Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Kalau perang bisa menghancurkan, maka perang juga bisa menciptakan kedamaian. Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah yang ditulis pada abad ke-14 mengingatkan, bahwa siklus kehancuran peradaban dimulai dari melemahnya ikatan solidaritas sosial.
Rapuhnya ikatan itu dimulai dari lima tahapan, yaitu (1) perebutan kekuasan melalui ikatan solidaritas yang kuat. (2) penguasa baru memperkuat kekuasan dan menjaga pengaruhnya dari segala ancaman. (3) penguasa membangun peradaban dan kemakmuran ekonomi. (4) kemakmuran menciptakan kedamaian dan kemapanan hingga membuat penguasa terbui dengan kenyamanan. (5) kemewahan melemahkan ashabiyah (ikatan/solidaritas sosial) hingga membuat negara menjadi rapuh dan mudah direbut/diambil alih kelompok lain.
Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kehancuran negara sering kali berakar dari faktor internal. Dimulai dari hilangnya kepercayaan terhadap penguasa, hingga melemahnya wibawa negara karena penguasa terlalu sibuk mengejar kekayaan dan kesenangan duniawi.
Dikenal sebagai Sosiolog Muslim yang karya dan pemikirannya menjadi rujukan intelektual dunia, Ibnu Khaldun mengingatkan tentang perjalanan sebuah negara dimulai dari perjuangan (perang) dan diakhiri dengan perjuangan pula.
Mengacu pada konsep Ashabiyah dari Ibnu Khaldun, perjalanan bangsa kita sebenarnya telah memasuki fase ke-4, yaitu kehidupan yang relatif damai dan tak ada konflik secara terbuka. Dimulai dari fase pertama perjuangan merebut kemerdekaan, fase kedua meletakkan dan membangun pondasi sebuah bangsa, fase ketiga menikmati kekuasan dan kesejahteraan, hingga saat ini di fase keempat kita bisa merasakan kemakmuran dan kemapanan--meski sejatinya hanya dinikmati penguasa dan kelompok oligarki.
Setelah 80 tahun kita menikmati kemerdekaan dan kedamaian, tinggal selangkah lagi, maka fase akhir dari eksistensi kita sebagai negara bangsa akan kembali pada titik awal. Tentu kita tak berharap tesis dari Ibnu Khaldu ini benar-benar terjadi. Namun, Ibnu Khaldun tak sekadar berteori.
Sebagai ulama dan intelektual Muslim, ia mengamati dan mempelajari sejarah peradaban manusia, bahwa perjalanan sebuah bangsa selalu dimulai dan diakhiri dari perang dan perebutan kekuasaan.
Tesis Ibnu Khaldun yang ditulis pada abad 14 lalu, bukanlan asumsi apalagi fiksi. Keyakinannya berangkat dari pengamatan terhadap fakta sejarah yang berulang sejak peradaban manusia pertama dimulai di muka bumi.
Setidaknya, hal itu juga diyakini dan dipercaya oleh Presiden Prabowo, yang pernah mengingatkan bahwa intelijen asing memprediksi Indonesia akan punah pada tahun 2030. Apa yang disampaikan Prabowo di tahun 2018 lalu itu mengingatkan kita, bahwa hanya tersisa 4 tahun lagi maka Indonesia akan memasuki fase kelima, yaitu melemahnya ikatan solidaritas karena ketidakadilan.
Bila melihat dengan jujur dan nurani terdalam, fakta itu sepertinya sulit dibantah. Kita memang sedang menikmati kedamaian dan kesejahteraan, tapi rasanya penuh dengan ketidakadilan. Dalam banyak hal, mulai dari aspek ekonomi, sosial, hukum, pendidikan hingga kesehatan, kita merasa ketimpangan dan ketidakadilan yang merata.
Kekayaan dan kemakmuran yang didapat dari seluruh sumber daya alam bangsa ini, hampir sebagian besar hanya dinikmati segelintir orang dan kelompok. Bukan hanya menikmati, mereka juga memiliki kuasa untuk mengatur dan mengendalikan demi mempertahankan pengaruhnya.
Mereka ini, yang disebut oligarki, adalah wujud nyata dari tesis Ibnu Khaldun, bahwa penguasa berkonspirasi, atau menjadi alat, yang dikendalikan oleh elit oligarki untuk menikmati kemapanan dan kemakmuran. Bila kemapanan dan kenyamanan ini terus dipelihara oleh penguasa, maka mengacu pada tesis Ibnu Khaldun, bukan tidak mungkin reformasi jilid dua akan kembali terjadi.
Bukan hanya reformasi, tapi revolusi dan perjuangan solidaritas untuk melawan ketidakadilan, kesewenangan, dan keserakahan. Semoga saja semua itu tak terjadi dalam waktu 4 tahun ke depan.
Sebalinya, dalam 4 tahun ke depan kita terus berada pada fase kehidupan yang semakin membaik. Keadilan semakin terasa, akses pendidikan kian merata, kesehatan lebih terjangkau, dan kesejahteraan bisa dirasakan di seluruh pelosok negeri. Aamiin dan semoga.