Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengapa Harga Pangan Sulit Stabil?

admin • Rabu, 8 Juli 2026 | 21:45 WIB
Haris Zaky Mubarak, MA
Haris Zaky Mubarak, MA

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA
Analis dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia,
Anggota Pengurus Cabang Muhammadiyah Yogyakarta

            Tidak ada isu ekonomi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat selain persoalan harga pangan. Ketika harga cabai naik, ketika beras melonjak, atau ketika harga minyak goreng bergejolak, dampaknya langsung terasa di dapur rumah tangga. Karena itu, fluktuasi harga pangan sering kali menjadi indikator yang mudah dibaca masyarakat untuk menilai kondisi ekonomi suatu negara. Namun, di balik perubahan harga yang terlihat di pasar, terdapat proses panjang yang melibatkan faktor produksi, distribusi, kebijakan pemerintah, perubahan iklim, dinamika perdagangan global, hingga pada perilaku konsumsi masyarakat.

            Perjalanan panjang pangan dari sawah ke meja makan sesungguhnya merupakan cermin dari kompleksitas sistem ekonomi yang menopang kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai komoditas pangan strategis di Indonesia faktanya kembali mengalami gejolak harga.Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang mendasar, mengapa harga pangan terus berfluktuasi, bahkan di negara agraris seperti Indonesia?

Membaca Ulang Sejarah

            Untuk memahami persoalan harga pangan, kita perlu melihat kembali dari perspektif sejarah. Sejarawan pangan Indonesia, Fadly Rahman pernah menuliskan jika pangan tak pernah semata-mata memahami persoalan konsumsi. Persoalan pangan akan selalu berkaitan dengan relasi kekuasaan, perdagangan, budaya, dan struktur sosial masyarakat (Rahman, 2016).Dalam sejarah pangan Nusantara, Fadly Rahman menunjukkan jika sejak masa kolonial, komoditas pangan telah menjadi bagian dari sistem ekonomi yang dipengaruhi oleh kepentingan politik dan perdagangan global. Produksi pangan lokal sering mengalami tekanan akibat orientasi ekspor komoditas perkebunan yang lebih menguntungkan pemerintah kolonial.

            Akibatnya, ketahanan pangan masyarakat menjadi rentan terhadap perubahan harga dan distribusi.Pelajaran ini kemudian menunjukkan evidensi rasional jika fluktuasi harga pangan bukanlah fenomena baru. Ia  masih merupakan bagian dari proses dinamika panjang yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara (2016), Fadly Rahman masih menegaskan jika sistem pangan Indonesia sejak lama berada dalam persimpangan antara kebutuhan lokal dan tekanan pasar yang lebih luas. Artinya jika keseimbangan ini terganggu, maka harga pangan menjadi salah satu indikator pertama yang mengalami gejolak.

            Secara teoritis,fluktuasi harga pangan dapat terjadi karena adanya perubahan hubungan antara permintaan dan penawaran. Ekonom Alfred Marshall menyebut jika setiap harga akan terbentuk melalui interaksi jumlah barang yang tersedia dan kebutuhan masyarakat terhadap barang tersebut (Marshall, 1890). Pada saat terjadi penurunan pasokan permintaan tetap atau meningkat,maka harga akan terus menaik. Sebaliknya, jika produksi melimpah dan permintaan relatif stabil, harga akan cendrung turun.

             Masalahnya kemudian, sektor pangan selalu memiliki karakteristik yang sangat berbeda jika dibandingkan pada sektor ekonomi lainnya. Karena itu faktanya, permintaan pangan relatif tidak elastis. Masyarakat tetap harus makan meskipun harga menjadi naik. Berbeda dengan barang elektronik atau produk gaya hidup yang dapat ditunda pembeliannya, maka kebutuhan pangan tidak dapat dihilangkan. Karena itu, jika sedikit ada gangguan pada pasokan sering kali ia akan menghasilkan lonjakan harga yang cukup besar.

            Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga pangan saat ini adalah perubahan iklim. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2022) menunjukkan bahwa peningkatan suhu global telah mengubah pola curah hujan, memperpanjang musim kemarau, dan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Dampaknya langsung dirasakan sektor pertanian. Fenomena El Nino misalnya, sering menyebabkan penurunan produksi padi, cabai, bawang merah, dan berbagai komoditas hortikultura lainnya. Ketika hasil panen menurun, pasokan berkurang dan harga meningkat.

            Dalam sejarah Indonesia, gejolak harga pangan akibat faktor iklim bukan hal baru. El Nino 1997–1998 setidaknya menjadi satu contoh manakala produksi pertanian terjadi penurunan maka secara bersamaan terjadi krisis ekonomi sehingga kondisional ini mendorong terjadinya inflasi pangan secara signifikan (Booth, 1998).

