Oleh: Nasrullah
Antropolog
Dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi
Universitas Lambung Mangkurat
Tinggal menghitung hari, Marabahan, ibu kota Kabupaten Barito Kuala, menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXXVII tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, dimulai 18 hingga 26 Juni 2026. Semakin mendekati hari, persiapan meliputi atribut islami yang akan semakin menguat, termasuk identitas visual keislaman yang melekat pada penduduk Kota Marabahan. Narasi keislaman juga tentu semakin menguat yang melampaui berbagai cabang musabaqah yang dilombakan.
Beranjak dari itu, saya menyemarakkan suasana MTQN XXXVII dengan mengambil sisi kontemplatif pribadi, yang dalam antropologi disebut sebagai otoetnografi terkait atribut keagamaan. Bermula dari semakin kuatnya keinginan saya melihat perempuan tidak berjilbab sebagai identitas visual yang independen, semakin kuat pula realitas identitas visual yang saya dapati: selalu ada perempuan berjilbab. Saya menemukan kejutan tak terduga itu baik di kampung maupun di jantung Eropa.
Identitas visual keagamaan mengalami deterritorialisasi tidak hanya pada kawasan atau benua tertentu saja, dan agaknya menjadi suatu media diplomasi sebagaimana yang dilakukan Princess Kate Middleton, istri Pangeran William, yang memahami pentingnya berjilbab saat memasuki Masjid Istiqlal Jakarta dan Masjid Bahasi, Lahore, Pakistan. Ia menunjukkan rasa hormat terhadap agama dan budaya yang dianut penduduk setempat yang dikunjunginya. Kate Middleton menanggalkan bentuk independensi individual sekaligus privilege kelas sosial tertentu yang menolak menjadi objek standar moralitas publik. Ia menempatkan diri sebagai seorang ratu, tidak hanya dengan standar Eropa, tetapi juga dengan standar lain di mana dia berada. Apa yang dilakukan Princess Kate Middleton juga dapat menjadi cermin: semakin kita memasuki suasana arena kegiatan keagamaan, apalagi menjelang MTQN XXXVII Kalsel di Kota Marabahan, semakin penting pula bagi kita untuk melekatkan atribut pada diri sendiri dan lingkungan sekitar yang berkesesuaian dengan situasi dan kultur masyarakat.
Di mana-mana jilbab
Latar belakang saya ingin melihat komunitas perempuan tidak berjilbab karena saya merasa berada dalam visualitas monoton yang mendapati keseharian perempuan berjilbab ketika sekolah di MAN 1 Marabahan tahun 1994 dan kuliah di IAIN (sekarang UIN) Antasari tahun 1997. Momentum itu muncul ketika saya melanjutkan studi di S2 Antropologi UGM tahun 2005. “Pasti akan banyak mahasiswi tidak berjilbab; ini kampus umum,” saya membatin. Ternyata realitasnya berbeda. Dengan mudah sekali saya melihat mahasiswi berjilbab, juga beberapa orang teman seangkatan berjilbab.
Harapan saya yang nyaris pupus, memancar lagi ketika saya diterima sebagai dosen FKIP ULM tahun 2009. “Ini kampus umum,” saya membatin kembali. Kenyataannya, justru saya menemukan mayoritas mahasiswi berjilbab. Iseng-iseng saya mewawancarai salah satu mahasiswi. Dia menceritakan semula tidak berjilbab di sekolah. Namun ketika masuk di bangku perguruan tinggi, ia merasa perlu berjilbab. Tidak ada yang memaksanya, tapi karena merasa nyaman.
Sekian tahun, saya melupakan keinginan untuk melihat komunitas perempuan yang tidak berjilbab. Sampai akhirnya kesempatan terbuka lagi ketika saya ke kota Wina, Austria untuk menulis disertasi di Universitas Wina. “Di kota ini, perempuan pasti benar-benar tidak berjilbab,” saya membatin. Paman saya bahkan mengingatkan agar menjaga salat karena berada di komunitas non-Muslim. Beliau membekali dengan sarung dan sajadah saat saya akan berangkat.
Saya salah lagi. Pagi, tanggal 2 Oktober 2023, saya mengucek-ngucek mata berulang kali begitu keluar dari apartemen di kawasan Flurschützstraße, kota Wina. “Apakah saya berada di kawasan kampus IAIN Antasari, Jalan A. Yani km 4,5, Banjarmasin?” tanya saya pada diri sendiri. Bagaimana tidak, lalu-lalang perempuan berjilbab melintas di hadapan.
