagai kompas moral pejabat publik. Sumpah untuk setia pada konstitusi, janji berkhidmat pada kemaslahatan publik, berganti menjadi ambisi dan hasrat untuk menguasai semuanya.
Kesetiaan pejabat hanya pada kepentingan kelompok dan penguasa, bukan untuk bangsa dan negara, apalagi rakyat.
Rakyat sebenarnya sudah muak dengan tingkah polah pejabat negara dan aparat penegak hukum yang lebih setia pada kepentingan mereka sendiri.
Pengkhianatan atas kesetiaan sumpah jabatan ini sebenarnya telah dilawan. Jurnalis tak lelah bersuara, tapi tak dianggap. Mahasiswa terus bergerak, tapi diadu domba. Rakyat berteriak, nyatanya semakin ditindas.
Hukum dikangkangi, aturan pun diobrak-abrik. Kewenangan dilegitimasi jadi alat politik untuk melanggengkan kekuasaan.
Ketika kesetiaan dikhianati, ketika suara rakyat dimanipulasi, dan moral serta nurani telah hilang, maka hanya doa yang menjadi pengharapan. Bila doa rakyat yang dizalimi itu menggetarkan langit ketujuh, hingga turun jawaban dari langit, semoga hanya tertimpa pada orang-orang yang mengkhianati kesetiaannya. (*)
Editor : Arief