Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sunarto: Bapak, Kakak dan Pimpinan Tanpa Keluhan

admin • Senin, 19 Januari 2026 | 19:17 WIB
Prof. Dr. Drs. Ersis Warmansyah Abbas, BA, M.Pd
Prof. Dr. Drs. Ersis Warmansyah Abbas, BA, M.Pd

     Oleh: Ersis Warmanyah Abbas 

BANJARBARU, Januari 1984. Saya datang ke Kalimantan Selatan sebagai anak muda dengan bekal keberanian lebih besar daripada pengetahuan. Dari udara, bentang alam yang luas terasa sekaligus menjanjikan dan menantang. Ini bukan sekadar tempat tugas baru, tetapi medan pembelajaran tentang hidup, tentang pengabdian, dan kelak tentang kepemimpinan.

Malam pertama saya habiskan di Banjarbaru, kota yang kala itu sunyi namun tertata, kota yang sejak awal terasa menyimpan masa depan. Keesokan harinya saya pindah ke Banjarmasin dan melapor ke Universitas Lambung Mangkurat. Air bersih sulit, fasilitas terbatas, tetapi semangat justru tumbuh dari kesederhanaan itu. Inilah masa-masa awal pembentukan diri, ketika keluhan seharusnya bukan pilihan.

Perjumpaan pertama dengan Pak Sunarto, kemudian saya memanggilnya Pak Narto, terjadi di Jurusan Sejarah FKIP ULM. Gedung lama bekas sekolah, dengan tiang-tiang yang bila disentuh bisa bergoyang. Dengan iseng khas anak muda, saya menggoyang salah satunya. Pak Narto keluar ruangan, tersenyum, dan memandang tanpa teguran. Tidak ada omelan, tidak ada amarah. Hanya senyum yang mengandung heran sekaligus penerimaan. Sejak saat itu saya tahu, saya berhadapan dengan sosok pemimpin yang tidak reaktif, tidak gemar menghakimi.

Saya datang dengan penampilan yang, untuk ukuran kampus saat itu, terbilang tidak lazim. Celana jeans, rambut panjang, bicara lugas tanpa banyak basa-basi. Pak Narto menerimanya apa adanya. Tidak ada upaya menundukkan, tidak ada tuntutan untuk menjadi orang lain. Yang penting satu: tanggung jawab akademik dijalankan.

Dari perjumpaan awal itulah saya mulai memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir lewat suara keras atau aturan yang menekan. Ada pemimpin yang memilih memberi ruang, mempercayai, dan membimbing tanpa keluhan. Pak Narto adalah contoh pertama yang saya jumpai dan yang jejaknya kelak menetap lama dalam ingatan dan cara saya memandang dunia.

Sebagai dosen baru, saya langsung diberi tanggung jawab mengajar beberapa mata kuliah dasar hingga kawasan. Kelas besar, mahasiswa lintas jurusan, usia kami tak terpaut jauh. Dinamika kelas kadang keras, kadang liar, bahkan pernah ada ekspresi protes khas anak muda yang hari ini mungkin terdengar berlebihan. Semua itu saya jalani tanpa drama, dan Pak Narto tidak pernah mempermasalahkannya selama tugas dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Di luar ruang kelas, relasi kami berkembang menjadi lebih personal. Saya kerap diminta datang ke rumah beliau. Dari sanalah keakraban tumbuh secara alami. Makan bersama, berbagi selera kuliner, hingga kebiasaan menonton bulu tangkis, olahraga yang sama-sama kami cintai. Rumah Pak Narto menjadi ruang aman, tempat berdiskusi tanpa rasa dihakimi.

Yang paling saya rasakan adalah penghargaan. Cara berpakaian, gaya bicara, bahkan kejujuran saya yang kadang terlalu lugas tidak pernah dipersoalkan. Jika tidak setuju, saya katakan tidak setuju. Jika makanan terasa asin, saya sampaikan apa adanya. Anehnya, relasi justru semakin hangat. Saya merasa diterima sebagai manusia utuh, bukan sekadar bawahan atau dosen muda yang harus selalu patuh.

Dalam diskusi-diskusi penting, Pak Narto memberi kebebasan berpendapat. Gagasan boleh diuji, bahkan disanggah. Namun ketika keputusan diambil, ia dijalankan dengan tenang. Dari beliau saya belajar: hormat tidak selalu lahir dari ketakutan, melainkan dari keteladanan dan konsistensi sikap.

