Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Membangun Keakraban Keluarga di Wisata

admin • Kamis, 19 Februari 2026 | 22:13 WIB

 

Syaiful Bahri Djamarah
Syaiful Bahri Djamarah

             Oleh: Syaiful Bahri Djamarah
             Dosen PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Ke objek wisata tidak hanya untuk refreshing dan kesenangan, tetapi juga untuk membangun keakraban antara orang tua dan anak. Semakin sering orang tua membawa anak ke objek wisata semakin erat hubungan antara keduanya. Karena akrabnya hubungan orang tua dan anak, maka perilaku negatif anak semisal tawuran dan bullying dapat diubah menjadi perilaku positif.

Kenapa keakraban orang tua dengan anak perlu dibangun di objek wisata? Karena jika keakraban orang tua dengan anak tidak terbangun maka orang tua menghadapi persoalan yang serius dengan anaknya, yaitu anak kehilangan kasih sayang,  anak merasa bosan, anak memiliki jiwa yang hampa karena sering ditinggal sendirian atau sepanjang hari hanya bersama pembantu di rumah. Oleh karena itu, objek wisata adalah media yang ditawarkan di sini dalam upaya membangun keakraban antara orang tua dan anak.

Soal anak yang tidak akrab dengan orang tua sering kali sebagai pemicu hadirnya sikap dan perilaku anak yang negatif di ruang publik semisal tawuran antar pelajar, melakukan bullying, malas belajar, dsb.

Tawuran antar pelajar atau bullying yang dilakukan anak bukan tidak mungkin disebabkan tidak akrabnya hubungan orang tua dengan anak sehingga anak menghadirkan sikap dan perilaku negatif semisal tawuran atau bullying untuk menarik perhatian orang tua.

Orang tua yang hidup di perkotaan yang karena sangat sibuk dengan pekerjaan, pergi pagi pulang petang, hampir sepanjang hari tidak ada di rumah sering kali tanpa disadari telah membuat jurang pemisah, yaitu tidak akrabnya antara orang tua dan anak. Anak merasa tidak diperhatikan dan membuat anak  bosan berada di rumah. Akibatnya anak lebih banyak keluar daripada berada di rumah.

 Akan tetapi, bukan hanya bagi orang tua yang hidup di perkotaan yang jarang sekali bersama anak, dalam kasuistik tertentu juga ditemukan, bahwa orang tua yang sering ada di rumah pun memperlihatkan perilaku yang tidak akrab dengan anak.

Hal ini karena miskinnya interaksi antara orang tua dan anak sehingga komunikasi yang harmonis tidak terbangun. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya dan anak juga sibuk dengan aktivitasnya. Orang tua sangat jarang bercengkrama, bersenda gurau dengan anak.

Padahal, baik orang tua maupun anak pada saat yang sama ada di rumah. Sayangnya waktu dan kesempatan tidak dimanfaatkan untuk duduk bersama anak, bercengkrama, bersenda gurau, dan membicarakan segala hal tentang kebaikan.

Bagi anak, cinta dan kasih sayang orang tua di atas segalanya. Apalah artinya harta kekayaan ketika kehampaan jiwa dirasakan. Untuk apa hidup bersama dalam sebuah keluarga jika kering interaksi sosial antara anggota keluarga.

Untuk apa memiliki rumah mewah jika orang tua dan anak tidak akrab. Makan sendiri-sendiri, tidak  dalam satu meja, adalah suasana keluarga yang membosankan. Meskipun uang bisa membahagiakan, tetapi uang bukan segalanya. Uang juga berpotensi merenggangkan tali jiwa antara orang tua dan anak.

Kerawanan hubungan orang tua dan anak ini seharusnya tidak terjadi jika komunikasi yang harmonis terbangun antara orang tua dan anak. Maka dari itu, demi mengakrabkan hubungan antara orang tua dan anak perlu dibangun suasana keakraban berbasis komunikasi yang harmonis. Bila tidak, hal ini menjadi pangkal penyebab  anak  berperilaku negatif semisal tawuran antar pelajar, bullying, malas belajar, melakukan tindak kriminalitas, dsb.

