Oleh: Arifin, SKM., M.Kes
Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan,
Poltekkes Kemenkes Banjarmasin
Banjarmasin telah lama dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Julukan ini bukan sekadar slogan pariwisata, melainkan gambaran nyata tentang kehidupan masyarakat yang tumbuh dan berkembang di atas bentang lahan basah. Sungai menjadi urat nadi kota, menghubungkan permukiman, menopang aktivitas ekonomi, sekaligus membentuk identitas budaya masyarakat Banjar. Sejak dahulu, warga hidup berdampingan dengan air melalui rumah-rumah panggung dan rumah lanting yang menjadi simbol kemampuan beradaptasi terhadap alam.
Namun, di balik keindahan panorama sungai dan kekayaan budaya tersebut, terdapat persoalan mendasar yang hingga kini masih menjadi tantangan besar, yakni kesehatan lingkungan di kawasan permukiman bantaran sungai. Ironisnya, masyarakat yang hidup berdampingan dengan air justru masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak. Persoalan ini tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga memengaruhi derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Kearifan lokal masyarakat Banjar sebenarnya telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam beradaptasi dengan karakter lahan basah. Rumah panggung dibangun menggunakan tiang-tiang kayu ulin yang mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun di lingkungan rawa. Sementara itu, rumah lanting memanfaatkan batang kayu besar sebagai pelampung sehingga dapat mengikuti naik turunnya permukaan air sungai. Arsitektur tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat telah memahami cara hidup yang selaras dengan alam.
Sayangnya, adaptasi fisik tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan pembangunan sistem sanitasi yang sesuai. Di sejumlah kawasan bantaran sungai, limbah domestik masih dialirkan langsung ke badan air karena keterbatasan lahan dan belum tersedianya fasilitas pengolahan limbah yang memadai. Kondisi ini menyebabkan sungai menerima beban pencemaran yang terus meningkat dari aktivitas rumah tangga.
Paradoks inilah yang menjadi wajah kesehatan lingkungan Banjarmasin saat ini. Air tersedia dalam jumlah melimpah, tetapi tidak seluruhnya layak dimanfaatkan. Sungai yang menjadi tempat mandi, mencuci, bahkan sumber air baku, pada saat yang sama juga menjadi tempat pembuangan limbah domestik. Akibatnya, kualitas air mengalami penurunan yang berdampak terhadap meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan.
Pencemaran air oleh limbah domestik menyebabkan tingginya kandungan bakteri indikator pencemaran tinja, seperti Escherichia coli (E. coli). Keberadaan bakteri ini menunjukkan bahwa air telah terkontaminasi sehingga berpotensi menjadi media penularan berbagai penyakit. Masyarakat yang masih memanfaatkan air sungai tanpa pengolahan memadai memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kesehatan.
Data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin menunjukkan bahwa penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dominan. Ribuan kasus masih ditemukan setiap tahun di berbagai wilayah kerja puskesmas. Angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi mencerminkan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat, terutama balita dan kelompok rentan lainnya yang paling mudah mengalami dehidrasi akibat diare.
Selain diare, kawasan lahan basah juga memiliki tantangan lain berupa penyakit yang ditularkan melalui vektor. Genangan air, perubahan pola pasang surut, serta dampak perubahan iklim menciptakan habitat yang ideal bagi perkembangbiakan nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Tidak sedikit pula masyarakat yang mengalami infeksi kulit akibat kontak langsung dengan air sungai yang telah tercemar limbah rumah tangga.
Apabila kita menyusuri kawasan bantaran Sungai Martapura, Kuin, maupun Pekapuran, kehidupan masyarakat sesungguhnya memperlihatkan hubungan yang sangat erat dengan sungai. Masih banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Anak-anak bermain di tepian sungai, para ibu mencuci pakaian di titian kayu, sementara para nelayan dan pedagang menggantungkan mata pencahariannya pada aliran sungai.
