Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gugurnya Jurusan dan Martabat Pendidikan

admin • Rabu, 29 April 2026 | 20:48 WIB
 Syaifullah
Syaifullah

Oleh: Syaifullah, MPd
Dosen FKIP Bahasa Indonesia Universitas Lambung Mangkurat

Dalam setahun terakhir, wajah perguruan tinggi Indonesia tampak sedang mengalami perubahan drastis. Rektorat dan senat universitas di berbagai daerah kini tengah disibukkan dengan satu agenda krusial. Melakukan audit besar-besaran terhadap program studi.

Jurusan-jurusan yang dianggap tidak lagi memiliki peminat, atau lebih krusial lagi, dianggap “tidak relevan” dengan kebutuhan pasar kerja, satu per satu mulai dikurangi, digabung, hingga ditutup.

Keputusan ini sering kali dibalut dengan terminologi efisiensi, responsivitas terhadap disrupsi, dan adaptasi terhadap masa depan. Namun, di balik narasi efisiensi yang terdengar pragmatis tersebut, ada perdebatan yang jauh lebih mendalam mengenai hakikat pendidikan tinggi di Indonesia. Apakah universitas kini telah sepenuhnya berubah menjadi pabrik pencetak tenaga kerja siap pakai, ataukah ia masih memegang mandat sebagai penjara lentera ilmu pengetahuan dan peradaban?

Fenomena penutupan program studi sebenarnya bukan hal baru dalam lanskap pendidikan global. Di jepang, misalnya, kementerian pendidikan pernah memicu kontroversi hebat ketika mendorong penutupan departemen ilmu humaniora dan sosial demi menggenjot program-program yang dianggap lebih “praktis” dan berorientasi ekonomi, namun di Indonesia, urgensi ini memiliki warna dan kompleksitas yang berbeda. Kita tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi global yang menuntut keterampilan spesifik, tetapi kita juga sedang terjebak dalam krisis struktural yang kronis terkait minat, motivasi, dan kompetensi mahasiswa. kita sedang mencoba memperbaiki sistem dengan memotong ranting, padahal akar masalahnya mungkin justru terletak pada bagaimana kita mengenal (atau gagal mengenal) manusia yang kita didik.

Masalah utama yang mendasari kegelisahan universitas dalam menutup jurusan “tidak relevan” adalah cara pandang utilitarian yang kaku. Pendidikan tinggi sering kali dipaksa tunduk sepenuhnya pada dogma link and match sebuah konsep yang, meski mulia niatnya untuk menjembatani dunia kampus dan industri, terkadang justru membunuh sisi eksploratif pendidikan.

Ketika sebuah jurusan dianggap tidak lagi relevan, ukurannya sering kali hanya satu. Seberapa cepat lulusannya terserap pasar kerja? Berapa rata-rata gaji awal mereka? Apakah industri “membutuhkan” lulusan tersebut?

Padahal, mengukur relevansi jurusan hanya dari keterserapan pasar adalah bentuk reduksi intelektual yang berbahaya. Jika kita hanya mempertahankan jurusan yang “laku keras” di mata industri hari ini. Seperti informatika, bisnis digital, atau teknik tertentu kita sedang mengabaikan fakta bahwa ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan siklikal.

Apa yang dianggap tidak relevan hari ini, bisa jadi menjadi krusial di masa depan. Ilmu sejarah, filsafat, sastra, atau sosiologi murni mungkin terlihat “kering” dalam statistik lapangan kerja saat ini. Namun, ketika mereka dihapuskan atas nama efisiensi, kita sedang mengamputasi nalar kritis bangsa.

Universitas yang hanya menuruti selera pasar jangka pendek adalah universitas yang sedang menggali kuburannya sendiri sebagai pusat peradaban. Ia menjadi cermin yang hanya memantulkan keinginan industri, bukan menara gading yang mampu memandang jauh ke depan. Namun, di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas pahit di lapangan. Banyak mahasiswa yang terjebak dalam jurusan-jurusan yang memang sudah kehilangan napas inovasinya.

