Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Merawat Kebangsaan, Mewariskan Pancasila

Toto Fachrudin • Senin, 1 Juni 2026 | 08:42 WIB
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin

Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin

Setiap 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila. Setiap tanggal itu pula selalu muncul pertanyaan kritis. Apakah Pancasila masih relevan dengan zaman yang terus bergerak dan berubah cepat. 

Namun, di balik pertanyaan kritis itu, ada refleksi jejak sejarah yang jauh lebih dalam. Refleksi historis tentang pendiri bangsa yang menggagas konsep besar sebuah bangsa dengan beragam perbedaan agar dapat hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia.

Pada 1 Juni 1945, di akhir kolonialisme, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Pancasila.

Saat itu, lahirnya pemikiran tentang konsep Pancasila, menjadi gagasan brilian untuk menyatukan titik temu berbagai perbedaan yang hidup di Nusantara.

Perbedaan agama, suku, bahasa, budaya, hingga pandangan politik, harus menemukan ruang bersama agar Indonesia dapat berdiri kokoh sebagai sebuah bangsa.

Dalam perspektif filosofis, Pancasila dapat dipahami sebagai jalan tengah Indonesia. Nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial menjadi fondasi agar pembangunan bangsa tidak kehilangan arah dan dimensi moralnya.

Tantangannya, historis dan filosofis sejarah 80 tahun lalu itu dirasa sudah tidak relevan lagi dengan nilai-nilai global dan modernitas. Pertanyaan dan pandangan kritis ini selalu mencuat, karena Pancasila tidak lagi menjadi kompas moral dalam pelaksanaan tata kelola pemerintahan.

Sikap, perbuatan dan ucapan pejabat serta penguasa,  justru mencerminkan praktik bernegara yang tidak bermoral dan beretika. Ambisi, keserakahan, dan hasrat berkuasa yang menggebu membuat Pancasila hanya menjadi simbol negara tanpa makna.

Padahal, Pancasila mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan politik bernegara tidak boleh mengorbankan rasa keadilan sosial. Dalam dinamika politik nasional saat ini, tantangan terbesar adalah bagaimana tetap menjaga rasa kebangsaan meskipun berbeda pandangan.

Meski kesakralan Pancasila mulai luntur, namun menemukan kembali maknanya sebagai rumah bersama di tengah polarisasi politik, konflik kepentingan, maupun perbedaan cara pandang, menjadi pilihan paling rasional untuk menjaga Indonesia.

Mungkin itulah pesan paling relevan dari Hari Lahir Pancasila tahun ini. Bahwa di tengah dunia yang semakin kompleks, di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian geopolitik, dan dinamika politik yang terus bergerak, Indonesia harus tetap dirawat dan dijaga.

Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar bangsa ini tidak hanya terletak pada sumber daya alam, luas wilayah, atau jumlah penduduknya. Kekuatan terbesar Indonesia terletak pada kemampuannya merawat persatuan di tengah keberagaman.

Pancasila selalu menjadi pengingat bahwa apa pun tantangannya, ada nilai-nilai kebangsaan yang harus kita wariskan untuk setiap generasi. Dan warisan terbesar itu adalah Pancasila. (*)

Editor : Arief
#pancasila #ruang jeda