Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Di saat benua eropa dilanda gelombang panas, Indonesia mengalami kegelapan yang dirasakan semua provinsi. Semua pulau dari ujung Sumatera hingga wilayah timur kepulauan Indonesia merasakan dan mengalami pemadaman listrik bergilir.
Kegelapan yang melanda Indonesia ini menggambarkan ada situasi kritis yang sebenarnya lebih dari sekadar krisis energi.
Mari kita urai dari pengakuan pimpinan PLN. Dalam rapat dengan DPRD Kalsel, pimpinan PLN Kalselteng mengungkap pemadaman ini diakibatkan pasokan daya dari enam pembangkit di tiga provinsi di Pulau Kalimantan mengalami masalah secara bergantian.
Akibatnya, PLN mengalami defisit daya untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Kalimantan. Satu pembangkit bermasalah, maka pembangkit lain yang harus menanggung daya pasokan.
Beban berlebih ini bisa membuat pembangkit yang normal mengalami overload hingga ikut terganggu. Gangguan atau masalah sekecil apapun sangat rentan memicu gangguan pada pembangkit lainnya.
Bisa dibayangkan, enam pembangkit sebagai pemasok daya listik untuk Pulau Kalimantan mengalami gangguan bergantian. Otomatis sistem interkoneksi mengalami kekurangan daya.
Namun, satu sisi mengalami oveload beban akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan. Pilihannya hanya satu, melakukan pemadaman bergilir untuk memastikan agar Kalimantan tak mengalami black out.
Bagaimana kalau ternyata gangguan terhadap enam pembangkit itu bukan dipicu masalah teknis. Tapi karena memang minimnya pasokan batu bara sebagai sumber utama penggerak mesin uap untuk menggerakkan turbin listrik.
Karena logikanya, kerusakan secara bergantian dalam rentang waktu yang tak berbeda jauh, hanya mungkin terjadi bila penyebabnya dipicu oleh faktor yang sama.
Semoga Indonesia gelap hanya sesaat. Mari berdoa agar PLN bisa segera menyelesaikan masalah pada pembangkit yang mengalami gangguan. Karena saya percaya motto PLN bahwa listrik adalah kebutuhan untuk kehidupan yang lebih baik. (*)
Editor : Arief