Oleh: Fatimah Juhra
Dosen Teknik Lingkungan ULM
Beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh laporan yang menempatkan TPST Bantar Gebang di Kota Bekasi sebagai salah satu lokasi penghasil emisi gas metana terbesar di dunia. Bahkan, sejumlah laporan menyebut kawasan ini menjadi penyumbang emisi metana terbesar kedua dari tempat pembuangan sampah secara global. Temuan menjadi alarm atas krisis pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia.
Bagi masyarakat awam, polusi sering dipahami sebagai asap kendaraan, cerobong industri, atau debu jalanan. Namun, yang tidak nampak oleh mata, di balik gunungan sampah Bantar Gebang, terdapat ancaman yang jauh lebih serius: gas metana (CH4). Gas ini dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik secara anaerobik, yakni ketika sampah tertimbun tanpa cukup oksigen. Persoalannya, metana memiliki daya rusak terhadap iklim yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida (CO2). Dalam periode 20 tahun, kemampuan metana memerangkap panas dapat mencapai lebih dari 80 kali lipat CO2.
Laporan terbaru menunjukkan TPST Bantar Gebang melepaskan sekitar 6,3 ton metana per jam ke atmosfer. Angka ini menggambarkan betapa besarnya akumulasi sampah organik yang selama puluhan tahun terus ditumpuk tanpa pengelolaan yang optimal.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa krisis sampah bukan lagi sekadar persoalan estetika kota, bau tidak sedap, dan sumber penyakit, tetapi sudah masuk ke dalam isu perubahan iklim global. Ironisnya, sumber utama penghasil sampah organik terbesar berasal dari aktivitas rumah tangga sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik. Di Jakarta dan wilayah sekitarnya, proporsi sampah organik bahkan mencapai lebih dari 50 hingga 70 persen. Sampah tersebut berasal dari sisa makanan, sayuran, buah-buahan, daun, hingga limbah dapur rumah tangga.
Artinya, sebagian besar sampah yang memenuhi Bantar Gebang sebenarnya adalah material yang mudah terurai dan seharusnya tidak perlu berakhir di TPA. Namun, karena budaya pemilahan sampah di sumber masih rendah, seluruh jenis sampah bercampur menjadi satu. Ketika sampah organik tertutup timbunan plastik dan material lain, proses pembusukan anaerobik berlangsung masif dan menghasilkan metana dalam jumlah besar.
Selama ini, paradigma pengelolaan sampah di Indonesia masih bertumpu pada pola “kumpul-angkut-buang”. Rumah tangga menghasilkan sampah, petugas mengangkut, lalu sampah ditimbun di TPA. Sistem seperti ini mungkin terlihat praktis dalam jangka pendek, tetapi sesungguhnya hanya memindahkan masalah dari rumah menuju gunungan sampah raksasa.
Gunungan sampah setinggi puluhan meter tidak hanya menghasilkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memicu pencemaran air lindi, bau menyengat, potensi longsor sampah, hingga gangguan kesehatan masyarakat sekitar.
Karena itu, solusi terhadap krisis ini tidak cukup hanya dengan memperluas TPA atau membangun teknologi mahal di hilir. Akar persoalan sesungguhnya berada di tingkat rumah tangga. Jika mayoritas sampah adalah organik, maka pengurangan terbesar harus dimulai dari dapur rumah.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperkenalkan masyarakat adalah penggunaan eco enzyme. Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran dengan gula dan air dalam periode tertentu. Konsep ini pertama kali dikembangkan sebagai upaya sederhana mengurangi limbah organik rumah tangga sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat.
Secara lingkungan, eco enzyme memiliki dua manfaat utama. Pertama, mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke TPA. Kedua, menekan pembentukan gas metana akibat pembusukan sampah di landfill.
Ketika sisa sayur dan buah difermentasi di rumah, material organik tidak lagi dibuang ke tempat sampah dan tidak ikut tertimbun di TPA. Dengan demikian, potensi pembentukan metana juga berkurang. Dalam skala rumah tangga, dampaknya mungkin terlihat kecil. Namun jika dilakukan secara masif oleh jutaan rumah tangga perkotaan, pengurangan beban sampah organik dapat sangat signifikan.
Menurut penelitian penulis, eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai cairan pembersih alami, pupuk cair, hingga pengurang bau saluran air. Meski demikian, penting dipahami bahwa eco enzyme bukan solusi tunggal yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Gerakan ini harus dipandang sebagai bagian dari transformasi budaya lingkungan masyarakat.
Dalam konteks teknik lingkungan, pendekatan pengelolaan sampah modern menekankan prinsip reduce, reuse, recycle, dan recovery. Artinya, sampah harus dikurangi sejak sumbernya, dimanfaatkan kembali, didaur ulang, dan dipulihkan energinya sebelum masuk ke TPA. TPA seharusnya menjadi pilihan terakhir, bukan tujuan utama seluruh sampah kota.
Karena itu, pemerintah daerah perlu mendorong kebijakan yang lebih progresif. Edukasi pemilahan sampah harus menjadi gerakan publik yang sistematis, mulai dari sekolah, kawasan permukiman, hingga pusat perbelanjaan. Insentif bagi rumah tangga yang melakukan pengolahan sampah mandiri juga perlu dipertimbangkan. Di sisi lain, pengembangan fasilitas kompos, biodigester, dan pengolahan biomassa harus diperluas agar sampah organik tidak seluruhnya berakhir di landfill.
Kasus Bantar Gebang sesungguhnya adalah cermin dari wajah kota-kota besar Indonesia. Ketika urbanisasi meningkat dan konsumsi masyarakat terus bertambah, volume sampah akan tumbuh jauh lebih cepat dibanding kapasitas pengelolaannya. Jika pola lama tetap dipertahankan, maka kota-kota lain berpotensi mengalami krisis serupa.
Yang mengkhawatirkan, persoalan ini sering dianggap biasa karena sampah “hilang” setelah diangkut petugas kebersihan. Padahal, sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, menumpuk di pinggir kota, lalu perlahan berubah menjadi sumber polusi baru yang dampaknya kembali dirasakan masyarakat.
Di titik inilah perubahan cara pandang menjadi penting. Sampah organik bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang dapat dikelola. Ketika dibiarkan membusuk di TPA, ia berubah menjadi metana yang memperburuk krisis iklim. Namun ketika diolah sejak dari level rumah tangga melalui kompos, biodigester, atau eco enzyme, ia justru dapat memberi manfaat ekologis dan ekonomi bagi keluarga di negeri ini. (*)
Editor : Arief