Bagi masyarakat bantaran sungai, persoalan kesehatan lingkungan bukan semata-mata disebabkan rendahnya kesadaran akan pentingnya sanitasi. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa air bersih dan lingkungan sehat merupakan kebutuhan dasar. Akan tetapi, keterbatasan akses dan kemampuan ekonomi sering kali membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan.
Masih terdapat kawasan permukiman yang belum terjangkau layanan air bersih secara optimal. Membeli air bersih setiap hari tentu menjadi beban tambahan bagi keluarga dengan penghasilan terbatas. Dalam kondisi tersebut, penggunaan air sungai tetap menjadi pilihan yang paling realistis meskipun masyarakat menyadari risiko kesehatan yang ditimbulkannya.
Karena itu, penyelesaian persoalan kesehatan lingkungan di Banjarmasin tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan teknis ataupun penegakan aturan semata. Solusi yang ditawarkan harus mempertimbangkan karakteristik kota lahan basah, kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta budaya sungai yang telah menjadi bagian dari identitas warga Banjar.
Salah satu langkah yang perlu diperkuat adalah pengembangan sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas). Program ini perlu diarahkan pada pembangunan fasilitas sanitasi yang sesuai dengan kondisi lahan basah, seperti septic tank kedap berbasis biofilter, instalasi pengolahan air limbah komunal, maupun teknologi sanitasi terapung yang mampu mengurangi pencemaran badan air tanpa mengubah pola permukiman masyarakat secara drastis.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu mempercepat pemerataan akses air bersih, terutama di kawasan bantaran sungai yang selama ini masih sulit dijangkau jaringan perpipaan. Penyediaan fasilitas air bersih yang mudah diakses akan menjadi investasi jangka panjang dalam menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Peran masyarakat juga tidak kalah penting. Edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat harus terus dilakukan melalui puskesmas, kader kesehatan, sekolah, tokoh masyarakat, hingga komunitas sungai. Namun, edukasi tidak boleh berhenti pada penyampaian informasi. Perubahan perilaku hanya akan berhasil apabila masyarakat memperoleh dukungan berupa fasilitas sanitasi dan air bersih yang memadai.
Selain pemerintah dan masyarakat, dunia usaha serta perguruan tinggi juga memiliki ruang besar untuk berkontribusi. Perguruan tinggi dapat menghadirkan inovasi teknologi sanitasi yang sesuai dengan karakter lahan basah melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dunia usaha dapat memperkuat program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk mendukung pembangunan sanitasi, penyediaan air bersih, maupun edukasi kesehatan lingkungan di kawasan bantaran sungai.
Pembangunan Banjarmasin sebagai kota sungai tidak cukup hanya berorientasi pada penataan kawasan wisata atau pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan harus menempatkan kesehatan lingkungan sebagai fondasi utama. Sungai yang bersih akan menghadirkan manfaat yang jauh lebih luas, mulai dari peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, pelestarian ekosistem, hingga penguatan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Pada akhirnya, menjaga sungai berarti menjaga kehidupan. Sungai bukan hanya warisan budaya masyarakat Banjar, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dipelihara bersama. Ketika kualitas air semakin baik, sanitasi semakin layak, dan akses terhadap air bersih semakin merata, maka masyarakat akan menikmati manfaatnya dalam bentuk lingkungan yang sehat, produktivitas yang meningkat, serta kualitas hidup yang lebih baik.
Banjarmasin telah membuktikan bahwa masyarakatnya mampu hidup berdampingan dengan air selama ratusan tahun. Kini tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa air yang menjadi nadi kehidupan itu tidak lagi menjadi media penyebaran penyakit, melainkan menjadi sumber kesehatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan bagi generasi Banjar di masa depan. Dengan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan dunia usaha, cita-cita mewujudkan Kota Seribu Sungai yang sehat dan berkelanjutan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. (*)
Editor : Arief