Pertanyaannya kemudian adalah. Mengapa sebuah jurusan menjadi tidak relevan? Menggunakan metodologi abad ke-20 untuk menghadapi tantangan abad ke-21?

Jika membedah lebih dalam, ada benang merah yang menghubungkan antara penutupan jurusan dengan masalah klasik yang sering dianggap sepele “salah jurusan.” Berdasarkan data riset yang dimuat dalam ANDASIH Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, sebuah statistik yang mencemaskan muncul ke permukaan, sekitar 87 persen mahasiswa merasa salah dalam memilih jurusan kuliah. Ini adalah angka yang sangat masif. Temuan ini menjadi tamparan keras bagi ekosistem pendidikan kita.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa melangkah ke jenjang pendidikan tinggi tanpa dibekali pemahaman memadai mengenai diri sendiri, minat, maupun potensi yang mereka miliki.

Sebagian besar keputusan memilih jurusan didorong oleh tekanan orang tua, prestise sosial, atau sekadar ikut-ikutan tren pasar. Ketika mahasiswa yang tidak memiliki passion atau bakat pada bidang tersebut dipaksa masuk ke jurusan yang “kurang relevan,” maka terjadilah efek domino. Motivasi belajar turun drastis, efikasi diri (self-efficacy) hancur, dan lulusan yang dihasilkan menjadi medioker. Inilah yang kemudian membuat sebuah jurusan terlihat “tidak relevan” di mata industri.

Masalahnya bukan pada jurusannya, melainkan pada mismatch (ketidaksesuaian) antara konfigurasi unik bakat mahasiswa dengan apa yang dipelajari. Penelitian yang diterbitkan dalam Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) serta riset di Universitas Nusa Cendana mengonfirmasikan bahwa minat dan motivasi belajar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan keputusan karir.

Jika sejak awal mahasiswa tidak memiliki motivasi intrinsik yang lahir dari keselarasan antara bakat dan bidang yang dipilih maka ia akan menjadi beban bagi sistem. Ia akan lulus dengan kompetensi setengah hati, dan industri pun akan menolaknya, akhirnya, jurusan tersebut dianggap tidak relevan, padahal ia sedang diisi oleh individu-individu yang “salah tempat”

Solusi atas penutupan jurusan yang masif bukankah dengan sekadar memangkas pohon yang kering, melainkan dengan memperbaiki akarnya. Universitas di Indonesia harus mulai mengadopsi pendekatan Fitrah Based Education atau pengembangan pendidikan berbasis talenta. Artinya, fungsi universitas harus digeser dari sekadar penyedia “gelar” menjadi “inkubator bakat”

Penelitian mengenai talents mapping menegaskan bahwa setiap individu sebenarnya memiliki konfigurasi unik berupa bakat superior dan kelemahan yang sudah ada sejak lahir. Mengutip prinsip dari Talents Mapping (Royal, 2018) dan Fitrah Based Education (Santosa, 2018), ketika seseorang memiliki jurusan yang selaras dengan potensi bawaannya, mereka akan memiliki motivasi yang kuat. Motivasi ini bukan sekadar keinginan, melainkan “daya tahan” (endurance) dalam menghadapi kesulitan studi.

Jika sebuah jurusan sepi peminat, alih-alih langsung ditutup, universitas harus bertanya apakah kurikulumnya sudah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan bakat unik mereka ke dalam bidang ilmu tersebut? Di dunia yang serba interdisipliner saat ini, tidak ada ilmu yang benar-benar berdiri sendiri.

Seorang mahasiswa jurusan sejarah, misalnya, bisa menjadi sangat relevan jika ia dibekali dengan kemampuan data analytics atau digital storytelling. Jurusan tersebut menjadi “relevan” kembali ketika ia berani bertransformasi dari sebuah kotak kaku menjadi sebuah ekosistem belajar yang fleksibel. Oleh karena itu, penutupan jurusan “tidak relevan” haruslah menjadi langkah terakhir (lastresort). Langkah utamanya seharusnya adalah re-imagining atau pembayangan ulang.

