Oleh: Rahma Sugihartati
Guru Besar Sains Informasi FISIP Universitas Airlangga
Uang belakangan terasa makin tidak berharga. Dompet rasa-rasanya juga makin cepat tipis. Habis dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang harganya terus melambung. Kenaikan harga-harga berbagai barang kebutuhan pokok dan biaya cicilan mulai menggerogoti tabungan dan penghasilan masyarakat. Bila sebelumnya hidup cukup –meski tidak berlebih--, kini terasa beda. Akibatnya, masyarakat pun cenderung kian selektif dalam berbelanja. Ini memberikan sinyal bahwa masyarakat, terutama kelas menengah, menghadapi risiko penurunan kelas.
Entah diakui atau tidak, di masyarakat kini tengah terjadi inflasi yang menekan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi yang cenderung meningkat dalam setahun terakhir. Inflasi secara tahunan pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen, lebih tinggi dibandingkan di Juni 2025 yang mencapai 1,87 persen. Di sisi yang lain, Bank Indonesia juga telah memutuskan menaikan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen hanya dalam kurun waktu dua bulan terakhir sebagai respons untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan Bank Indonesia cepat atau lambat tentu akan menambah beban bunga cicilan kredit, terutama yang mengambil skema mengambang (floating).
Makin Sulit
Bagi keluarga kelas menengah yang memiliki tabungan yang cukup, mungkin mereka tidak terlalu tertekan menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Tetapi, lain soal bagi keluarga yang baru menuju kelas menengah dan terlebih keluarga miskin, menghadapi tekanan kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari tentu sangat berat.
Saat ini, keluarga yang sudah memiliki anak usia sekolah dan di bulan-bulan ini harus menyiapkan dana untuk keperluan pendidikan anaknya, bisa dipastikan mereka akan menanggung tekanan yang sulit dihindari. Rata-rata pengeluaran keluarga naik 20-25 persen akibat kenaikan harga barang kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika harga BBM nonsusidi naik, harga oli mesin juga mengikuti naik, dan sejumlah pangan pokok, terutama beras, ikut naik, maka konsekuensinya alokasi dana yang dikeluarkan masyarakat pun otomatis makin besar. Bagi keluarga yang memiliki cicilan rumah yang bunganya mulai merangkak naik, apalagi jika keluarga itu juga menanggung beban cicilan kendaraan bermotor, entah itu mobil maupun sepeda motor, tentu beban yang ditanggung sangat berat.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sehari-hari, tidak sedikit keluarga yang harus melakukan penghematan dan mengembangkan strategi yang taktis. Di masyarakat, sudah bukan rahasia lagi jika sebagian keluarga beberapa kali terpaksa mamanfaatkan layanan paylater (BNPL) di lokapasar untuk membeli keperluan yang mendesak. Akibat penghasilan tetap atau bahkan turun, sementara kebutuhan tidak bisa ditunda, maka mekanisme paylater menjadi jalan keluar yang memungkinkan. Persoalan apakah kemudian bisa membayar, itu soal lain.
Ketika suku bunga pinjaman naik, masyarakat umumnya memang menghindari risiko meminjam uang di bank. Mereka sadar bahwa kewajiban membayar cicilan pinjaman bisa-bisa melampaui penghasilan yang diterima. Tetapi, sebagian masyarakat yang tidak berpikir panjang, tidak sedikit yang kemudian terperangkap tawaran dari pinjol (pinjaman online). Padahal, sekali masuk dalam perangkap pinjol ini, maka kemungkinan harus membayar bunga cicilan yang sangat tinggi justru lebih besar terjadi. Keluarga yang terjerat pinjol, alih-alih mampu melunasi pinjamannya, seringkali mereka justru terperangkap dalam mekanisme gali lubang, tutup lubang hingga satu titik mereka harus rela menjual barang-barng berharga miliknya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit kelas menengah yang kini kelabakan menghadapi kenaikan harga barang. Bahkan, sebagian kelas menengah akhirnya harus rela turun kelas menjadi orang miskin baru. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun sekitar 10 juta orang, dari 57 juta orang pada 2019 menjadi 47 juta orang pada 2025.
Berbeda
Di tengah kondisi yang menekan masyarakat, seperti pelemahan nilai tukar rupiah dan gejolak energi dunia yang mendorong penyesuaian harga atau administered prices, masyarakat kini dihadapkan pada kenyataan pahit, bahwa pendapatan tidak tumbuh secepat kenaikan harga barang. Mulai dari kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras, bawang, daging ayam, hingga tarif transportasi publik, setiap rupiah yang dimiliki kini terasa kian berharga. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya di mana penghasilan yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat ini kondisinya berbeda.
Pertama, masyarakat saat ini harus menanggung kenaikan harga komoditi pertanian yang dikonsumsi sehari-hari imbas kenaikan harga BBM. Di berbagai daerah, banyak kasus menunjukkan bahwa biaya distribusi yang membengkak akibat kenaikan harga bahan bakar. Bagi produsen, tentu mereka tidak mau keuntungan yang diperoleh berkurang. Kenaikan biaya operasional biasanya akan dibebankan kepada konsumen akhir, sehingga menjadikan beban hidup berlipat ganda.
Kedua, masyarakat juga dihadapkan pada risiko kehilangan pekerjaan atau usaha yang ditekuni mengalami kemunduran karena berkurangnya jumlah pembeli. Para pelaku UMKM di berbagai daerah, banyak yang mengeluh ketika pesanan turun dan omzet sehari-hari turun karena pasar yang sepi. Alih-alih memetik keuntungan lebih dari kenaikan harga barang, justru para pelaku UMKM harus menanggung ancaman usahanya kolaps karena daya beli masyarakat yang turun.
Optimis
Menghadapi kenaikan harga barang yang terus melambung dan tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh, masyarakat mau tidak mau dituntut untuk lebih bijak dan adaptif dalam mengelola keuangan. Pengelolaan penghasilan yang ketat menjadi kunci utama. Prioritas harus diberikan sepenuhnya pada kebutuhan pokok dan dana darurat, sementara pengeluaran sekunder atau gaya hidup harus dikesampingkan. Masyarakat kini tidak lagi bebas dapat membeli berbagai barang sekunder atau tersier sekadar menuruti hasratnya untuk berbelanja.
Penghematan adalah kunci untuk dapat selamat keluar dari tekanan inflasi yang kini terjadi. Pandai-pandai memanfaatkan program perlindungan sosial dari pemerintah, seperti bantuan pangan atau program operasi pasar murah yang diinisiasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Kementerian Pertanian, menjadi langkah penting untuk meringankan beban harian.
Perlu disadari, tekanan hidup akibat kenaikan harga adalah ujian ketahanan bagi kita semua. Kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, pengendalian inflasi yang efektif, serta kepekaan sosial dari para pelaku usaha merupakan penopang utama yang akan menentukan seberapa cepat kita bisa bangkit. Di tengah badai ekonomi ini, harapan untuk kehidupan yang lebih baik tetap harus dirawat, sembari terus berupaya mencari jalan keluar yang realistis ditempuh. Tanpa didukung optimisme menghadapi tekanan hidup, maka kita benar-benar akan digilas kenaikan harga.
Editor : Arief