Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hormat yang Membutakan, Terlalu Sibuk Percaya Kepada Reputasi

M. Ramli Arisno • Senin, 11 Mei 2026 | 10:01 WIB
Ramli Arisno
Ramli Arisno

Oleh: M Ramli Arisno
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Beberapa orang tua sekarang mulai gelisah. Bukan karena anaknya nakal atau karena nilai sekolahnya turun. Tapi karena berita dari Pati itu. Seorang pengasuh pesantren dituduh melakukan kekerasan seksual terhadap santriwati. Korbannya banyak. Sebagian masih remaja.

Dan yang membuat orang tercekat bukan hanya perbuatannya. Tapi caranya. Korban dibuat percaya. Dibuat takut. Dibuat merasa bahwa melawan berarti melawan orang suci.

Di titik itu, kita mulai sadar, bahwa masalah sebenarnya bukan sekadar soal si pelaku. Tapi pada cara berpikir yang ikut memelihara keadaan seperti ini.

Kita terlalu mudah menyerahkan kepercayaan penuh kepada simbol. Kalau tempatnya religius, dianggap aman. Kalau pengasuhnya pandai bicara agama, dianggap pasti bermoral. Kalau lembaganya terkenal, dianggap otomatis benar. Padahal hidup tidak sesederhana itu.

Banyak orang tua sangat detail saat membeli rumah. Mereka cek sertifikat. Cek lokasi. Cek reputasi pengembang. Tapi saat memilih tempat menitipkan anak bertahun-tahun, kadang yang dicek hanya papan nama dan cerita dari tetangga.

Lalu muncul kebiasaan lain. Anak diminta patuh total kepada guru atau pengasuh. Diam dianggap sopan. Bertanya dianggap melawan atau tidak hormat. Padahal anak-anak juga manusia kecil yang bisa merasa takut. Bisa bingung. Bisa tertekan.

Masalahnya, ketika rasa hormat dibangun terlalu tinggi, pengawasan biasanya turun diam-diam. Dan mungkin, dari situlah semuanya mulai menyimpang.

Kita sering lupa bahwa moralitas bukan lahir dari pakaian, gelar, atau cara bicara. Moralitas lahir dari sistem yang sehat. Dari transparansi. Dari keberanian menerima kritik.

Dan orang tua kadang terlalu cepat merasa tenang setelah anak dititipkan. Seolah tugas selesai. Padahal menitipkan anak bukan memindahkan seluruh tanggung jawab. Anak tetap perlu dipeluk lewat perhatian. Didengar lewat percakapan kecil. Diberi rasa aman untuk berkata jujur.

Karena banyak korban kekerasan sebenarnya sudah memberi tanda. Hanya saja orang dewasa terlalu sibuk percaya kepada reputasi.

Kita diajarkan hormat kepada tokoh. Tapi jarang diajarkan bahwa menghormati seseorang tidak berarti mematikan akal sehat. Dan mungkin itu yang paling penting diingat setelah semua ini terjadi.

Anak-anak tidak membutuhkan lingkungan yang terlihat paling suci. Mereka membutuhkan lingkungan yang paling aman.

Sebab tempat yang merasa dirinya terlalu mulia untuk dipertanyakan, seringkali diam-diam sedang kehilangan sesuatu yang paling dasar, yaitu, rasa takut untuk berbuat salah.

Kasus seperti di Pati semoga dapat memberi pelajaran meski tidak nyaman.

Editor : Arief
#ruang jeda