Saya membuka Google Maps. Sekitar apartemen itu setidaknya ada 6 masjid. Dua masjid terdekat: berjarak puluhan meter ada masjid yang dikelola warga Afganistan dan sekitar 100 meter dari apartemen ada masjid Imam El Bukhari yang dikelola warga Albania. Saya silih berganti mengunjungi dua masjid itu ketika tidak ada kesibukan di kampus, terutama akhir pekan.
Fakta ini mengingatkan saya bahwa ketika Buya Hamka akan berangkat ke Amerika, dia terlebih dahulu diperingatkan untuk berhati-hati karena akan bertemu dengan perempuan berpakaian seksi yang hidup bebas dan jauh dari agama. Namun, ternyata dia justru mendapatkan pengalaman dan kontemplasi sufistik. Ia menolak generalisasi.
Berjilbab untuk Sakral dan Formal
Mari kita melihat gambaran lokalitas. Gelombang resisten terhadap pelarangan simbolik jilbab oleh pemerintah Orde Baru di sekolah atau perguruan tinggi tahun 1982 hingga 1991 agak terlambat mencapai Batola. Waktu sekolah SMP awal 1990-an, saya tidak menemukan teman-teman perempuan berjilbab. Situasi ini mungkin karena saya berada di sekolah umum.
Di luar lingkungan sekolah, era 1990-an, saya masih familier melihat anak remaja atau gadis tidak berjilbab. Lihat saja foto-foto anak gadis yang banyak tidak berjilbab dengan gaya rambut ala Nike Ardilla hingga Demi Moore. Demikian pula, remaja atau ibu-ibu masih banyak tidak berjilbab di kampung-kampung. Hal ini dapat diketahui dengan melacak koleksi foto keluarga tahun 1990-an. Namun, mereka mengenakan jilbab pada momentum sakral seperti perayaan upacara keagamaan.
Situasi ini berubah, saya kira, dimulai pada tahun 2000-an dengan beberapa penyebab. Pertama, embrio berjilbab ada sejak 1990-an. Estetika dan etika berjilbab menyusup melalui budaya populer melalui lagu “Jilbab Putih” Nasyida Ria Grup Semarang dengan bait yang selalu diulang-ulang “Jilbab… jilbab putih… lambang kesucian/lembut hati penuh kasih teguh pendirian”. Dilanjutkan dengan kehadiran penyanyi dangdut berjilbab, yakni Gitalis Dwi Natarina atau Gita KDI, yang melalui kontestasi dangdut di televisi swasta Indonesia tahun 2005. Hingga sekarang, penyanyi dangdut berjilbab menjadi pemandangan biasa di Barito Kuala khususnya Kota Marabahan.
Kedua, di masa sekarang saya mendapati kalangan terpelajar sejak SD berjilbab. Beberapa kali saya hadir dalam forum resmi, seperti seminar, pelatihan dan sejenisnya. Peserta perempuan, terutama kalangan ibu guru dari sekolah umum atau agama, rata-rata mengenakan jilbab. Selain itu, figur publik, bupati perempuan pertama Batola bahkan di Kalimantan Selatan, Hajjah Noormiliyani, A.S., S.H., selalu konsisten menggunakan jilbab dalam berbagai kegiatan pemerintahan.
Ketiga, militansi berjilbab. Hal ini saya dapati saat riset lapangan ke kampung. Ketika saya memotret ibu-ibu yang sedang bekerja, mereka memalingkan wajah sambil protes, “Mengapa kamu memotret saya dalam keadaan tidak berjilbab?” Pesan kuat agar saya menyadari bahwa perempuan di pedesaan sekalipun tidak ingin terlihat tanpa jilbab dalam kesehariannya.
Lantas apakah dominasi identitas visual berjilbab menutup ruang untuk aktivitas seorang profesional? Jawaban atas inilah yang menutup artikel ini yang menggunakan anekdot Buya Hamka. Seorang perempuan yang merupakan aktivis atau wartawan ingin bertemu dengannya. Perempuan itu meminta izin dengan menyampaikan pertanyaan kurang lebih “Saya tidak pakai jilbab. Bapak tidak keberatan menerima saya?” Hamka menjawab: “Nak, saya tidak menilai orang dari jilbabnya. Saya menilai dari akalnya, budinya, dan niatnya. Kalau saya menolak orang karena dia tidak berjilbab, lalu siapa yang akan saya ajak bicara tentang kebaikan?” (*)
Editor : Arief