Di balik sikapnya yang tenang, Pak Narto bukan pemimpin yang permisif. Ia memberi ruang, tetapi juga menuntut tanggung jawab. Disiplin akademik dijaga tanpa perlu suara tinggi. Keterlambatan kuliah tidak ditoleransi, tugas yang lalai berisiko berujung pada kegagalan. Prinsip itu saya terapkan sampai hari ini, dan Pak Narto tidak pernah menghalanginya.

Ia juga memberi dukungan penuh pada kerja intelektual. Menulis bukan dianggap gangguan, melainkan bagian dari pengabdian akademik. Ketika mahasiswa kesulitan literatur, kami mencari jalan keluar bersama. Buku difotokopi, dijilid seadanya, disusun di rumah beliau. Tidak ada fasilitas mewah, tetapi ada kemauan untuk memastikan proses belajar tetap berjalan.

Pak Narto menyimpan peralatan penjilidan sederhana, sesuatu yang mungkin terdengar remeh, tetapi bagi kami sangat berarti. Dari situ saya belajar bahwa keberpihakan pada ilmu pengetahuan tidak selalu membutuhkan kebijakan besar; sering kali cukup dengan sikap mau membantu secara konkret.

Ketika saya mengutarakan keinginan membuat jurnal, ia menyambutnya dengan antusias. Tidak ada kekhawatiran berlebihan, tidak ada kecurigaan. Menulis, bagi Pak Narto, adalah bentuk tanggung jawab akademik, bukan ambisi pribadi. Sikap itulah yang menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian intelektual. Modal penting bagi siapa pun yang ingin bertahan di dunia akademik.

Ujian terbesar relasi kami justru datang ketika saya menempuh studi S2 di Bandung. Saat itu status saya belum mapan sebagai PNS, sementara godaan hidup di kota besar terbuka lebar. Saya menulis di media, bekerja sebagai wartawan, bahkan membangun usaha. Penghasilan harian terasa jauh melampaui gaji bulanan sebagai dosen. Ada saat ketika pikiran untuk meninggalkan kampus dan pengabdian negara muncul tanpa malu-malu.

Pak Narto tidak marah. Ia memilih cara lain, mengingatkan. Berkali-kali surat dikirim agar saya kembali bertugas. Tidak ada ancaman, tidak ada kata keras, hanya tanggung jawab yang ia pikul sebagai pimpinan. Hingga akhirnya ia mengutus seorang sahabat untuk membujuk saya pulang. Di situlah saya tersadar, keputusan saya bukan hanya soal diri sendiri, tetapi juga beban moral yang harus ditanggung orang lain.

Saya kembali ke Kalimantan Selatan dengan perasaan bersalah. Namun Pak Narto menyambut tanpa keluhan. Tidak ada sindiran, tidak ada penghakiman. Ia menerima seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dari situ saya belajar bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari kemampuan menghukum, melainkan dari kesanggupan memulihkan.

Sebagai dekan, sebagai dosen, sebagai figur keluarga, Pak Narto tetap sama. Tenang, konsisten, dan tidak membebani. Ia mendukung langkah-langkah saya berikutnya di pemerintahan, di organisasi, hingga pendidikan doktoral, bahkan ketika ia tidak lagi berada dalam posisi formal. Dukungan itu tulus, tanpa pamrih.

Bagi keluarga kami, rumah Pak Narto adalah tempat kenangan. Anak-anak tumbuh dengan memanggilnya Kai, sosok yang mereka ingat lewat halaman sejuk dan suara burung. Dari sanalah mereka belajar tentang kehangatan, dorongan untuk belajar, dan harapan agar menjadi manusia yang lebih baik.

Kini, ketika saya menoleh ke belakang, saya paham, Pak Narto bukan hanya pimpinan, tetapi orang tua akademik yang membentuk karakter tanpa banyak kata. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tidak harus berisik, dan kepemimpinan tidak perlu penuh keluhan.

Doa terbaik saya panjatkan untuk beliau, sebagai guru, kakak, dan pemimpin yang memberi teladan dengan ketenangan. Jejaknya hidup dalam cara saya bekerja, mendidik, dan mengambil keputusan. Dan itu, bagi saya, adalah warisan yang paling berharga. (*)

Editor : Arief
#Opini