Oleh karena itu, sudah waktunya orang tua menyediakan waktu dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengakrabkan dirinya dengan orang tua yang dia cintai dan sayangi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan orang tua adalah mengajak anak berwisata ke objek wisata.

Selama di objek wisata orang tua memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mendekati anak. Di sela-sela menikmati panorama dan keindahan objek wisata, kita manfaatkan untuk duduk sambil makan dan minum bersama anak. Berjalan bersama anak. Bercengkrama dan bersenda gurau. Membicarakan segala sesuatu yang terkait dengan persoalan pribadi anak. Pendek kata, meski sesaat, apa pun bisa dibicarakan bersama anak selama berada di objek wisata.

Dalam rangka membangun keakraban dengan anak, program ke objek wisata tidak mesti setahun sekali semasa liburan. Bahkan sekali dalam seminggu lebih baik daripada sekali dalam sebulan. Jauh atau dekat tidak masalah. Yang penting terbangun keakraban antara orang tua dan anak.

Secara teoritis, semakin sering kebersamaan antara orang tua dan anak semakin akrab antara keduanya. Jadi, berwisata bersama anak ke objek wisata tidak selalu harus menunggu masa liburan sekolah, cuti bersama atau masa libur karena hari besar keagamaan. Hari Sabtu atau Minggu bisa dijadikan hari libur keluarga untuk berwisata ke objek wisata dalam upaya membangun keakraban antara orang tua dan anak.

Demikianlah. Soal keakraban antara orang tua dan anak ini berkaitan dengan masalah hubungan kekerabatan. Secara sosiologis, hubungan kekerabatan antara orang tua dan anak dibagi dua, yaitu kekerabatan Biologis dan kekerabatan Psikologis.

Dalam konteks dinamika hubungan kekerabatan, maka hubungan kekerabatan Biologis tetap abadi meskipun hubungan kekerabatan Psikologis berfluktuasi. Hubungan kekerabatan Psikologis antara orang tua dan anak, karena hubungan jiwa, berpotensi semakin melemah jika antara orang tua dan anak jarang sekali bertemu. Dengan kata lain, jika tali jiwa  antara orang tua dan anak semakin renggang maka keakraban antara keduanya tidak terwujud.

Itu berarti keakraban antara orang tua dan anak dipengaruhi oleh kuat lemahnya hubungan kekerabatan di antara mereka. Semakin sering bersama-sama semakin erat tali jiwa, semakin akrab antara orang tua dan anak. Keakraban itu terjalin mesra berbasis cinta dan kasih sayang.

Oleh karena itu, objek wisata adalah wahana rekreasi, dengan fungsi refreshing dan edukasinya, mampu menghadirkan sebuah jalinan interaksi sosial untuk mengakrabkan hubungan kekerabatan antara orang tua dan anak.

Ketika di objek wisata kebosanan dan kehampaan jiwa anak adalah masa lalu. Itu terjadi karena orang tua telah membuka diri untuk duduk bersama anak di suatu tempat, bercengkrama dan bersenda gurau, sebagai solusi untuk mengeluarkan anak dari lembah kebosanan dan kehampaan jiwa.

Ketika hubungan yang akrab antara orang tua dan anak terbangun, maka orang tua telah menyelamatkan anak dari perilaku negatif seperti tawuran antar pelajar, bullying, dsb. Ini berarti orang tua telah menjaga anaknya dari api neraka. Allah memperingatkan: “Hai Orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (At-Tahrim: 66/6).

Akhirnya, berwisata ke objek wisata bukan sekadar mengisi waktu libur dan refreshing. Akan tetapi, untuk membangun keakraban antara orang tua dan anak. Semakin sering orang tua membawa anak ke objek wisata semakin akrab antara keduanya. Karena akrabnya perilaku negatif anak dapat diubah menjadi perilaku positif. Semoga. (*)

Editor : Arief
#Opini