            Perubahan iklim juga membuat risiko semakin sering terjadi. Artinya, stabilitas harga pangan tidak lagi hanya bergantung pada kebijakan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan lingkungan. Persoalan berikutnya terletak pada rantai distribusi. Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Kondisi geografis ini menyebabkan biaya logistik menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Menurut kajian Bank Dunia (2023), biaya distribusi pangan di Indonesia masih menjadi faktor penting yang memengaruhi harga akhir yang dibayar konsumen. Selisih harga antara tingkat petani dan pasar sering kali sangat besar karena adanya biaya transportasi, penyimpanan, dan perantara perdagangan. Akibatnya muncul paradoks yang sering terjadi. Ketika harga di tingkat petani rendah, harga di tingkat konsumen justru tinggi .Fenomena ini menunjukkan jika setiap persoalan harga pangan tidak selalu berasal dari kekurangan produksi. Dalam banyak kasus, masalah utama justru berada pada sistem distribusi yang belum efisien.

Permintaan dan Penawaran

            Di era globalisasi, harga – harga pangan domestik juga dipengaruhi perkembangan pasar internasional. Ekonom Joseph Stiglitz (2002) menjelaskan integrasi ekonomi global akan dapat menciptakan hubungan yang semakin erat antara pasar domestik dan pasar dunia. Setiap terjadi kenaikan harga pangan global dapat dengan cepat hal itu akan dapat memengaruhi harga pada tingkat nasional. Indonesia masih mengimpor komoditas pangan strategis, termasuk gandum, kedelai, gula, dan sebagian kebutuhan daging. Ketika harga internasional meningkat atau nilai tukar rupiah melemah, biaya impor ikut naik. Dampaknya diteruskan ke pasar domestik.

            Perang Rusia-Ukraina sejak 2022 telah memberikan contoh nyata bagaimana konflik geopolitik dapat memengaruhi harga pangan dunia. Gangguan pasokan gandum dan pupuk menyebabkan kenaikan harga berbagai komoditas pangan pada banyak negara, termasuk Indonesia. Ini memberi faktualitas rasional jika ketahanan pangan nasional tak dapat dipisahkan dari dinamika ekonomi global. Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah psikologi pasar. Ekonom Robert Shiller (2019) menjelaskan jika keputusan ekonomi tak selalu didasarkan pada informasi rasional. Narasi, rumor, dan ekspektasi masyarakat sering kali memengaruhi perilaku pasar.

            Ketika muncul informasi mengenai potensi gagal panen atau gangguan distribusi, pelaku pasar dapat melakukan pembelian dalam jumlah besar untuk mengantisipasi kenaikan harga. Akibatnya, pasokan di pasar berkurang dan harga naik cepat. Fenomena ini dikenal sebagai inflation expectation atau ekspektasi inflasi.Dalam konteks pangan, persepsi sering kali sama pentingnya dengan kondisi riil. Ketakutan terhadap kelangkaan dapat menciptakan kelangkaan itu sendiri.

             Sejarah menunjukkan negara-negara yang berhasil menjaga stabilitas harga pangan adalah negara yang memiliki sistem cadangan pangan yang kuat.Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok secara konsisten mempertahankan cadangan beras nasional sebagai instrumen stabilisasi pasar. Mereka memahami jika pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga instrumen keamanan nasional.Amartya Sen (1981) menyebut jika krisis pangan sering kali bukan disebabkan kurangnya produksi, melainkan oleh kegagalan institusi dalam menjamin akses masyarakat terhadap pangan.Pandangan ini relevan bagi Indonesia. Produksi yang tinggi tidak otomatis menjamin harga yang stabil jika distribusi, cadangan pangan, dan tata kelola pasar tidak berjalan efektif.

            Pada akhirnya, harga pangan yang kita lihat di pasar merupakan hasil dari perjalanan panjang sejak proses produksi di lahan pertanian hingga tiba di meja makan konsumen. Di sepanjang perjalanan tersebut terdapat berbagai faktor yang memengaruhi harga: cuaca, produktivitas lahan, biaya pupuk, ongkos transportasi, nilai tukar rupiah, perdagangan internasional, hingga perilaku pelaku pasar. Karena itu, pendekatan yang terlalu sederhana sering kali gagal memahami akar persoalan. Menyalahkan petani ketika harga naik sama kelirunya dengan menganggap impor sebagai solusi tunggal.

            Dalam penguatan ekosistem pangan, Pemerintah sesungguhnya perlu untuk dapat memperkuat kembali infrastruktur logistik, meningkatkan produktivitas pertanian, memperluas cadangan pangan nasional, mengembangkan sistem informasi harga yang transparan, serta mempercepat adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim.Lebih dari itu, Indonesia harus dapat mengubah cara pandang terhadap pangan. Sebagaimana diingatkan Fadly Rahman, pangan bukan sekadar soal ekonomi,tapi juga soal sejarah, budaya, identitas, dan keberlanjutan bangsa.

            Fluktuasi harga pangan mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, dampaknya dapat diminimalkan jika sistem pangan nasional dibangun secara lebih tangguh, efisien, dan berkeadilan. Sebab pada akhirnya, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau besarnya investasi, melainkan juga dari kemampuannya memastikan bahwa pangan tetap tersedia, terjangkau, dan dapat diakses oleh seluruh rakyat. Dari sawah hingga meja makan, di situlah sesungguhnya masa depan ketahanan nasional dipertaruhkan. (*)

Editor : Arief
#Opini #pangan