Universitas perlu memberikan otonomi lebih luas bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah lintas disiplin (interdisciplinary studies). Mahasiswa teknik harus belajar humaniora agar tidak menjadi robot, dan mahasiswa ilmu sosial harus belajar coding atau literasi data agar tidak menjadi pengamat yang jauh dari realitas teknologi.

 Tantangan relevansi ini juga harus menyentuh ranah pendidikan menengah. Banyak mahasiswa masuk ke universitas dengan kondisi "buta peta karir." Sekolah menengah masih sering menjadi pabrik yang mendikte siswa tanpa memberikan ruang untuk memahami jati diri. Guru Bimbingan Konseling (BK) yang seharusnya menjadi navigator karir, sering kali hanya menjadi penjaga kedisiplinan.

Diperlukan pelatihan yang lebih luas yang melibatkan pengajar, orang tua, dan calon mahasiswa untuk merawat bakat anak-anak sejak kecil. Jika orang tua sejak dini memahami bahwa anaknya memiliki talents mapping yang unik, mereka tidak akan memaksakan anak masuk ke jurusan "favorit" yang justru berpotensi membuat anak merasa "salah jurusan."

Jika input mahasiswa ke perguruan tinggi sudah didasarkan pada kesadaran bakat, maka tidak akan ada lagi jurusan yang sepi peminat atau dianggap tidak relevan. Mahasiswa akan masuk ke jurusan tersebut dengan motivasi yang kokoh, daya tahan (endurance) yang tinggi, dan visi masa depan yang jelas. Inilah kunci sebenarnya dari efisiensi pendidikan: bukan dengan memotong jurusan, melainkan dengan menempatkan manusia yang tepat di tempat yang tepat.

Penutupan jurusan yang tidak relevan memang diperlukan untuk efisiensi sumber daya di tengah persaingan global yang brutal. Tidak ada salahnya memotong ranting yang mati. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak memotong batang pohon peradaban kita sendiri. Universitas bukan sekadar tempat untuk mendapatkan pekerjaan ia adalah tempat untuk membentuk manusia seutuhnya.

Jika kita membiarkan universitas hanya menjadi "balai latihan kerja" raksasa yang hanya menyisakan jurusan-jurusan yang "laku dijual," maka kita sedang menciptakan bangsa yang terampil secara teknis, namun tumpul secara nurani dan nalar. Reformasi pendidikan tinggi harus berjalan di dua kaki. Kaki pertama adalah agilitas institusi untuk terus meng-update kurikulum dan metode pengajaran agar sesuai dengan tuntutan zaman. Kaki kedua adalah penguatan literasi karir dan talents mapping bagi calon mahasiswa, sehingga mereka datang ke kampus bukan sebagai korban "salah jurusan," melainkan sebagai penjelajah yang tahu persis apa yang ingin mereka bangun bagi masa depan bangsa.

Gugurnya jurusan tidak relevan seharusnya menjadi alarm bagi kita semua untuk berhenti menyalahkan zaman dan mulai menatap cermin. Ini adalah momentum untuk kembali ke titik nol. Menata ulang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar komoditas pasar. Jika kita berhasil melakukan transformasi ini, maka yang akan kita temui bukan lagi jurusan yang "ditutup," melainkan program studi yang terus berevolusi, yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya "siap kerja," tetapi "siap memimpin" peradaban.

Pada akhirnya, martabat sebuah bangsa diukur dari sejauh mana ia menghargai ilmu pengetahuan, bukan dari seberapa efisien ia menghapus apa yang ia anggap tidak menguntungkan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang pada jiwa manusia, dan jiwa manusia tidak pernah bisa diukur dengan metrik efisiensi industri yang sempit. 

Editor : Arief
#Kampus #Pendidikan