Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bom Waktu Senyap dari Sektor Veteriner

admin • Sabtu, 4 Juli 2026 | 17:16 WIB
Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh. M.kes
Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh. M.kes

Oleh: Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh. M.kes
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan  Universitas Airlangga

Kemajuan ilmu kedokteran modern telah membawa berbagai terobosan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit. Namun di tengah kemajuan tersebut, dunia menghadapi paradoks yang mengkhawatirkan. Saat teknologi kesehatan semakin canggih, efektivitas antibiotic salah satu penemuan terbesar dalam sejarah medis justru semakin terancam oleh Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistensi antimikroba.

Organisasi dunia seperti WHO, FAO, dan WOAH menempatkan AMR sebagai salah satu ancaman kesehatan global paling serius abad ini. Masalah ini tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia, tetapi juga kesehatan hewan, keamanan pangan, serta kelestarian lingkungan. Karena itu, AMR dipandang sebagai isu lintas sektor yang harus ditangani melalui pendekatan One Health.

Besarnya ancaman AMR tergambar dalam laporan The Lancet tahun 2022 yang menyebutkan bahwa pada tahun 2019 terdapat sekitar 4,95 juta kematian yang berhubungan dengan resistensi antimikroba, dengan 1,27 juta kematian secara langsung disebabkan oleh infeksi bakteri resisten. Angka ini menempatkan AMR sebagai salah satu penyebab kematian utama di dunia. Bahkan, laporan Review on Antimicrobial Resistance yang dipimpin Jim O'Neill memperkirakan bahwa tanpa intervensi serius, AMR dapat menyebabkan hingga 10 juta kematian setiap tahun pada 2050.

Sektor Veteriner: Antara Kebutuhan dan Risiko

Di sektor peternakan, antibiotik memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan produktivitas hewan. Namun penggunaan yang tidak bijaksana dapat menjadi pendorong utama munculnya resistensi antimikroba. Van Boeckel dan kolega (2015) memperkirakan konsumsi antibiotik pada hewan produksi mencapai lebih dari 63.000 ton per tahun secara global dan diproyeksikan meningkat hingga 67% pada tahun 2030. Peningkatan kebutuhan protein hewani, terutama di negara berkembang, menjadi salah satu faktor utama tingginya penggunaan antibiotik.

Masalah muncul ketika antibiotik digunakan secara berlebihan, tidak berdasarkan diagnosis yang tepat, atau diberikan secara massal tanpa pengawasan yang memadai. Kondisi ini menciptakan tekanan seleksi yang memungkinkan bakteri berkembang menjadi resisten. Mikroorganisme seperti Escherichia coli, Salmonella spp, Campylobacter spp., Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa menjadi contoh patogen yang semakin sulit dikendalikan akibat resistensi.

Ancaman tersebut tidak berhenti pada hewan. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 70–90% antibiotik yang diberikan pada ternak dapat dikeluarkan kembali melalui urin dan feses dalam bentuk aktif maupun metabolitnya. Limbah peternakan kemudian menjadi reservoir gen resistensi yang dapat menyebar melalui tanah, air, dan berbagai komponen lingkungan lainnya. Akibatnya, AMR berkembang menjadi persoalan ekologi mikroba yang melibatkan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.

Jalur Transmisi dan Risiko bagi Kesehatan Masyarakat

Pendekatan One Health menjelaskan bahwa resistensi antimikroba dapat berpindah lintas spesies dan lintas ekosistem. Berbagai studi epidemiologi molekuler menemukan kesamaan genetik antara bakteri resisten yang berasal dari hewan, produk pangan, dan manusia.

Rantai pangan menjadi salah satu jalur transmisi utama. Produk asal hewan yang terkontaminasi bakteri resisten dapat menjadi sumber infeksi pada manusia. Selain itu, kontak langsung antara manusia dan hewan, terutama pada peternak, pekerja kandang, maupun tenaga kesehatan hewan, meningkatkan risiko kolonisasi bakteri resisten.

Lingkungan yang tercemar limbah peternakan juga berperan sebagai media penyebaran. Antimikroba yang masuk ke tanah dan perairan dapat mendorong terbentuknya mikroba resisten di lingkungan, yang selanjutnya berpotensi menginfeksi manusia maupun hewan. Dengan demikian, penggunaan antibiotik yang tidak bertanggung jawab pada satu sektor akan memberikan dampak pada sektor lainnya.

Tanggung Jawab Etis Profesi Dokter Hewan

Dalam menghadapi AMR, profesi dokter hewan berada pada posisi yang sangat strategis. Di satu sisi, dokter hewan bertanggung jawab menjaga kesehatan dan produktivitas ternak. Di sisi lain, profesi ini memiliki kewajiban moral untuk menjaga efektivitas antibiotik sebagai sumber daya kesehatan global yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

Solusi terhadap AMR bukanlah menghentikan penggunaan antibiotik, melainkan memastikan penggunaannya secara bijak melalui prinsip antimicrobial stewardship. Pendekatan ini menekankan penggunaan antibiotik secara rasional berdasarkan diagnosis yang akurat, pemilihan jenis obat yang tepat, dosis yang sesuai, serta durasi terapi yang benar.

Namun implementasi stewardship tidak selalu mudah. Keterbatasan fasilitas diagnostik, tekanan ekonomi usaha peternakan, rendahnya literasi peternak, dan lemahnya pengawasan masih menjadi tantangan di berbagai negara berkembang. Karena itu, peran dokter hewan tidak hanya sebagai klinisi, tetapi juga sebagai edukator, pengawas penggunaan antibiotik, sekaligus advokat kebijakan kesehatan masyarakat.

Transformasi dari Reaktif ke Preventif

Salah satu akar persoalan AMR adalah pendekatan kesehatan yang masih cenderung reaktif, yaitu mengobati penyakit setelah muncul. Padahal, strategi yang lebih efektif adalah mencegah penyakit sejak awal. Dalam praktik veteriner, transformasi menuju pendekatan preventif dapat dilakukan melalui peningkatan biosekuriti, program vaksinasi yang optimal, perbaikan manajemen pemeliharaan, peningkatan kesejahteraan hewan, serta penguatan sanitasi dan higiene peternakan. Langkah-langkah tersebut terbukti mampu menurunkan kejadian penyakit dan mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik.

Berbagai negara telah menunjukkan keberhasilan pendekatan ini. Uni Eropa, misalnya, melarang penggunaan antibiotik sebagai growth promoter sejak tahun 2006. Di sisi lain, pengembangan vaksin, probiotik, fitobiotik, dan imunomodulator terus didorong sebagai alternatif pengganti antibiotik.

Indonesia juga telah mengambil langkah penting melalui pelarangan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan pada pakan ternak. Kebijakan ini merupakan kemajuan besar dalam upaya pengendalian AMR di sektor peternakan. Namun keberhasilan jangka panjang tetap membutuhkan pengawasan yang konsisten, penerapan withdrawal time yang ketat, serta peningkatan kesadaran seluruh pelaku usaha peternakan.

Menentukan Arah Masa Depan

AMR bukan ancaman masa depan, AMR sudah terjadi saat ini. Berbeda dengan wabah yang muncul secara tiba-tiba, resistensi antimikroba berkembang perlahan, sering kali tidak terlihat, hingga akhirnya mencapai titik kritis. Karena sifatnya yang senyap, banyak pihak terlambat menyadari besarnya ancaman yang sedang berkembang.

Dalam konteks ini, setiap keputusan penggunaan antibiotik memiliki konsekuensi yang jauh melampaui kepentingan individual. Setiap resep yang diberikan, setiap kebijakan yang dibuat, dan setiap praktik peternakan yang dijalankan akan memengaruhi efektivitas antibiotik di masa depan.

Pengendalian AMR tidak dapat dilakukan oleh satu profesi atau satu sektor saja. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, dokter hewan, tenaga kesehatan manusia, akademisi, industri farmasi veteriner, pelaku peternakan, serta masyarakat dalam kerangka One Health. Peran organisasi profesi, industri obat hewan, dan regulator juga menjadi kunci dalam memperkuat surveilans, edukasi, serta pengawasan penggunaan antimikroba.

AMR adalah bom waktu yang indikatornya sudah terlihat jelas. Pilihan yang kita hadapi sederhana tetapi menentukan: menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi. Dalam perjuangan ini, dokter hewan tidak hanya berperan sebagai penyembuh hewan, melainkan juga sebagai penjaga kesehatan masyarakat dan pelindung efektivitas antibiotik bagi generasi mendatang. (*)

Editor : Arief
#Opini